Ryan Juskal & Muhamad Asril dari Jurnalis Club

Ada 77.500 gepeng yang dikoordinir mafia. Dalam jumlah itu hampir setengahnya melibatkan anak-anak, ke mana KPAI?

Medan-Intainews.com:Polemik yang hangat terkait mundurnya PB Djarum dari pencarian bakat bulutangkis Indonesia mendapat respons dari Medan Jurnalis Club. Komisi Perlindungan Anak Indonesia [KPAI] dinilai keliru saat menganggap pembinaan PB Djarum di bulutangkis sebagai eksploitasi anak.

Presidium Medan Jurnalis Club, Ryan Juskal, Senin 9 September 2019, menilai tudingan KPAI tersebut sangat keliru. Menurutnya, KPAI harus melihat secara bijaksana dan objektif terkait peran PB Djarum selama ini terhadap pengembangan bakat pemain bulutangkis Indonesia.

“Tudingan KPAI itu sangat keliru, yang jelas adalah olahraga kebanggaan bangsa ini,” ujar Ryan Juskal didampingi Presidium Medan Jurnalis Club, Muhammad Asril. Harusnya, lanjut Ryan Juskal, KPAI tahu ke mana fokus mereka ketika berbicara eksploitasi anak.

KPAI misalnya, diminta menyikapi data Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita soal gepeng dan anak jalanan. “Mereka [KPAI] terkesan tutup mata, Mensos bilang ada 77.500 gepeng yang dikoordinir mafia. Dalam jumlah itu hampir setengahnya melibatkan anak-anak,” urai Ryan.

Dia menggarisbawahi fakta tentang eksploitasi anak di jalan raya. “Seperti di Medan, hampir di tiap persimpangan trafic light banyak anak jalanan yang dikoordinir mafia. Ke mana KPAI menyikapi ini,” ungkapnya. Lantas, menurut Ryan Juskal, KPAI harusnya membuka mata, akan realita saat itu.

Ryan menganggap penilaian KPAI soal eksploitasi PB Djarum bisa membahayakan pembinaan bulutangkis di Indonesia.

“Bicara hak anak silakan saja. Tapi kajian KPAI harus jelas. Buka mata selebar-lebarnya. Mana fokus yang harus ditindak. Ini KPAI seakan-akan tak dapat melihat ‘gajah di depan mata namu mencari-cari semut di seberang lautan’ tentu hal ini sangat keliru,” pungkas Ryan. *Inc-04