Dadang Darmawan Pasaribu. Foto Istimewa-4

Medan-Intainews.com:Wartawan mendatangi Walikota Medan Dzulmi Eldin, di gedung DPRD Kota Medan, Senin [5/8] usai membahas KUAPPS RAPBD 2020. Wartawan ingin bertanya soal keseriusan Eldin tidak maju lagi mencalonkan diri di Pilkada Walikota Medan 2020.

Namuun Eldin yang dikawal Satpol PP dan pagar betis scurty DPRD Medan, menyebabkan terjadi wartawan didorong dan ditarik hingga wartawan perempuan yang terjepit berteriak. Manurut insan media, Eldin memang jauh dan enggan ditanya wartawan.

Terkait hal itu, menurut pengamat Sosial Dadang Darmawan Pasaribu, kepada Intainews.com, Selasa 6 Agustus 2019. Kalau Eldin tidak mencalokan lagi sudah tepat, bagus itu. “Masyarakat Kota Medan lebih menginginkan pemimpin baru yang mampu membawa Medan lebih baik,” kata Dadang.

Banyak hal yang membuat warga Medan kecewa, lanjut Pasaribu, soal sampah, jalan berlubang di kota yang membuat Presiden Jokowi marah, banjir yang tak selesai, parkir liar, bangunan tanpa IMB dan lainnya,” ungkap Dadang Darmawan, Dosen FISIP USU.

Walikota dikerumuni scurity dan sulit diwawancarai

Bisa juga, lanjut Dadang, dirinya tidak mencalonkan diri lagi cuma strategi saja. Setelah ada yang menggadang-gadang baru, dikatakannya atas permintaan warga kembali mencalonkan. Padahal masyarakat sudah tidak suka dengan kepimpinannya selama ini.

“Selain itu bisa jadi Dzulmi Eldin tidak mencalonkan lagi, karena dirinya sadar sebagai petahana yang bakal dijadikan ATM orang-orang dan kelompok berkepentingan. Namun sebaiknya tidak usah maju lagi, sulit menghadapi masyarakat yang kecewa,” jelas Dadang Pasaribu.

Menanggapi soal pengawalan ketat, menghalang-halangi wartawan wawancara dengan Walikota, menurut Dadang hal itu bentuk-bentuk menjauhkan diri dari masyarakat. “Itu merupakan sifat aslinya. Kalau Jokowi mendatangi rakyat dan wartawan, ini malah menciptakan eksklusifisme, “ ujar Dadang Pasaribu pengarang Buku bertajuk ‘ Kita Telah Mati’. *Inc-03