No.25

“Hatiku masih sakit. Apa yang mau kucapai semakin jauh,…jauh sekali, ” kata Tini meyakinkan teman-temannya.

Intainews.com:LIES bertanya kepada Pida, apakah dari kampus.

“Ya, dari mana lagi kalau enggak kuliah,” jawab Pida.

“Mana tau, kakimu panjang ke mana saja kau bisa,” kata Lies..

“Ah mana mungkin. Aku yang paling pendek di antara kalian, kakiku pun pendek,” kata Pida sambil membuka kulkas dan minum air dingin.

“Banyak minum air es Pid, badanmu makin bulat kayak kelinci…,” Tini ikut ngomong.

“Bulat pun aku cantik, banyak laki-laki suka sama aku, cuma aku yang tidak suka. Cowok tak jelas tinggalkan saja, buat apa dipelihara,…” ujar Pida acuh , dan mengambil duduk di kaki Tini. Memegang kaki Tini yang sudah semakin sehat.

“Kalau begini Lies, jadi kita berlibur sama Dokter Muslim. Pesannya, yang penting Tini sehat. Nah, Tini sudah sehat, pergilah kita berlibur….”

“Sepertinya senang sekali yang mau pergi berlibur,….ada apa Pid…?” Lies berusaha tahu bagaimana sebenarnya hubungan Pida dengan Dokter.

“Hoh! Apa kalian tidak suka berlibur dengan Dokter?”

“Bukan kami tak suka. Tapi kelihatannya kamu yang penuh semangat empat lima.”

“Namanya mau berlibur ya senanglah, apalagi ada yang mengajak. Kamu senang Tin,…”

“Aku menglair saja seperti air,…” jelasa Tini.

“Kami Lies,…semangat, tapi tidaklah semangat empat lima,…seperti kamu Pid.” Tiba-tiba Pida mengalihkan persoalan.

“Eh, tadi malam Dokter Muslim hubungi aku. Dia banyak bertanya soal Tini…” Lies melihat reaksi Tini.

“Ada apa aku dibawa-bawa. Paling-paling soal penyakitku.”

“Enggak, kayaknya serius.”

“Serius apa? Jangan kau main-main Pid.” Lies berdebar jantungnya dan mengalir perlahan cemburunya merasuki darahnya. Hatinya berkata, bisa jadi Dokter Muslim naksir si Tini.

Ya! Diakui Pida. Dokter berharap Tini lekas sembuh. Ibunya sudah terus meminta Dokter Muslim segera menikah. Kata ibunya usianya sampai kapan dia tidak tahu, dia sekali menggendong cucu. Dia-dia dia sudah mengirim ke ibunya foto Tini. Ibunya langsung setuju. Pida bercerita dengan meyakinkan. Lies kecil hati.

“Bagaimana Tin?”

“Hatiku masih sakit. Apa yang mau kucapai semakin jauh,…jauh sekali, ” kata Tini meyakinkan teman-temannya. * Bersambung