Siswa-siswi SMP Yayasan PAB 13 Kwala Begumit saat mengikuti gerak jalan santai.Inc/ist.

Stabat-Intainews.com : Hujan mengguyur di Kecamatan Stabat Langkat Sumatera Utara, Selasa 28 Januari 2020 lalu, tidak menyurutkan langkah siswa-siswi SMP Yayasan PAB 13 Kwala Begumit untuk mengikuti upacara HUT SMP PAB 13 ke 50 Tahun.

Di HUT ke 50 Tahun, Yayasan PAB 13 beserta guru mengadakan berbagai kegiatan perlombaan, diantaranya mewarnai gambar untuk tingkat SD, tingkat SMP Lomba Cepat Tepat (LCT), gerak jalan santai dan para peserta juga kesempatan mengikuti Lacky Draw. Hal itu katakan Suriadi, SKH, SPd dihubungi Intainews.com via telepon genggam Jum’at sore 31 Januari 2020.

Menurut Suriadi, pagelaran berbagai perlombaan tersebut di atas tidak sekedar memberi hiburan terhadap anak didik maupun para guru, namun tidak terlepas fungsinya dalam upaya memeriahkan HUT satuan pendidikan SMP Yayasan PAB 13 yang ke 50, tuturnya.

Lebih lanjut Suriadi menjelaskan, HUT ke 50 SMP PAB 13 mengambil tema” Dengan SDM Berkesinambungan secara sederhana memberi kesimpulan, tema tersebut dapat diartikan sebagai rangkuman dari tujuan pokok pendidikan selaku lembaga formal.

Artinya para penyelengara pendidikan termasuk perangkatnya, wajib berperanserta mewujudkan peserta belajar agar memiliki sumber daya manusia yang handal, berkualitas, berkarakter, berakhlak dan bermartabat.

Selain itu Suriadi menjelaskan, berpedoman kepada Undang – Undang Nomor 20 Tahun 2003, pendidikan memiliki tanggung jawab dan kewajiban, agar mengupayakan terwujudnya suasana belajar serta proses pembelajaran, terhadap peserta didik secara aktif. Yang orientasinya, fokus terhadap pengembangan potensi diri para peserta belajar, baik selama berada di dalam ruang maupun di luar kelas.

Urgensinya secara universal bertujuan, para tenaga pengajar harus memiliki kemampuan memotivasi para peserta didik, agar memiliki kekuatan spritual keagamaan. Serta mampu untuk melakukan pengendalian diri yang berkepribadian serta kecerdasan.

Selanjutnya upaya para tenaga pengajar, bijak dan arif menempa peserta didik sebagai cikal bakal yang berakhlak mulia dan memiliki keterampilan. Baik untuk kepentingan dirinya, maupun diberbagai elemen masyarakat, bangsa, atau terhadap negara.

Berbicara seputar solidaritas dan kerjasama antar peserta belajar maupun kalangan tenaga didik. Kata Suriadi, SKH, SPd, hal tersebut tak kalah penting dengan berbagai mekanisme lainnya, guna menciptakan budaya kehidupan yang penuh dinamika dan harmonis, baik di dalam atau di luar internal kalangan sekolah. Termasuk perwujudan kerjasama, yang melahirkan kesepakatan antar satu dengan lainnya dan saling diuntungkan.

Di bahagian lain, diupayakan mewujudkan peningkatan karakter peserta belajar yang beriman dan bertaqwa. Mengajak serta mensosialisasikan kepada para peserta belajar, agar mampu memahami, menghargai lingkungan hidup, termasuk nilai – nilai moral dan teknik untuk mengambil keputusan yang tepat. Kemudian terhadap peserta belajar diberikan pengetahuan dasar, bagaimana membangun landasan kepribadian yang kokoh.

Berikutnya, selain menularkan pencernaan tentang pengertian Hak Azasi Manusia dalam kontek kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Turut serta membangun dan mengembangkan wawasan terhadap peserta belajar tentang kebangsaan serta rasa cinta tanah air dalam era globalisasi. Selanjutnya diberikan arahan memaknai sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggung jawab. Termasuk memahami defenisi kerja sama secara mandiri, berpikir logis dan demokratis.

Sisi lain sangat dibutuhkan pengembangan pemahaman, tentang peningkatan pengetahuan dan keterampilan serta menghargai karya artistik, budaya maupun intelektual. Justeru demikian para peserta belajar, lebih ditekankan agar giat melakukan olahraga, guna terwujudnya peningkatan kesehatan jasmani maupun rohani. Karena dengan kondisi kesehatan yang prima, sudah barang pasti para peserta didik unggul menggunakan pola fikirnya dalam menjalani proses pembelajaran, diberbagai tahapan.

Sebaliknya untuk pengembangan kreativitas anak, sangat di butuhkan ketelitian, dan kesabaran dalam mendidik dan mampu melakukan berbagai motivasi. Yang orientasinya senantiasa mengajarkan berfikir secara sistematis, ketika seorang anak sudah dipandang mampu memahami potensi mereka. Sehingga dapat mengembangkannya dengan ide – ide yang terbaru. Akhirnya kreatifitas anak sudah barang pasti akan berkembang secara optimal.

Sementara di sisi lain, untuk perkembangan moral khususnya di dalam dunia pendidikan, merupakan hal yang sangat urgen dan serius. Mengingat terbentuknya moral anak, pada awalnya berasal dari lingkungan tempat tinggal, peran utama pihak keluarga dalam proses pembentukan moral, sangat penting mendapatkan perhatian secara maksimal.

Dikarenakan, moral akan mengalami proses pengembangan setelah anak berada di dalam dunia pendidikan. Mengingat selama kurun waktu anak menjalani proses pembelajaran, betapa pentingnya peran aktik para guru dan anak sebagai siswanya, berjalan secara berimbang dalam meningkatkan kualitas moral yang lebih baik dan bermartabat, ucap Suryadi mengakhiri.Inc.HSy.