Rajudin Sagala. Foto Istimewa

Medan-Intainews.com:PLN yang menjelang Ramadan menyebut, selama Ramadan listrik non-stop selama 24 jam. Faktanya listrik mati dinihari saat masyarakat muslim sedang sahur. Hal itu membuat masyarakat yang marah dan kecewa melampiaskan melalui media sosial.

Menurut anggota DPRD Medan Rajudin Sagala, kepada wartawan, terkait padamnya aliran listrik pada Kamis 9 Mei 2019 dini hari hingga subuh menyebutkan, harusnya PLN bisa menjaga dan memastikan agar aliran listrik tetap menyala selama bulan Ramadan.

Terlebih lagi ketika malam hari hingga menjelang subuh. Karena pada waktu-waktu tersebut, disebutkan Rajudin yang politisi PKS ini, umat Islam sedang menjalankan ibadah. Jika beralasan ada kerusakan, harusnya ada perawatan intensif.

Mengenai padamnya listrik karena ada kerusakan dan butuh perawatan, Rajudin menuturkan harusnya perawatan tidak dilakukan saat bulan Ramadan. “Janganlah ada alasan Perusahan Listrik Negara (PLN) mengatakan itu perawatan. Masak bulan Ramadan perawatan terus. Kok tiap tahun listrik mati di bulan Ramadan?,” ungkap Rajudin dengan nada tanda tanya.

Oleh sebab itu, Rajudin mengajak PLN untuk melakukan evaluasi pasca pemadaman jelang sahur tersebut. “Ini harus dievaluasi agar tidak lagi timbul pemadaman listrik selama Ramadan,” tandasnya.

Terpisah, Manager Komunikasi PLN UIW Sumatera Utara Rudi Artono, dalam siaran persnya mengatakan padamnya listrik jelang sahur itu disebabkan kerusakan terjadi pada Current Transformer (CT). CT merupakan peralatan yang mengubah besaran arus dari besar ke kecil ataupun sebaliknya sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan, dengan arus 150kV.

Sambungnya, beberapa Pembangkit seperti PLTU Nagan Raya 1 dan 2, PLTU Pangkalan Susu 2, PLTGU Belawan, ST 2.0, PLTG Marine Vessel Power Plant dan Belawan, serta PLTD AKE mengalami trip atau padam terpaksa dan harus dilakukan recovery dengan waktu yang cukup lama. “Sedang dilakukan pemulihan bertahap, mohon maaf jika waktu sahur menjadi terganggu,” tutur Rudi. *Inc-03