No.7

Intainews.com:HAJI Sardan membawa Ustadz Daham ke rumahnya. Sekaligus mengatakan kepada istrinya untuk memanggil Tini agar membantunya menyiapkan makan siang bersama ustadz. Istri H Sardan mengerti dan tidak pernah membantah suaminya sekalipun. Sudah limabelas tahun hidup bersama H Sadran dilalui, tanpa momongan, namun segalanya dihadapi dengan baik-baik saja, tidak sedikit pun ada komplain darinya. Segalanya Allah Swt yang mengaturnya.

Ustadz Daham mengatakan tidak usah sibuk menyiapkan makanan, yang ada saja. Haji Sardan menjelaskan semuanya berjalan seperti biasa, tidak ada yang berlebihan. Apapun itu dalam kehidupan ini, berlebih-lebihan itu tidak baik. Ustadz Daham mengangguk sambil tersenyum. Tak lama, terdengar suara Tini mengucapkan salam, dia sudah datang, menyalami ustadz menunddukan kepala dan menyalami Haji Sardan. Lalu Tini ke belakang membantu Bu Haji.

Kebetulan teman dari Medan belum datang, jadi Tini punya waktu membantu Bu Haji menyiapkan makanan siang di dapur. Udang dan kepiting yang sudah dimasaknya sekalian dibawa untuk dimakan bersama. Tak pakai lama, segalanya sudah terhidang di atas tikar merah jambu terbentang. Mereka makan bersama. Bu Haji menyebut masakan Tini, udang goreng belado dan sup kepiting. Bu Haji menumis kangkung dan menggoreng telur dadar. Ustaz Daham memuji menu makanan siang ini lezat rasanya, Alhamdulillah.

Berulangkali Daham melirik ke arah wajah gadis sekampungnya, Tini. Gadis itu tahu dirinya diperhatikan oleh ustadz yang dikaguminya. Sambil menyuap nasi Tini tak dapat membohongi batinnya yang bergetar dan darahnya berdesir ingin mendapat perhatian lebih dari Ustadz Daham. Usai makan siang bersama, setelah mengemasi pinggan dan mangkok sup, Daham bertanya kepada Tini yang didampingi Bu Haji.

“Maafkan saya kalau informasi ini salah. Saya dengar hari ini dik Tini mau ke kota.”

“Ya ustadz, benar. Saya mau kuliah, meneruskan pendidikan.”

“Rencananya kuliah di jurusan apa?”

“Jurusan komunikasi, ustadz.”

“Di kota tinggal dengan siapa?”

“Tidak tahu ustadz, rencanya mau kos saja.”

“Kalau tidak ada yang dikenal dekat, tidak bagus untuk anak gadis sepertimu Tini,” kata Bu Haji menyela dialog Tini dan Ustadz Daham, dan Haji Sardan menguatkan pendapat istrinya.

Mendengar itu Tini diam tertunduk dan sekilas memandang ke arah ustadz Daham, seakan minta fatwa apa yang harus dilakukan.

“Apakah hati dik Tini sudah benar-benar kuat untuk belajar?”

Tini mengangguk. Ustadz menjelaskan, nawaitu (niat) yang paling penting. Kalau itu sudah cukup kuat, Allah Swt akan membantu. Tetapi tidak ada salahnya untuk berhati-hati, dan sangat baik mecari induk semang dulu yang bisa menggantikan orangtua kita di rantau orang, untuk tempat mengadu dan bertukar fikiran.

“Kapan mau berangkat ke kota?”

“Sore ini ustadz, tinggal menunggu dijemput teman.”

“Kalau bisa ditunda dulu beberapa hari ini, saya coba menghubungi teman kuliah saya di Kairo, insya Allah bisa menerima kamu. Teman saya ini wanita yang sangat baik hatinya,” begitu tutur ustdaz. *Bersambung