Ilustrasi. Tarian tradisional Papua. Foto Istimewa

OLEH EDWARD KREY *

Dengan perdamaian kita akan mampu mewujudkan stabilitas nasional yang kokoh dan tak terpisahkan.

Intainews.com:KEDAMAIAN tanah Papua serta Papua Barat adalah hal yang paling dibanggakan. Banyak hal yang bisa dilakukan dengan suasana penuh kenyamanan dan perdamaian, termasuk tanpa adanya campur tangan provokator.

Ricuh di wilayah Papua pekan lalu membuat banyak pihak menantikan kondisi aman dan kondusif. Seperti yang kita tahu kejadian yang terasa mencekam itu diakibatkan oleh pihak yang tak bertanggung jawab. Mereka hanya hadir untuk memberikan efek disintegrasi yang merugikan.

Namun usaha para provokator ini agaknya harus berhenti di sini. Karena penduduk Papua telah menyadari jika mereka telah tertipu pihak yang hanya mendompleng insiden guna kepentingannya sendiri.

Kabar baiknya jika kita berkunjung ke Kota-kota di Papua dan Pepua Barat suasana telah demikian damai, sejuk ramah terhadap siapapun. Tak ada lagi tanda yang tersisa dari unjuk rasa anarkis, khususnya di wilayah Jayapura serta Sorong. Yang mana, seperti kita tahu pekan lalu disana terjadi aksi demo yang berbuntut perusakan.

Kerusakan yang ditimbulkan mulai dari gedung, pasar, warung dan rumah warga. Mirisnya lagi fasilitas publik di Sorong yang menjadi sasaran anarkis aksi massa adalah Bandara. Akan tetapi dengan gerak cepat dari TNI dan Polri, akhirnya bandara Sorong tetap mampu beroperasi seperti biasanya.

Aparat TNI, Polri, ASN serat masyarakat bahu-membahu membersihkan kota dari sisa-sisa kekisruhan tempo hari. Hebatnya lagi gotong royong ini terlihat sangat solid, mereka tak pandang asal-usul, entah masyarakat pendatang atau asli semau berbaur bekerja sama membuat Jayapura menjadi kota yang bersih, Indah, nyaman serta damai seperti sediakala.

Perkembangan terkini Papua dan Papua Barat terutama di kota tumbuh menjadi kota berpenduduk heterogen. Yakni, jumlah antara pendatang serta penduduk asli bak pinang dibelah dua, sama dalam hal kuantitasnya. Mereka semua hidup dalam kerukunan, bahu membahu, serta gotong royong yang membuat mereka melupakan sekat di antara mereka.

Mereka menyadari, meski berbeda dari segi agama, ras, dan golongan, nyatanya penduduk asli dengan legowo menerima mereka dengan tangan terbuka. Sementara bagi para pendatang yang merasa nyaman akan penerimaan penduduk asli membaur serta menggenggam erat pepatah “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.”

Seiring berjalannya waktu, kehidupan mereka menjadi ikatan yang lebih dalam, termasuk menjalin perkawinan. Akulturasi di tanah Papua ini seperti yang terjadi di Amerika yakni perkawinan “Black and White.” Mereka hidup penuh kedamaian selama provokator tidak menyulut api guna membuat penduduk Papua melakukan aksi anarkis.

Provokator ini ditengarai tinggal dihutan-hutan. Namun ada juga yang hidup berkelimpahan di luar negeri. Tugasnya sepele, hanya merajut berita hoax, mencari dana yang kemudian melambungkan hasutan atas nama Perjuangan.

Para provokator ini menggaet bantuan dari lembaga maupun orang-orang yang mudah dibohongi. Oknum-oknum yang khusus ada di luar negeri ini hanya mengamati dari jauh. Mereka telah lama menetap disana, namun sangat disayangkan mereka sering mengunggah berita serta gambar minor, sinis, agitatif serta kebohongan lainnya.

Tak hanya di luar negeri, di dalam negeri-pun ada oknum-oknum Pembangkang yang banyak berkutat di Birokrasi maupun LSM. Berita baiknya, upaya mereka memprovokasi masyarakat Papua telah gagal. Warga bumi Cendrawasih ini yakin bawa darah daging dan ibu kandung Papua adalah Nusantara tercinta, Indonesia.

Mereka juga bangga jika perkembangan dari berbagai sektor telah menyentuh kehidupan mereka, seperti keyakinan mereka akan Indonesia yang selalu mengayomi Papua. Pemerataan sektor ekonomi, kesehatan serta pendidikan dirasa telah berada di titik capaiannya.

Sehingga Papua tak perlu mencari-cari lagi kemerdekaan yang lain. Karena memang hanya di bumi Indonesia mereka telah mendapatkan arti kemerdekaan itu sendiri. Bagi Papua, dengan menjadi rakyat Indonesia adalah pilihan abadi yang tidak bisa diutak-atik lagi.

Sementara tugas kita adalah ikut memajukan rakyat Papua agar mecapai kesejahteraan, kedamaian seperti wilayah lain di Indonesia. Pepua selalu NKRI, harga mati. Pererat persatuan dan kesatuan lebih kuat lagi agar tak ada celah untuk para provokator masuk dan merusak segala tatanan kehidupan kita. Terlebih dengan perdamaian kita akan mampu mewujudkan stabilitas nasional yang kokoh dan tak terpisahkan.

* Penulis adalah, mahasiswa Papua tinggal di Jakarta

  • Setiap karya tulis opini disiarkan di kolom Kontemplasi ini, menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini, maka sesuai aturan pers dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis opini. Dan Redaksi akan menyiarkan tulisan tersebut secara berimbang.