Salah satu Rumah Tunggu Kelahiran (RTK) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Gayo Lues yang disewa.

Gayo Lues – Intainews.com: Anggaran Rumah Tunggu Kelahiran (RTK) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Gayo Lues tahun 2019 senilai Rp1,9 milliar dipertanyakan. Pasalnya, biaya keseluruhan sewa rumah atau ruko untuk 5 unit RTK tahun 2019 hanya berjumlah Rp150 juta pertahunnya.

Kepala Dinas Kesehatan Gayo Lues, Purnama Abadi melalui Kabid PSDK, Salihin didampingi Erna selaku PPTK saat dikonfirmasi sejumlah awak media mengatakan, biaya menyewa rumah atau ruko perunitnya bervariasi, seperti Aceh Tenggara pertahun senilai Rp30 juta, Banda Aceh Rp35 juta, Aceh Tengah (Takengon) Rp30 juta, Blangkejeren Gayo Lues ada yang Rp25 juta dan ada juga yang Rp30 juta.

“Dikontrak seperti itu, kan ada kontraknya. Itu yang kami sewa isinya lengkap ada peralatan dapur, ruang tamu, tempat tidur dan kasur juga ada, anggarannya bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK),” katanya, Rabu (18/3) di ruang kerja kepala dinas.

Ditanya berapa ruko/rumah yang dikontrak tahun 2019 untuk RTK, pada 2019 lalu Dinas Kesehatan Gayo Lues menyediakan 5 unit rumah/ruko untuk RTK di beberapa wilayah seperti Banda Aceh 1 unit, Takengon 1 unit, Gayo Lues 2 unit dan Aceh Tenggara 1 unit.

“Yang kita kontrak ruko tapi ada juga yang rumah pribadi semi permanen, bahkan ada hotel yang dijadikan ruko,” jelasnya.

Ternyata ketika ditanya berapa pasien yang menginap pada RTK Blangkejeren dan lainnya tahun 2019 lalu, ia mengaku pasien menginap masih tergolong minim, dikarenakan tidak adanya dokter spesialis ditempat, sementara untuk RTK Aceh Tenggara pertahunnya hanya 60 lebih pasien yang sempat menginap.

“Kebanyakan pasien hanya singgah di RTK Blangkejeren dan meminta rujukan ke Aceh Tenggara atau ke Takengon, Aceh Tengah, kita ada buku tamunya, terus kita mintai foto copy KK dan KTP-nya juga,” jelas Salihin.

Jika ada pasien yang menginap, tambahnya, pihaknya akan memberikan makan minum, menyiapkan P3K dan menyediakan tranportasi antar jemput untuk pasien serta alat oksigen jika diperlukan. Namun anehnya, di RTK tersebut tidak menyediakan obat-obatan untuk pasien yang menginap saat menunggu melahirkan selain obat P3K.

“Obat-obatan tidak kita sediakan dikarenakan uang tidak ada, cuma kalau ada keperluan mendadak seperti P3K ada kita sediakan,” ujarnya.

Yang menjadi pertanyaan banyak pihak, anggaran Rp1,9 milliar untuk tahun 2019 hanya diperuntukkan biaya menyewa rumah atau roko, makan minum, tranportasi antar jemput dan gas oksigen, berarti masih banyak dana yang tersisa yang bisa dipergunakan untuk hal yang bersifat penting dan menyangkut RTK itu sendiri. Inc – rel