Donald Trump dan Presiden Iran Hassan Rouhani sedang meninjau program pengembangan. Foto Istimewa

Intainews.co:Iran mengatakan akan mulai memperkaya uranium di luar batas 3,67 persen yang telah ditetapkan. Peningkatan itu melampui batas perjanjian nuklir yang disepakati enam negara pada 2015. Iran selalu bersikeras melakukan program nuklir damai, bahkan ketika Amerika Serikat [AS] dan negara-negara lain mencurigainya mengembangkan senjata nuklir dengan kedok program sipil.

Pejabat Iran mengatakan, Iran sepenuhnya sudah siap memperkaya uranium pada tingkat apa pun dan dengan jumlah yang tak terbatas. Dengan begitu, Iran telah menentang upaya Amerika Serikat [AS] dalam menekan negara dengan sanksi dan memicu negara yang tergabung dalam kesepakatan nuklir 2015.

Hal itu mensosialisasaikan kembali kesepakatan nuklir 2015 atau dikenal dengan Joint Comperhensif Plan of Action (JCPOA) dengan sejumlah kekuatan dunia. Seperti dilansir Aljazirah, uranium adalah logam berawarna abu-abu keperakan yang berukuran kecil yang hampir dapat ditemui di mana-mana, tetapi jarang dalam bentuk kepadatan terkonsentrasi.

World Nuclear Association mengatakan tambang uranium beroperasi di sekitar 20 negara dunia saat ini. Sekitar setengah dari produksi global berasal dari hanya 10 tambang di enam negara, yaitu Kanada, Australia, Nigeria, Kazakhstan, Rusia, dan Namibia.

Uranium-235, adalah jenis uranium yang dapat disesuaikan dengan bahan bakar pembangkit listrik atau menghasilkan bom nuklir. U-235 dapat ditemukan di sekitar 0,7 persen dari bijih uranium yang ditambang, dengan 99,3 persen lainnya adalah Uranium-238 yang tidak memiliki kontribusi langsung untuk menghasilkan listrik atau bahan peledak.

Jadi untuk penggunaan praktis, kemurnian uranium perlu ditingkatkan. Berdasarkan kesepakatan 2015, Iran setuju memperkaya uranium tidak lebih dari 3,67 persen yang cukup untuk pembangkit listrik. Namun, itu jauh di bawah kemurnian 90 persen yang diperlukan untuk membuat bom nuklir.