Prabowo & Jokowi di MRT berdialog terbuka. Foto Istimewa

CATATAN INTAINEWS.COM

Kami sudah tidak bersama Prabowo, tunggu komando Habib Rizieq. Pertemuan Presiden Jokowi dengan Prabowo Subianto usai Pilpres 2019 memunculkan kekecewaan di kalangan PA 212.

Jakarta-Intainews.com:Pertemuan Jokowi dan Prabowo Subianto di stasiun Moda Raya Terpadu [MRT], merupakan sesuatu yang luar biasa dan mengejutkan banyak tokoh baik kubu Prabowo, maupun tokoh masyarakat yang memang menginginkan dua tokoh negara tersebut bersatu.

Informasi dihimpun Intainews.com, Minggu 14 Juli 2019, mantan Ketua Umum Mahkamah Konstitusi [MK], Mahfud MD menyambut positif pertemuan dua tokoh sentral Jokowi-Prabowo, Sabtu 13 Juli 2019. Apalagi sejak awal pertemuan itulah diharapkan dapat meredakan suhu politik di Indonesia yang memanas dan masrakat seperti terbelah.

“Rekonsiliasi ini berarti kembali ke posisi masing-masing sesuai dengan konstitusi dan menghentikan pertikaian politik dalam isu tertentu, menghentikan pertikaian politik dalam isu pilpres 2019,” tukas Mahfud MD.

Meski begitu, kata Mahfud, belum diketahui langkah politik Gerindra. Namun bila melihat keinginan pendukung Prabowo, lebih memungkinkan Gerindra menjadi oposisi pemerintahan Jokowi selama lima tahun ke depan. Sehingga ada lembaga yang mengontrol pemerintah.

“Bersahabat, bersaudara, namun sekali-sekali mengkritik boleh juga ya Pak Jokowi, sekali-sekali,” ucap Prabowo saat bertemu di Stasiun MRT. Bagi Mahfud, politik itu sekian banyak artinya. “Soal kekuasaan, bagaimana mengelola kekuasaan. Kalau saja Gerindra bergabung dianggap itu lebih baik bagi Indonesia ya silakan,” tutur Mahfud.

Amien Rais menunjukkan buku saat diperksa polisi, tak jelas apa maksudnya. Foto Istimewa

“[Maka] game it’s over.”

Sebelumnya mengemuka rekonsiliasi dikaitkan dengan kepulangan Habib Rizieq. Sehingga koalisi Jokowi banyak yang tidak setuju. Dan dalam pertemuan dua tokoh itu, baik Jokowi maupun Prabowo tidak membahas soal Habib Rizieq.

Hal itu dipertegas Sekretaris Kabinet Pramono Anung, dalam pertemuan antara Joko Widodo [Jokowi] dan Prabowo Subianto tidak membahas soal Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab.

Pramono berharap, dengan bertemunya dua tokoh ini secara perlahan menyejukkan di kalangan akar rumput. Pramono pun meyakinkan pertemuan Prabowo dan Jokowi akan kembali terjadi dan bukan sekali ini saja.

Lalu Amien Rais angkat bicara, “Kubu Prabowo akan terhormat di Luar Pemerintahan,” tuturnya. Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional Amien Rais menegaskan jika berada di luar pemerintahan, untuk memberikan pengawasan terhadap pemerintahan selama lima tahun ke depan.

Pertemuan Jokowi Prabowo sambil makan sate.Foto Istimewa

Menurutnya apabila kubu Prabowo bergabung dengan pemerintah, tidak akan ada lagi yang mengawasi. “Itu, akan membuat seluruh suara di DPR sama dengan suara di eksekutif.

Itu pertanda lonceng kematian demokrasi,” jelas Amien. Demokrasi, lanjutnya akan mengalami musibah yang paling berat dan sulit bangkit jika parlemen sudah menjadi jubirnya eksekutif. Apalagi, katanya, kalau yudikatifnya juga mengamini. “[Maka] game it’s over.”

Menyinggung pertemuan antara Prabowo Subianto dan Joko Widodo di Stasiun MRT Jakarta, Amien belum mau berkomentar. “Saya hanya akan memberikan pernyataan setelah saya membaca surat Pak Prabowo,” kata Amien, sebagaimana dilansir Antara.

Tidak Dihargai

Di antara orang-orang yang menyambut hangat pertemuan Jokowi-prabowo, tidak sedikit pula pendukung eks Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto yang belum rela dan ikhlas idolanya bertemu dan mengucapkan selamat kepada Presiden terpilih Jokowi.

Seperti Sekretaris Gerakan Relawan Nasional Prabowo Sandi [GRN PAS] Provinsi Riau, Masril Ardi, misalnya, mengaku sangat kecewa. “Kami ini relawan murni, kami tidak pernah dapat subsidi dari partai, tidak ada kepentingan apapun, pergerakan kami secara sukarela selama ini, berakhir dengan kekecewaan,” kata Masril, sebagaimana dilansir Riauonline.co.id—jaringan Suara.com. Tidak hanya ia yang merasa kecewa, juga sejumlah relawan emak-emak.

Pertemuan bersejarah, Jokowi – Prabowo di stasiun MRT, hilanglah Cebong dan Kampret. Foto Istimewa

Sehari sebelumnya emak-emak beramai-ramai menyampaikan isi hati mereka, meminta kepada Prabowo untuk menolak rekonsiliasi. Menyebutkan, “kami berada di belakang bapak”, seperti yang dituliskan di poster-poster diungkapkan di depan rumah Prabowo.

Betapa terkejut dan kecewa mereka saat melihat di televisi idola mereka berpelukan dengan Jokowi. “Sewaktu sidang di MK, banyak emak-emak yang jual emasnya, pergi ke Jakarta untuk mengawal sidang MK sampai meraung-raung. Tapi akhirnya mereka kecewa sekarang, artinya kan air mata mereka tidak dihargai,” sebut Masril.

Kembali Kepada Khittah

Ia menjelaskan, pertemuan ini adalah hal yang paling ditunggu-tunggu oleh kubu 01. Sebab, dengan adanya pertemuan ini, maka secara tidak langsung ada legitimasi dan pengakuan dari Prabowo Subianto terhadap hasil Pilpres 2019.

“Mau jumpa di MRT kek, mau jumpa di pecel lele pun, itu yang ditunggu mereka. Lihat saja nanti, 7 hari 7 malam akan di follow up terus,” tukasnya. Masril kemudian mengutip pernyataan salah seorang pengamat luar negeri yang pernah menyebut rekonsiliasi akan dijadikan sebagai daya tawar oleh pemerintah kepada dunia.

Persaudaraan Alumni [PA] 212 mengatakan kepada wartawan, “Kami sudah tidak bersama Prabowo, tunggu komando Habib Rizieq. Pertemuan Presiden Jokowi dengan Prabowo Subianto usai Pilpres 2019 memunculkan kekecewaan di kalangan PA 212.”

Juru bicara PA 212 Novel Bamukmin mengatakan pihaknya akan berjuang sendiri tanpa melibatkan partai politik, termasuk Prabowo. Pertemuan Presiden Jokowi dengan Prabowo Subianto usai Pilpres 2019 memunculkan kekecewaan di kalangan Persaudaraan Alumni PA 212.

“PA 212 sudah kembali kepada khittah semula yaitu sudah tidak lagi bersama partai manapun juga Prabowo/BPN,” ungkap Novel melalui pesan tertulis kepada wartawaan di Jakarta, Sabtu 13 Juli 2019. *Inc-17