Dr H OK Edy Ikhsan, SH

Medan-Intainews.com:Beberapa tahun belakangan ini, kita meridukan sosok pemimpin kota Medan yang totalitas bekerja untuk membangun kota ini. Kita rindu dengan sosok Risma di Surabaya. Medan hari ini menjadi kota yang tak layak untuk dihuni.

Jalan yang berlubang di sana sini, tumpukan sampah di setiap pojok kota dan terkadang berserakan di jalan raya. Banjir yang tak kunjung usai, walaupun pekerjaan membangun drainase tak pernah henti sepanjang tahun. Pajak Bumi dan Bangunan yang mahal tapi “pungutan” siskamling tetap tinggi pertanda kota ini tidak aman.

Ini adalah segelintir keadaan kota Medan hari ini, pertanda ia sebagai kota yang semakin hari semakin tidak nyaman untuk dihuni. Apakah ini ada hubungannya dengan pemimpin dan kepemimpinan?Ya, pasti.

Karakteristik pemimpin dan kepeminpinan dalam satu organisasi sangat menentukan jalannya roda organisasi berikut capaian-capaianya. Guru besar USU Prof Dr OK Saidin kepada wartawan, Sabtu 18 Mei 2019 menyebutkan tertulis, apa yang dihadapi oleh banyak kota-kota besar hari ini adalah “kegagalan” nya dalam memobilisasi berbagai potensi yang ada di sekitarnya.

Kota Medan menyembunyikan banyak potensi yang jika dimobilisasi dengan baik, kota ini akan 3 kali lebih baik dari apa yang kita rasakan dan yang kita saksikan hari ini.
Inilah tugas pemimpin. Kepemimpinan Walikota hari ini bukan tidak baik, tapi dibanding dengan potensi yang tersedia tidak sebanding dengan capaiannya.

Kita patut bersyukur kepada Bapak Bachtiar Ja’far, Abdillah, SE (Ak), dan T Dzulmi Eldin yang telah menggagas dan meletakkan Blue Print pemvangunan Kota Medan yang mengarah pada kota Metropoloitan, Kota Modern. Akan tetapi tentu semua itu tak dapat diwujudkan dengan serta-merta. Selangkah demi selangka telah ditapaki dan sedikit demi sedikit memanglah tampak sudah terwujud.

“Hanya saja belum terintegrasi. Medan masih terlihat seperti kumpulan “kampung-kampung” kecil, belum terlihat nuansa dan aroma kota Modern,” ujar Prof OK Saidin
Medan tambahnya seperti tumpukan desa-desa kecil. Desa yang “berasa” kota, seperti “Disertasi” berasa “Skripsi”.

Belum masuk pada capaian standard 9 (sembilan), atau belum masuk ke standard kota modern. Dulu dalam sejarah terbentuknya kota Medan, Sultan Deli Tuanku Makmun Al Rasyid membuka peluang untuk masuknya imigran-imigran dari luar wilayah kerajaan. Untuk pendatang dari Minangkabau yang pandai kuliner ditempatkan di wilayah sekitar Istana yakni kota Ma’sum.

Merdeka Walk tempat kuliner di jantung Kota Medan. Foto Istimewa

Untuk pendatang dari Tanah Mandailing yang pandai mengaji dan berdakwah ditempatkan di kawasan Kampung Baru dan Silalas sekitarnya. Mereka yang datang dari Aceh dan sekitarnya ditempatkan di kawasan Darussalam Sei Sikambing dan sekitarnya.

Mereka yang pandai berdagang yang datang dari Arab di tempatkan di sekitar kampung Glugur, Krakatau dan Bilal. Mereka yang pekerja keras dan pandai mengurusi bidang olah raga datang dari India di tempatkan di Kawasan Polonia dan Kampung Madras.

Mereka Etnik Tionghoa yang datang dari Pulau Pinang yang pandai berbisnis dan berjiwa entrepreneur (wirausaha) di bidang konstruksi ditempatkan di kawasan Kesawan. Imigran-imigran ini saling berinteraksi dan bersinergi membangun kota Medan. Jadilah Medan dijuluki sebagai “Parisj van Soematra” di Bumi Kerajaan Deli.

Kota yang layak untuk dihuni. Kota yang mengundang masuknya para investor.
Berdirilah unit-unit usaha, dan infrastruktur besar seperti jaringan telepon (Telefonken Maatschappij), jaringan jalan keteta api (Deli Spoorweg Maatschappij), jaringan air bersih (Ajer Bersih Maastchappij) dan restoran ( Tip Top) serta hotel (de Boer Hotel) dan lain-lain.

Pola kemimpinan yang dijanjikanwaktu itu memanglah “cocok” pada zamannya dengan segala dinamikanya. Meskipun pasca kemerdekaan banyak yang “tidak sinkron” dengan blue print kota Medan yang sudah dirancang oleh para ahli yang dipersiapkan oleh Daniel Mackay sejak ia menjabat sebagai walikota pertama 1 Mei 1918.

Kita tak lagi menemukan jaringan kereta api Medan-Deli Tua, Medan-Pancur Batu. Dampaknya di tahun-tahun selanjutnya Medan menghadapi kemacatan karena angkutan massa itu diabaikan. Dikatakannya, kepenimoinnnya memang melulu urusan sciences tapi di dalamnya ada art.

Seni memimpin itu memang tidak dapat dipelajari. Itu talenta atas berkat Rahmat dari Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa.Itulah sebabnya beda pemimpin berbeda pula capaiannya.Tentu sekali lagi Medan berterima kasih pada pemimpin terdahulu.

Suasana di jalan Kota Medan. Foto Istimewa

Bagaimana dengan kepemimpinan kota Medan mendatang? Kita coba menelisiknya dengan kondisinya hari ini. Kita saksikan Pola-pola kepemimpinan yang dijalankan hari ini masih mengacu pada model kepemimpinan yang mengikuti pola-pola lama.

Salahkah ini, untuk ukuran hari ini tentu tidak semuanya salah. Akan tetapi Kota Ini menuntut hal yang lebih dari itu. Standard kesejahteraan penduduk kota terus berubah. Oleh karena itu katanya lagi perlu pembaharuan.Tak ada terobosan baru, padahal kita sudah memasuki Era Revolusi Industri 4.0 bahkan Jepang sudah memasuki Era Revolusi Industri 5.0.

Pola-pola kepemimpinan lama telah terdisrupsi.Telah tergeser dan tergusur. Suatu fakta bahwa di Era majunya Teknogi Informasi dan Digital ini telah mengubah wajah dunia, wajah peradaban. Jika ini tidak diikuti oleh pemimpin kota ini dan seluruh stafnya, maka alamat kota ini makin hari makin terpuruk.

Medan ini akan tetap bertumbuh, sekalipun pemerintahnya tidak bekerja. Untuk mencapai angka pertumbuhan 5 % tidak perlu Dinas Perdagangan dan Perindustrian atau Dinas Pasar bekerja. Angka pertumbuhan ekonomi 5 % itu cukup digerakkan oleh pedagang sayur mayur, ikan dan beras serta kebutuhan bahan pangan lainnya.

Tapi yang lebih penting dari itu adalah bagaimana menjadikan kota ini layak dan nyaman untuk dihuni. Inilah tugas Walikota di masa datang. Oleh karena itu, jika kota ini ingin dijadikan sebagai tempat yang “layak” untuk dihuni maka, jatuhkanlah pilihan kepada orang yang “pantas dan patut” untuk mengemban amanah itu.

Kepada orang yang memiliki komitmen demokrasi: bahwa semua kita layak hidup di kota ini, bukan hanya untuk sebahagian orang. Jatuhkan pilihan kepada orang yang memiliki integritas yang memiliki kesolehan sosial dan solidaritas tinggi dan berempaty untuk kaum tertindas, dhu’affah mustadh’affin.

Oleh karena itu pula kata Guri besar FH USI ini ia menjatuhkan pilihan pada sosok pemimpin yang berani “memporak porandakan” kebathilan dan kedzaliman. Calon pemimpin itu ada pada diri Dr H OK Edy Ikhsan, SH.

Calon pemimpin itu ada di hadapan kita. Tokoh akademisi dan pejuang kemanusiaan yang sudah malang melintang. Pejuang demokrasi yang menghabiskan 2/3 usianya untuk kemaslahatan anak-anak Indonesia korban kekerasan, korban ketidak berpihakan sistem sosial, korban bencana alam.

Denyut nadi beliau adalah denyut nadi “kemanusiaan”. Siapapun akan mendapat “keberuntungan” katanya lagi jika bersentuhan pemikiran dengan beliau. Medan pun akan mendapat keberuntungan besar, jika warganya mempercayakan kepemimpinan kota ini kepada beliau.

Selamat datang “Pak Wali”, pimpinlah kami dengan hati dan pikiranmu, dengan segenap jiwa ragamu. Allah Tuhan Yang Maha Kuasa atas segalanya akan mengantarkanmu. Insya Allah.Amin Ya Rab. * rel