No.29

Intainews.com:TINI melihat di handhponenya yang berdering. Nomornya tidak dikenal, sehingga tidak diangkat. Berulang-ulang nomor itu menghubunginya. Tini takut kalau-kalau polisi atau orang lain yang berniat buruk kepada dirinya. Tini hanya melihat saja HP yang terus menerus bordering. Kemudian mati.

Tidak lama, syukurlah tidak berdering lagi. Namun terdengar nada SMS masuk. Kali ini dibukanya, ternyata ustadz yang menghubunginya. Ah,… Tini urung membalas SMS ustadz itu. Terbayang olehnya bagaimana kejamnya Bunda ustadz yang memukuli dirinya seperti menghajar pencuri.

Namun hatinya tidak tega setelah tahu yang menghubungi dirinya ustadz. Tini tidak menjawab, dia hanya mendengar suara ustadz yang meminta maaf atas perbuatan Bundanya kepada Tini. Lalu ustadz bertanya tentang kondisi yang dialaminya.

“Tidak apa-apa ustadz, sudahlah,.. Saya yang harus meminta maaf, karena saya Bunda ditahan polisi,” kata Tini sambil berkaca dicermin melihat pelipisnya biru dan bengkak. Bibirnya juga bengkak. Belum lagi bagian perut dan dadanya yag sakit ditendang Bunda.

“Sudahlah, jadilah pemaaf,” kata ustadz lembut. Namun Tini hanya mendengar apa-apa yang dikatakan ustadz. Kemudian Tini menangis setelah dia membayangkan, kandaslah sudah harapannya untuk bisa hidup bersama dengan ustadz. Ustadz terus memberi tausiyah.

“Sudahlah. Jangan menangis Tini. Menangis tidak akan menyelesaikan masalah yang kita alami.” Tini menangis terisak-isak dan sesegukan.

“Sudah ya ustadz,…terimaksih…” Tini memutuskan hubungan pembicaraan dengan ustadz.

Baru saja Tini memutuskan pembicaraan dengan ustadz. Bu haji masuk ke rumah Tini sambil memperhatikan Tini yang menangis. Tini berfikir, mungkinkah Bu Haji mendengar pembiraanya dengan ustadz.

“Tin, kenapa menangis. Adakah yang sakit hingga tak tertahankan harus menangis?” Bu Haji mendekat dan memeluk Tini bagaikan anak sendiri. Kembali tangisnya asemakin kuat saat Tini membayangkan Bu Haji adalah orangtuanya. Bu Haji membelai-belai rambut Tini yang hitam lebat.

“Besok pagi-pagi saya pergi ke kota. Tidak mungkin saya tetap di sini,” tutur Tini dengan   terus berurai air mata.

“Sebaiknya jangan tinggalkan kampung ini Tin, cobalah bicarakan nanti dengan Pak Haji. Siapa tahu ada jalan terbaik.”

“Tidak Bu, masa depan saya sudah tertutup di sini,” ujar Tini sambil menghapus air matanya yang terus berderai membasahi pipi.

“Cobalah kita tunggu ustadz, mintalah nasihatnya.”

“ Tidak,…tidak Bu,…segalanya sudah tidak mungkin lagi. *Bersambung.