Gubsu Edy (tengah) didampingi Wakil Walikota Akhyar sebelum turun ke Sungai Babura

Medan-Intainews.com:Kata ahli dari Belanda kepada Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Edy Rahmayadi, paru-paru terjelek pertama di Sumatera Utara (Sumut), adalah orang-orang Medan. Sedangkan paru-paru terjelek kedua adalah Kota Tebingtinggi. Menurut Gubsu, hal ini harus segera disikapi.

Dikatakan Gubsu, mengatasi banjir sangat penting untuk segera dilakukan. Tidak hanya mengatasi rumah warga direndam air, tetapi juga mengatasi agar warga terhindar dari penyakit, terutama paru-paru. Pasalnya, jelas Gubsu, berdasarkan pengakuan salah seorang ahli dari Belanda dalam satu acara di Hotel Santika beberapa waktu lalu menyebutkan, dari 34 provinsi, orang-orang di Sumut ternyata memiliki paru-paru terjelek.

“Ketika saya tanya mengapa itu terjadi, ahli dari Belanda itu mengatakan salah satu penyebabnya adalah sampah. Dengan adanya sampah menyebabkan banyaknya lalat tanpa disadari menghinggapi makanan yang kita makan dan berdampak dengan kesehatan,”ungkapnya.

Faktor kedua, tambahnya, adalah akibat banjir. Sungai yang banjir membawa kotoran dan pasca banjir akhirnya mengering dan kemudian menguap. Uap sisa banjir yang bercampur dengan kotoran itulah yang kemudian dihirup,” ungkapnya.

Tentunya bilang Gubsu, hal ini harus segera disikapi. Apalagi Kota Medan diketahui dalam dua tahun sekali akan terjadi banjir besar. Guna mengatasi persoalan banjir tersebut, jelas Gubsu, telah dipanggil seorang ahli yang pernah menangani Sungai Ci Tanduy yang berada di perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Apalagi, katanya, Kota Medan diketahui dalam dua tahun sekali akan terjadi banjir besar. Guna mengatasi persoalan banjir tersebut, telah dipanggil seorang ahli yang pernah menangani Sungai Ci Tanduy yang berada di perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Demikian ungkap Gubsu Sabtu 20 April 2019 sesaat menyusuri Sungai Babura.

Gubsu Edy Rahmayadi bersama rombongan saat menyususri Sungai Babura Medan

“Inilah orangnya, saya paksa dia datang untuk mengatasi persoalan banjir ini dan telah membuat buku terkait mengatasi persoalan banjir. Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan, banjir Jakarta maupun banjir di Bandung ternyata berbeda dengan banjir yang terjadi di Kota Medan,” katanya sambil menunjuk seorang pria paruh baya.

Sementara itu Wakil Waliota Medan Ir Akhyar Nasution MSi mengaku sangat gembira dengan adanya kegiatan penyusuran sungai yang dilakukan dalam upaya mengatasi banjir yang selama ini terjadi di Kota Medan. “Ini adalan mimpi Pemko Medan yang selama ini sangat dinantikan,” kata Akhyar.

Menurut Akhyar, penanganan banjir secara keilmuwan mudah ditangani namun problem sosial tidak gampang melakukannya. Oleh karenanya diperlukan edukasi kepada masyarakat, selain tidak tinggal di bantaran sungai, juga tidak buang sampah sembarangan. Sebagai salah satu solusi, jelas Akhyar, Pemko Medan akan membangun rusunawa untuk menampung warga yang tinggal di bantaran sungai.

“Kita harus serius dan disiplin mengatasi banjir, kita tidak mau anak cucu nanti jadi korban. Upaya inilah yang perlu edukasi. Sebab masyarakat yang selama ini sudah puluhan tahun tinggal di bantaran sungai menolak dilakukan relokasi meskipun tempat relokasi lebih layak dari tempat yang dihuni mereka selama ini,” tutur Gubsu Edy Rahmayadi.

Ditegaskannya, mari kita bersama-sama menyelesaikan problema sosial ini. Kami sudah punya rencana untuk itu. Mari kita duduk bersama mengatasinya dan rencana yang telah kami siapkan itu dapat diintegrasikan. Untuk itu, Tegas Edy, harus serius dan disiplin mengatasi banjir, kita tidak mau anak cucu nanti jadi korban.

Penelusuran Sungai Babura dipimpin Gubsu didampingi Akhyar,
menggunakan delapan perahu milik BPBD Provinsi Sumut dan Kota Medan. Dalam penelusuran yang dilakukan itu, Gubsu dan rombongan mendapati kondisi Sungai Babura mengalami pendangkalan yang cukup parah. Kondisi itu diperparah lagi dengan banyak sampah rumah tangga yang dibuang masyarakat ke dalam sungai.

Menurut Akhyar, penanganan banjir secara keilmuwan mudah ditangani namun problem sosial tidak gampang melakukannya. Oleh karenanya diperlukan edukasi kepada masyarakat, selain tidak tinggal di bantaran sungai, juga tidak buang sampah sembarangan. *Inc-03