Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Edy Rahmayadi bersama Wakil Gubernur Sumut Musa Rajekshah menghadiri acara Seminar Nasional Deradikalisasi dan Moderasi Beragama dalam rangka Dies Natalis ke-46 Universitas Islam Negeri (UIN) Sumut, di Gelanggang Mahasiswa, Kampus I UIN SU, Jalan Sutomo, Medan, Selasa (26/11/2019). (Foto Biro Humas dan Keprotokolan Setdaprovsu : Veri Ardian)

Medan-Intainews.com | Pancasila adalah konsensus dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal tersebut sudah final dan tidak dapat diubah. Jika berubah, maka NKRI akan berubah pula.

Hal itu ditegaskan Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Edy Rahmayadi saat memberi sambutan pada acara Seminar Nasional Deradikalisasi dan Moderasi Beragama dalam rangka Dies Natalis ke-46 Universitas Islam Negeri (UIN) Sumut, di Gelanggang Mahasiswa, Kampus I UIN SU, Jalan Sutomo, Medan, Selasa (26/11).

“Bagi bangsa Indonesia, Pancasila sudah final sebagai konsensus dasar berbangsa dan bernegara, orang-orang tua kita (pendiri bangsa) dulu mengamanahkannya, jadi kita harus melaksanakannya,” kata Gubernur di hadapan ribuan mahasiswa yang hadir.

Acara yang dirangkai dengan Maulid Nabi Muhammad SAW tersebut dihadiri Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD, Rektor UIN Sumut Saidurrahman, Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional Agus Widjojo, Wakil Gubernur Sumut Musa Rajekshah, Wakapolda Sumut Mardiaz Kusin Dwihananto, Tuan Guru Batak Syekh Ahmad Sabban el Rahmaniy Rajagukguk, Ketua FKUB Sumut Maratua Simanjuntak, Tokoh masyarakat Sumut Rahmat Shah.

Edy Rahmayadi mengatakan, Indonesia merupakan negara dengan banyak keragaman. Mulai dari pulau hingga etnis yang mencapai ribuan jumlahnya. Pancasila adalah konsensus dasar yang tepat. Untuk itu, nilai-nilai Pancasila harus menjadi gerakan nasional yang terencana dengan baik. “Meski kita berbeda, jika kita bersama, kita akan mampu menjadi bangsa yang besar dengan Pancasila,” katanya.

Selain Pancasila sebagai konsensus pertama berbangsa dan bernegara, Gubernur juga menyebut beberapa konsensus yang perlu dipahami oleh seluruh masyarakat. Di antaranya bhineka tunggal ika, UUD 1945, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. “Keempat konsensus dasar tersebut tidak bisa dipisahkan satu sama lain,” katanya.

Gubernur mengharapkan, seminar nasional tersebut dapat menjadi pengingat sekaligus inspirasi bagi generasi muda mengenai dasar negara. Namun tidak sampai di situ, Pancasila juga harus diimplementasikan. “Diharapkan nilai-nilai Pancasila dapat diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara demi Sumatera Utara yang bermartabat,” ujarnya.

Mengenai Pancasila dan agama, Menko Polhukam Mahfud MD mengatakan negara Pancasila bukanlah negara yang inklusif dalam beragama. “Negara tidak memberlakukan hukum agama, tapi melindungi setiap warga negara yang ingin melakukan ajaran agamanya masing-masing,” ujar Mahfud.

Usai acara, Mahfud MD bersama Gubernur dan rombongan menuju lapangan yang sudah dipenuhi ribuan mahasiswa. Di sana, Mahfud mengajak para mahasiswa bersalawat untuk Rasulullah Muhammad SAW. Karena salawat juga merupakan pesan kedamaian. “Kalau Anda memang cinta Rasulullah, cinta salawat, maka cintailah kedamaian,” ucapnya.

Sementara itu, Tuan Guru Batak Syekh Ahmad Sabban el Rahmaniy Rajagukguk menegaskan nasionalisme tidak bertentangan dengan ajaran agama. Menurutnya jihad agama adalah bagaimana menanamkan rasa cinta dan persaudaraan dengan sesama anak manusia.

“Ketakwaan sejati itu dekat pada Tuhan dan dekat dengan sesama anak manusia, ini penting ditanamkan pada kita,” kata Tuan Guru Batak.

Sebelumnya, Rektor UIN Sumut Saidurrahman mengatakan kegiatan seminar nasional deradikalisasi dan moderasi beragama tersebut diharapkan dapat mendorong semua pihak untuk bersama-sama menekan penyebaran paham radikal di masyarakat. Serta mengutamakan dakwah kebangsaan yang humanis dan penuh rasa cinta.

Seminar yang tersebut diisi oleh berbagai narasumber. Di antaranya Menkopolhukam RI Mahfud MD, Gubernur Lemhanas RI Agus Widjojo, Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Romo Antonius Benny Susetyo, serta Tuan Guru Batak Syekh Ahmad Sabban el Rahmaniy Rajagukguk. “Kalau bukan karena cinta, Pak Mahfud MD dan seluruhnya tidak hadir di sini,” katanya. * inc-mgl