Para narasumber dan penyelenggara foto bersama usai acara

Butuh kehati-hatian, dan bersikap cerdas serta bijak dalam menggunakan fasilitas dunia maya. Di tengah kemajuan teknologi komunikasi, media online sangat diminati masyarakat

Medan-Intainews.com:Hingga saat ini perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi ancaman terorisme yang dapat menganggu keamanan dan perdamaian bangsa. Demikian dikatakan Kasi Partisipasi Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Terorisme [BNPT] Republik Indonesia, Setyo Pranowo.

Setyo mengatakan hal itu usai membuka Dialog Rembuk Aparatur Kelurahan dan Desa Tentang Literasi Informasi Melalui Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme Sumatera Utara [FKPT], Kamis 5 September 2019 di Hotel Grand Kanaya Medan, Sumatera Utara.

Dialog ini dihadiri Kapolres Medan diwakili AKBP Kasat Bimas Rudi Hartono, jajaran Muspida, Aparatur Kelurahan Desa, Babinsa dan Bhabinkamtibmas. Sebagai nara sumber Setyo Pranowo, Edi Sofyan dari FKPT dan Devi Rahmawati pakar komunikasi UI.

“Bukan sekadar aksi tetor semata, kenyataannya tindak kejahatan terorisme juga melanggar hak asasi manusia sebagai hak dasar secara kodrati melekat dalam diri manusia. Yaitu hak untuk merasa nyaman atau hak untuk hidup,” tutur Setyo Pranowo.

Ketua FKPT Zulkarnain Nasution menyebut, faham radikalisme ada di lingkungan kita seperti halnya media sosial [medsos]. “Untuk itu kita membuka dialog ini, mengantisipasi faham radikalisme di lingkungan kita. Dengan begitu harus menjaga toleransi peradaban, sehingga tidak ada lagi anti NKRI dan Pancasila,” ujarnya.

Sementara menurut Eddy Syofian, strategi komunikasi menjadi penting untuk mencegah berita bohong dan ujaran kebencian yang merupakan cikal bakal munculnya radikalisme dan terorisme. Di era ini, tambah Eddy yang memiliki pengalaman di Humas Pemprovsu, syukurlah informasi dan komunikasi diatur dengan adanya UU ITE.

Era Banjir Informasi

Tetapi, tambahnya, walau sudah ada perangkat hukum, masih ada berita-berita negatif menimbulkan ketidaknyamanan, seperti ujaran kebencian dan berita-berita hoaks. Di tengah kemajuan teknologi komunikasi, media daring/online sangat diminati masyarakat.

“Rutinlah membaca media yang terpercaya. Karena orang yang paling rentan adalah saat jarang mengkonsumsi berbagai peristiwa di media online yang terpercaya,’’ tukasnya. Dan Devie Rahmawati menyebutkan seorang yang menguasi komunikasi publik dapat membius orang untuk menyakinkan dan terlena. Sehingga mudah memasukkan pesan atau ajaran kemungkinan sangat berbahaya.

Kembali Setyo mengingatkan, salah satu penyebab tingginya potensi radikalisme ialah kemajuan teknologi komunikasi yang tidak dibarengi dengan literasi bagi masyarakat.
“Era banjir informasi menjadikan masyarakat tidak siap membedakan mana informasi yang benar dan mana yang salah. Membutuhkan kehati-hatian untuk bersikap cerdas dan bijak dalam menggunakan fasilitas dunia maya. *Inc-03