Anggota DPRD Kota Medan Dhiayul Hayati

Medan-Intainews.com:Belakangan masyarakat muslim resah terkait beredarnya kerupuk jangek dari bahan kulit babi. Produk terlarang bagi umat muslim itu tanpa diberi tanda terlarang untuk dikonsumsi masyarakat beragama Islam.

Anggota DPRD Kota Medan Dhiayul Hayati minta agar dinas terkait turun ke lokasi dan melakukan tindakan tegas. Informasi dihimpun Intainews.com, Selasa 12 November 2019, menurut Dhiayul Hayati petugas terkait yang berkompeten terhadap keberadaan kerupuk jangek dari kulit babi ini harus memeriksa, mengklarifikasi kemudian membuat regulasi terkait produksi jangek berbahan kulit babi tersebut.

Hal ini tegasnya, dilakukan agar masyarakat muslim tidak terkecoh dengan kerupuk jangek yang diharamkan bagi warga muslim. Karena, lanjut penasihat Fraksi PKS DPRD Medan, kerupuk jangek dari kulit babi itu bagian dari produksi, artinya harus ada perhatian penuh dari Dinas Perindustrian, Perdagangan maupun Kesehatan.

“Ini persoalan serius. Sebab di Medan ini warganya mayoritas muslim. Jadi hal ini perlu direspon cepat oleh dinas terkait,” tegas Dhiyaul Hayati yang akrab disapa Diah.

Jika makanan tersebut memang diproduksi berbahan dasar kulit babi, sambung Diah harus dijelaskan di kemasannya bahwa kerupuk jangek tersebut adalah berasal dari kulit babi. Sama halnya dengan beberapa masyarakat non muslim yang membuka warung bakso babi di kawasan Padang Bulan.

“Jelas-jelas mereka membuat bakso babi, sate babi. Dan ini harus dijelaskan bahwab berasal dari bahan babi. Buat saja di bungkusnya kerupuk jangek babi dan lainnya. Sehingga masyarakat muslim jadi tahu dan tidak terkecoh untuk mengonsumsi kerupuk jangek haram itu,” tegas Dhiayul Hayati.

BPOM Berhak Menari Produk….

Diungkapkan Diah, keresahan warga terait hal itu terungkap saat Ustaz Fuad Sinaga mengisi pengajian di Simpang Pemda. Kum bapak yang mengikuti pengajian menyampaikan keresahannya terkait beredarnya kerupuk jangek diolah dari kulit babi yang diproduksi di lingkungan mereka.

“Masyarakat melalui Kepling merasa keberatan dengan keberadaan home industri tersebut. Kepling sudah tahu karena masyarakat juga sudah mengadu ke Kepling. Dan sekarang informasi ini sudah sampai juga DPRD Medan,” katanya dan menambahkan, produksi jangek kulit babi tersebut di Jalan Flamboyan Raya Gang Mawar Lingkungan XII Kelurahan Tanjung Sari, Kecamatan Medan Selayang.

Kepada Intainews.com, Kepala Dinas Perdagangan Damikrot SSos mengaku tidak mengetahui ada warga yang memproduksi kerupuk jangek babi dan sudah beredar ke tengah masyarakat bahkan sudah membuat resah.

“Sebenarnya kita wajib memproduksi makanan halal. Saya baru dengar ini [jangek kulit babi]. Kita akan koordinasikan kepada BPOM terkait produk jangek babi ini. Karena yang berhak menarik adalah BPOM. Ini menjadi masukan dan akan kita koordinasikan,” tukasnya. *Ipc-03