Anggota DPRD Medan saat mengunjungi 7 ruko yang rubuh

Medan-Intainews.com:Terkait rumah toko (Ruko) tujuh pintu yang roboh di Jalan Ringroad, Medan Sunggal, Komisi D DPRD Medan akan segera memanggil Kadis Perizinan Terpadu Satu Pintu (PTSP), Kadis PKP2R, Camat Medan Sunggal dan Lurah Medan Sunggal.

“Kita buat Rapat Dengar Pendapat (RDP) saja dengan para pihak, termasuk meminta keluarga Pak Manurung hadir agar dibahas di sana. Kita jadwalkan Selasa 16 April 2019 mendatang,” ujar Abdul Rani, Selasa 9 April 2019.

“Kasus seperti ini tidak boleh terjadi lagi, kita akan minta setiap proses konstruksi bangunan bertingkat di Medan ini diawasi, dinas terkait harus mengawasi terus perizinannya” tambahnya. Menurut Abdul Rani setiap adanya konstruksi bangunan, dinas terkait harus ikut mengawasi. Termasuk merobohkan sendiri dengan sengaja. “Semua ada aturannya,” tuturnya.

Komisi D DPRD Medan mengunjungi bangunan Ruko yang roboh di Jalan Ringroad, Medan Sunggal, dipimpin Ketua Komisi Abdul Rani yang hadir bersama dua anggota Komisi D lainnya Parlaungan Simangunsong dan Ahmad Arif.

Abdul Rani dan Parlaungan yang hadir duluan ke lokasi, turut memantau kondisi sebuah rumah warga yang turut tertimpa material bangunan ruko tujuh pintu tersebut. Keduanya pun heran mengetahui antara bangunan ruko dengan rumah milik Torganda Manurung tidak ada jarak.

Warga yang rumahnya terimbas rubuhnya 7 ruko menyampaikan keluhannya ke anggota DPDRD Medan

“Padahal sudah kita atur Perda, agar setiap bangunan itu punya jarak atau spasi 1,5 meter, tapi pas dilihat di sini tampaknya gak ada jaraknya lagi,” ujar Parlaungan sembari melihat dua kamar dan dapur yang ikut roboh.

Pantauan di lokasi, rumah milik Torganda Manurung diselimuti abu tebal dari reruntuhan bangunan. Keluarga Torganda pun mengaku belum akan membersihkannya sebelum tim dari pihak berwajib dan Pemko Medan menganalisis bangunan.

Pemilik rumah T Manurung berharap adanya kepedulian pemerintah kota Medan lantaran beberapa bagian rumahnya ikut roboh. Apalagi keluhnya, sampai saat ini belum ada pihak pemilik ruko dan pemko yang membantu perawatan anaknya yang menjadi korban.

“Anak saya sudah pulang tadi ini. Ada luka di kepala dan punggungnya. Saya minta pemerintah peduli lah dengan apa yang kami alami ini,” ujarnya dengan nada bergetar, menceritakan kondisi anaknya Febri Manurung (16) yang menjadi korban. Ia juga menjelaskan dalam masa konstruksi, pihak pengawas ataupun pemilik ruko belum meminta izin kepada dirinya sebagai tetangga. Kesannya, pemilik ruko tidak perduli dengan kebisingan yang dialaminya selama ini. *Inc-04