Ilustrasi, saat kota diserang kabut asap. Foto Istimewa

Medan-Intainews.com:Wilayah Sumatera Utara [Sumut] sudah terdampak kabut asap kebakaran hutan dan lahan [Karhutla] di Riau dan Jambi. Wakil Ketua DPD Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia [HNSI] Sumut, Nazli, mengatakan nelayan Kabupaten Mandailing Natal [Madina], Tapanuli Tengah [Tapteng], Kota Sibolga, dan Kepulauan Nias, Sumut, takut melaut.

Informasi dihimpun Intainews.com, Senin 23 September 2019, ketakutan nelayan soal jarak pandang di tengah laut akibat asap karhutla itu beralasan. Mereka, kata Nazli, tak memiliki perlengkapan navigasi modern. Hal itu bisa mengakibatkan mereka tidak mengetahui arah dan tujuan.

“Bisa saja nelayan tersebut sampai ke India, Australia, dan Afrika, karena mengarungi perairan Samudera Hindia dan merupakan lautan lepas,” tukasnya. Disebutkannya dengan tidak melautnya nelayan kecil itu mengakibatkan ikan yang dijual semakin berkurang dan harganya juga cukup mahal.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana [BNPB] per Minggu 22 September 2019 pukul 16.00 WIB, daerah Sumut dikepung oleh wilayah yang memiiliki sebaran titik api tinggi. Yakni, Riau [381 titik api], Jambi [1021 titik api], Sumatera Selatan [1018 titik api].

Sejak Minggu 22 September 2019 beberapa kota di Sumut sudah merasa udara dikuasai kabut asap. “Hari ini hampir seluruh wilayah di Sumatera Utara diselimuti kabut asap akibat karhutla,” kata Kepala Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika [BBMKG] Wilayah I Medan, Edison Kurniawan, Minggu [22/9].

Namun kondisi untuk jarak pandang terbilang aman di Bandara Kualanamu ada 1.600 meter, untuk Gunung Sitoli 5.000 meter, Sibolga 2.100 meter dan Aek Godang 500 meter.

“Di Kabupaten Labuhanbatu, Kecamatan Panai Tengah ada 2 titik, dan di Kabupaten Labuhanbatu Utara, Kecamatan Kwaluh Hilir ada 1 titik hot spot,” kata Edison. Di Kota Medan kabut asap beberapa hari terakhir tampak cukup tebal mulai pagi hingga malam hari. Warga yang beraktivitas di luar, terpaksa mengenakan masker. *Inc-04