Maimunah penjual keripik bersama Saskiah
Maimunah penjual keripik bersama Saskiah

Siantar-Intainews.com:Sejak umur dua bulan bayi dalam gedongan Maimunah Daulay,turut merasakan kerasnya kehidupan.Saskiah nama bayi tersebut, usianya sekarang sudah 1,2 tahun, seharusnya bayi seumur Saskiah tidur pulas di atas kasur seperti bayi yang lainnya, pada saat jam tidur sore.

Karena himpitan ekonomi,Maimunah terpaksa membawa saskiah berjualan kripik, walau berat hati, tapi itu kenyataan hidup yang harus dilakukannya.Mulai jam dua siang Saskiah sudah dalam gendongan ibunya berangkat menuju Pasar Horas untuk berjualan.
Maimunah, adalah istri Asbi Harahap (34) buruh bangunan, yang berpenghasilan paspasan.Kondisi itu membuat Maimunah berkerja untuk meringankan beban suaminya.

“Anak kami lima pak, suami saya buruh bangunan, penghasilan suami saya paspasan, untuk menutupi biaya anak sekolah saya bantu dengan berjualan, hasilnya lumayan juga pak,” tutur Maimunah Senin (22/01/2018) di teras lantai satu gedung tiga Pusat Pasar Horas Jaya Kota Pematangsiantar.

Tanpa di balut kaus kaki, tubuh tanpa selimut hanya balutan kain gendongan sesekali suara rengekan Saskiah terdengar.Mungkin rengekan Sakiah merasa kedinginan atau meminta sesuatu, suara rengekan Saskiah terhenti sejenak ketika usapan jemari Maimunah mengelus tubuhnya.

Maimunah mengeluti pekerjaan sebagai penjual keripik sudah setahun,” saya berjualan sudah hampir setahun, anak saya ini masih umur dua bulan, sekarang umur anakku sudah satu tahun dua bulan,” kata Maimunah.

Melihat kondisi Maimunah, sementara Suaminya Asbi Harahap yang kerjanya buruh bangunan, ditambah lagi tempat tinggal masih menumpang di rumah orang tua, sepantasnya mereka tercatat penerima berbagai bantuan sosial dari Pemerintah.

Kenyataannya, tiga anaknya yang sudah duduk di bangku Sekolah Dasar, Dani Ismail (11) duduk di bangku kelas 5 SD, Ahmad Refai (10), kelas 4 SD, Nur Hidayah (8) kelas 2, belum pernah menerima berbagai bentuk bantuan, baik Kartu Indonesia Sehat (KIS), Program Keluarga Harapan (PKH), BPJS pun tidak punya.

“Kartu pintar, kartu sehat nggak dapat, di tanya lurah Sinaksak bermarga Harahap, katanya data penerima sudah ditentukan dari pusat, sekarang lurahnya sudah diganti,saya gak mau lagi nanya ke sana pak,” sebut Maimunah.*Inc-01