Benny Wenda dianggap 'provokator politik' warga negara Inggris, paling dicari. Foto Istimewa

Ada tiga kelompok pemberontak senjata lain di bumi Cenderawasih, yakni kelompok pemberontak bersenjata, kelompok politik, dan kelompok klandestin.

Jakarta-Intainews.com:Soal Papua terus berkembang. Kapolri Tito Karnavian menegaskan adanya orang-orang yang ‘bermain’ di antara kerusuhan yang dipicu rasisme di Surabaya, muncul nama-nama yang dijadikan tersangka. “Akan terus saya kejar!” katanya.

Di antara veronica Koman, Trisuci, Samsul Arifin yang sudah jadi tersangka, ada pula nama Beny Wenda, pemain lama yang muncul kembali. Benny Wenda pernah didakwa mengerahkan massa untuk membakar Kantor Polisi tahun 2002, lalu Benny berhasil kabur dari penjara di tengah proses persidangan.

Informasi dihimpun Intaines.com, Sabtu 6 September 2019, Benny Wenda yang Ketua Dewan Musyawarah Koteka itu menyeberang ke Papua Nugini hingga akhirnya mendapat suaka politik dari Inggris tahun 2003.

Kemudian sejumlah pihak menyebutkan Benny, yang belakangan menjadi Ketua Gerakan Pembebasan untuk Papua Barat [United Liberation Movement for West Papua/ ULMWP], disebut medisain aksi massa di Papua.

Benny Wendi dituding oleh Menteri Koordinator Polhukam Wiranto sebagai “provokator” protes besar-besaran di Papua. Tudingan itu termasuk dilontarkan pula oleh Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko dan Kapolri Tirto Karnavian. Bahkan Wiranto mengancam akan menangkap Wenda yang kini di Oxford, Inggris sebagai “penjahat politik.”

Di antara itu muncul ungkapan ada aksi ISIS ikut bermain di balik kerusuhan Papua. Mabes Polri Klaim Pernah Ungkap Aksi ISIS di Papua, sebagaimana disebutkan Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo, kepada wartawandi Mabes polri, Jakarta, Selasa [25/9/2019].

Polri mendeteksi keberadaan ISIS di Papua sejak dua tahun lalu. Dedi menyebut, salah satu rencana jaringan teroris itu yang berhasil terungkap Densus 88 Antiteror adalah rencana pengeboman Polres Manokwari.

“Ada satu sudah dilakukan penegakan hukum [ditangkap] oleh Densus 88, jaringan ini rencana akan melakukan pengeboman di Polres Manokwari tapi berhasil diamankan,” ucap Dedi di Mabes Polri, Jumat 6 September 2019.

Dugaan Keterlibatan ISIS dalam Kerusuhan Papua muncul dari Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu. Ia menyebut ada kelompok di Papua yang berafiliasi dengan ISIS dan menyerukan jihad di bumi Cenderawasih.

Hanya Dugaan

“Sudah ada seruan jihad di sana. Kalau tidak salah tiga hari yang lalu,” ujar Ryamizard. Dia tidak menjelaskan gamblang kelompok mana yang ia sebut berafiliasi dengan ISIS di Papua. Mantan KSAD ini hanya menyebutkan bahwa ada seruan jihad di Papua belum lama ini.

Selain itu, Ryamizard menyebut ada tiga kelompok pemberontak senjata lain di bumi Cenderawasih yakni kelompok pemberontak bersenjata, kelompok politik, dan kelompok klandestin. Dalam pandangan Ryamizard, sebagai kelompok yang mengancam keutuhan Indonesia, maka TNI harus turun tangan untuk menyelesaikan perkara tersebut.

Sementara Ketua Komisi I DPR RI Abdul Kharis Almasyhari menilai tidak ada jaringan ISIS yang terlibat dalam konflik di Papua dan Papua Barat saat ini. Isu tersebut ia nilai baru sebatas dugaan saja.

“Tidak ada. Hanya dugaan, perlu pembahasan lebih jauh lagi,” ujar dia usai menghadiri Rapat Kerja bersama Komisi I DPR-RI terkait kondisi terkini Papua di kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (5/9/2019) malam. *Inc-17

  • Bagikan berita ini