Salah seorang penyair membacakan puisinya di Hari Puisi Indonesia [HPI] di Provinsi Riau

CATATAN TANTAWI PANGGABEAN

Tampil membaca puisi, SCB, Dr Malim [Malaysia], Nik Mansour [Vietnam], kolaborasi dengan Nidi Nie [Vietnam], Rini Intama [Jabar], dan Daffa.

Pekanbaru-Intainews.com:Hari Puisi Indonesia [HPI] Riau dipusatkan di Anjungan Seni Idrus Tintin, Jumat malam 4 Oktober 2019 malam berlangsung meriah. Belasan penyair Nusantara baik dari luar maupun dalam negeri tampil unjuk kebolehan membaca puisi dengan keunikan gaya masing-masing.

Pada HPI itu juga diluncurkan dua buku puisi yakni ‘Membaca Asap’ merupakan kumpulan puisi puluhan penyair Nusantara dan buku ‘Langit, Asap dan Luka’ kumpulan puisi SMA Cendana yang diprakarsai sastrawan Bambang Kariyawan. Cover kedua buku ditandangani secara bersama Kadis Kebudayaan, Sutardji Calzoum Bachri [SCB], Malim Ghozali, dan lainnya.

Ketua Panitia HPI yang juga Pimpinan Rumah Sunting, Kunni Masrohanti dalam sekapur sirih menyampaikan kegiatan HPI tahun ini dilaksanakan di saat kabut asap sedang melanda Riau. Oleh sebab itu kegiatan ini sekaligus dijadikan momen estetis menunjukkan kepedulian para sastrawan terhadap kerusakan lingkungan.

Gubernur Riau yang diwakili Kepala Dinas Kebudayaan Riau, Yoserizal Zen menyebutkan perayaan HPI di Riau mempunyai makna penting dalam meningkatkan apresiasi sastra dari generasi ke generasi. Sementara Dr Malim Ghozali, PK dari Malaysia menyampaikan sambutannya mengenai apa makna perayaan HPI ini.

Menurut Malim, tujuan para sastrawan di ajang HPI, pertama untuk pembinaan jaringan. Setiap penulis memerlukan khalayak, baik di dalam maupun di luar negeri.
”Jaringan akan membawa karya para sastrawan jauh ke persada antarbangsa. Kita berpeluang memperagakan seni dan budaya dan sastra bangsa Nusantara,” kata Malim.

Sedangkan tujuan kedua, ujar Malim, untuk meningkatkan semangat berkarya. ”Tak mudah sebenarnya penyair, pengarang genre  lain serta aktivis seni untuk meneruskan kerja ini. Sering kita berjuang dalam dunia sepi dan terasing. Ramai juga yang tidak memahami kita,” ungkapnya.

Pembaca Puisi Cilik

Lalu, acara-acara seperti ini, lanjut Malim Ghozali, membantu kita untuk bertemu, bertanya khabar dan menyatakan komitmen kita untuk meningkatkan martabat seni itu sendiri. Sebagai sastrawan kita terus berkerja. Sesungguhnya, kita adalah kalangan yang degil, dan tidak jemu berjuang sehingga titik terakhir.

”Puisi adalah kejujuran yang digarap dengan perasaan kata Semyon Gudzenko, penyair hebat Rusia. Oleh sebab itu penyair harus berkarya dengan kejujuran,” ujar Malim yang doktor antropologi ini.

Dipembukaan HPI Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri [SCB] tampil membacakan puisi-puisi terbaru yang kaya dengan sentuhan sufistik dan religius islami. Hal menarik, SCB membacakan sebuah puisi berjudul ‘Kunni’ yang dihadiahkan untuk penyair Kunni Masrohanti Pimpinan Komunitas Rumah Sunting yang memprakarsai HPI di Provinsi Riau ini.

”Sepanjang kepenyairan saya, hanya beberapa orang yang saya hadiahkan puisi. Di antaranya Alina, Salim Said dan Kunni,” tukas SCB. Selain, SCB turut membaca puisi antara lain Dr Malim Ghozali [Malaysia], Nik Mansour Nik Halim [Vietnam] berkolaborasi dengan Nidi Nie [Vietnam] dan beberapa penyair Indonesia.

Ada pula penyair perempuan Rini Intama [Jabar], Suyadi [Medan], Subhan, dan banyak lagi. Tampil pula pembaca puisi cilik berbakat, Daffa. Begitu pula, di acara yang sama diselingi musikalisasi puisi oleh grup seni Pelalawan.