No.47

Sungguh berkesan sekali mereka berkeliling Kota Jakarta yang gemerlapan.

Intainews.com:MAKAN nasi goreng kambing, nasi kebuli, sate Madura bersama aneka minuman dingin lainnya, sekalipun di pinggir jalan di Kebon Sirih Jakarta, tidak mengurangi kelezatan dan kenikmatan. Ujang dipuji oleh Lies dan para ibu-ibu serta Haji Sardan termasuk Wak Toton, pintar mencari tempat makan enak. Di tengah mobil berseliweran, ramai namun teras santai.

Jakarta, kata Ujang menyediakan makanan apa pun yang ada di Indonesia ini. Jadi kalau punya uang gampang saja. Pida walaupun hanya makan nasi goreng pakai telor ceplok cukup nikmat. Pida mengacungkan jempolnya kepada Lies. Sahabatnya itu juga mengacungkan jempol untuk nasi goreng kambing. Pida membuka mulutnya lebar-lebar hingga giginya yang bersih dan lidahnya merah jambu terlihat oleh Ujang.

“Ak,…” kata Pida. Lies lalu menyuapkan nasi goreng kambing sesendok ke mulut pida yang menganga seperti anak burung kelaparan. Dia mengunyah dan menikmatinya.

“Enak Lies.”

“Ya sudah pesan saja.”

“ Ah mana abis satu piring.”

“Bagi dua, makan bareng tu sama Ujang.”

“Iya bang, mau Bang…” Ujang pun mengangguk lalu memesan nasi goreng kambing.

“Namanya nasi goreng kambing, tapi tidak terasa bau kambingnya,…” ucap Pida.

Sementara yang lain sudah menyelesaikan makan, tinggal Pida sepiring berdua dengan Ujang. Suasana itu membuat Ujang merasa ada sesuatu yang terselit di hatinya mengamati Pida. Dari Pida tersentuh hatinya. Pida juga merasakan seperti yang dirasakan Ujang. Tetapi sebagai wanita tabu menampakkan kalau dirinya menyukai Ujang. Pida berusaha biasa saja menutupi apa yang hinggap di hatinya terhadap Ujang. Sebagaimana Willyam Shakespeare mengatakan, ‘Cinta tidaklah bisa dilihat mata,…..

Usai makan, Haji Sardan memegang uang hasil patungan dengan Uwak Toton bersama istrinya dan Haji Sardan dengan istrinya, ditambah Mamanya Lies, juga Lies. Ujang memanggil pelayan, meminta bil. Begitu Ujang mengambil dompetnya, langsung saja Haji Sardan menyerahkan uang kepada pelayan.

“Tidak,…tidak biar saya yang bayar,” kata Ujang sambil membayar semua biaya yang mereka makan senilai Rp 200 ribu. Haji Sardan bersama Uwak Toton, terdiam. Luarbiasa,…Tini mendapat tempat yang sangat baik bagi dirinya. Orang-orang di lingkungan keluarga Dokter bukan hanya kaya, tetapi baik hati dan tidak pelit. Serupa dengan Tini yang sangat pengertian dengan teman dan saudaranya. Memang mereka bejodoh.

Seterusnya mereka menaiki mobil berkeliling Kota Jakarta, namun tidak bisa turun, karena tidak cukup waktu. Besok pagi-pagi sekali, mereka harus sudah selesai berdandan dan dijemput Ujang. Sungguh berkesan sekali mereka berkeliling Kota Jakarta yang gemerlapan. Ujang berjanji, usai pernikahan Tini, akan membawa mereka ke tempat yang diinginkan. *Bersambung