No.9

Intainews.com:BERSAMAAN dengan menyuap nasib ke mulutnya, Lies bertanya di mana rumah ustadz yang ganteng dan hebat itu. Apakah bisa ke sana untuk sekadar melihat dia. Pida setuju dengan Lies untuk melihat ustadz setelah mendengar pujian Tini. Caranya, kata Pida, kita pura-pura ke warung atau ke mana saja yang penting liwat di depan rumahnya. Tini tidak bicara, hatinya berkata dirinya baru saja bertemu dengan Ustadz Daham yang memintanya menunda untuk pergi ke kota.

Pida dan Lies bisa merasakan Tin tertarik dengan ustadz itu. Walaupun sebenarnya belum pasti kalau ustadz pendidikan Kairo itu jatuh hati dengan Tini. Bisa saja hanya perasaan si Tini saja, ‘cinta semangka’, kita cinta orang tak suka. Jadi menurut Pida, masih banyak peluang untuk bersaing mendapatkannya, karena si ustadz Kairo itu belum melihat aku.

“Jangan kau salah langkah Pid, dalam persaingan yang kita ciptakan ini, dia akan memilih aku,” kata Lies sambil berdiri berputar-putar seperti putri raja menunjukkan dada dan pinggulnya.

“Kalau soal menarik, bukan karena badanmu tinggi dan wajah yang cantik. Badanku sedang-sedang saja, tapi aku yakin dia suka gadis hitam manis dan wajahku seperti keturunan India,” Pida memamerkan bentuk tubuhnya seperti foto model. Sambil menyanyikan sepotong syair lagu India.

Tini hanya tersenyum sambil mengangkat pinggan, mangkuk, gelas-gelas ke dapur. Dibiarkannya dua temannya berdebat soal menarik perhatian ustadz Daham.

“Hei, Tin, kau tidak ikut dalam perlombaan ini?” Pida menarik lengan Tini agar memamerkan gayanya.

“Buat apa dia ikut perlombaan, dia sudah merasa mendapatkan,” ujar Lies dengan ketus, yang segera disanggah Pida.

“Siapa bilang dia yang mendapatkan. Sebelum tegak tenda biru dan janur kuning penjor melengkung, segalanya masih memungkinkan terjadi,” Pida meyakinkan. Tini, hanya tertawa kecil melihat tingkah teman-temannya yang terkenal kocak. Inilah yang membuat hubungan mereka akrab sejak di bangku SMA.

“Tin, mengapa diam saja. Apa betul kau sudah mendapatkan laki-laki yang hebat itu.”

“Ah, manalah dia mau sama aku. Kalau kalian ialah, cocok untuk dipilihnya. Pida gadis ke-India-Indian. Lies bentuknya seperti gadis Israel, cantik dan kulitnya putih halus,“ kata Tini.

“Heh! Pida kenapa dibilang seperti gadis Israel, bentukku seperti gadis Palaestina,…”

“Hei Tin, jangan kau dengar itu. Di antara kita bertiga ini, dari dulu sudah kubilang kaulah yang paling cantik, ke-Arab-Araban, seperti Cleopatra,” kata Pida meyakinkan.

“Ah, mana ada itu. Dari dulu kerja kalian memuji-muji anak kampung seperti aku ini supaya betah menjadi teman kalian,” ungkap Tini sambil tersenyum kecil.

Kalau sudah begitu, keduanya segera menyerbu ke Tini. Memeluknya kuat-kuat, minta maaf sebelum muncul rasa kecil hatinya dan minder. Lalu mereka turun dari rumah bersama menuju warung yang meliwati rumah Ustadz Daham. *Bersambung