Walikota Gunungsitoli Ir Lakhomizaro Zebua

Catatan Irwanto Hulu

Gunungsitoli-Intainews.com:Kepada sejumlah media Walikota Gunungsitoli Ir Lakhomizaro Zebua mengklaim 80 sampai 90 persen warga Kota Gunungsitoli sudah menerima bantuan kompor dan LPG. “Sesuai rapat terakhir, 80-90 persen warga Kota Gunungsitoli sesuai data dari Kementerian ESDM telah menerima bantuan LPG dan kompor,” ucapnya, Senin 25 Februari 2019.

Namun dia mengakui masih ada warga yang belum menerima, karena warga tersebut tidak memberikan data saat pendataan dan tidak mau menerima karena ada rasa takut dan tidak mau menggunakan kompor gas dan bukan karena pemerintah Kota Gunungsitoli tidak peduli.

Pemko Gunungsitoli juga menurut Wali Kota sudah menyurati agen agar rencana penghentian penyaluran minyak tanah bersubsidi ditunda hingga bulan Juni karena masih ada masyarakat yang belum menerima bantuan kompor dan lpg serta belum siap menggunakan gas.

“Kita sudah minta ditunda, tetapi semua tergantung dari pusat, sebab kebijakan konversi gas adalah kebijakan pusat dan bukan kebijakan pemerintah daerah yang ada di kepulauan nias,” jelasnya. Warga Kota Gunungsitoli diharapkan untuk ikut mensukseskan program pemerintah pusat, dan menyesali pernyataan yang mengatakan pemko Gunungsitoli tidak peduli.

Foto Istimewa

Menurut Herman, jumlah keluarga di kota Gunungsitoli berdasarkan data pusat sebanyak 33.070 keluarga, tetapi tabung gas yang diterima di Kota Gunungsitoli hanya sebanyak 27.340 tabung. “Dari jumlah itu, masih ada ribuan keluarga di Kota Gunungsitoli yang belum mendapat kompor dan tabung gas,” terangnya.

Herman menyesali hal tersebut, dan dia berasumsi jika anggota DPRD dan walikota belum menerima bukan sebuah masalah serius, tetapi sebagian besar yang belum menerima adalah masyarakat miskin. Dia meminta Pemko Gunungsitoli untuk peka, karena harga tabung gas yang sebesar Rp180 ribu sangat memberatkan bagi warga miskin, apalagi ditambah pembelian kompor gas.

“Uang Rp 180 ribu merupakan nilai yang sangat besar bagi masyarakat yang kerja sebagai penarik becak, buruh, petani dan nelayan ditengah tengah lesunya ekonomi dan rendahnya harga karet saat ini,” ujarnya.