Arist Merdeka Sirait (tengah) bersama rombongan menuju tempat kejadian kekerasan seksual anak

Langkat-Intainews.com:Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak (KPA), Arist Merdeka Sirait bersama timnya berkunjung ke pondok Pesantren Ali di Dusun II Desa Serapuh ABC Kecamatan Padang Tualang Kabupaten Langkat, Sumatera Utara terkait tindak kekerasan seksual yang diduga pelakunya oknum Yayasan pendidikan berinisial DI (40), Rabu 27 Maret 2018.

Arist Merdeka Sirait didampingi Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana dan Perempuan, Perlindungan Anak (PPKB dan PPA) Kabupaten Langkat, Purnama Dewi Tarigan, Kepala Bidang Perempuan, Perlindungan Anak Dinas PPKB dan PPA Langkat Mimi Wardani Lubis, Koordinator Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Langkat Enis Safrin Aldin dan personel Polres Langkat, Sumatera Utara mengunjungi tempat kejadian.

Arist  diterima salah pengasuh ponpes Muhammad Irwansyah di kantor lembaga pendidikan tersebut. Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak menyampaikan niatnya mengklarifikasi pemberitaan, perihal adanya dugaan santri diperlakukan tidak senonoh. Menjadi korban kejahatan seksual.

“Kedatangan saya di sini hanya mengklarifikasi kasus yang dialami anak anak sekaligus memberikan perlindungan kepada anak sebagai korban,” kata Arist Merdeka Sirait. Diketahui para santri yang mondok menempati satu kamar 25 santri dengan luas sekitar 7 x 4 meter. Arist menyatakan fasilitas atau prasarana yang ada di ponpes tersebut secara tidak langsung mendukung terjadinya peristiwa pelecehan seks.

“Artinya kalau satu kamar over kapasitas itu juga harus kita benahi supaya tidak terjadi lagi ke depan, tidak terbuka peluang tindakan terhadap anak-anak menjadi korbannya. Karena di ruangan itu tidak ada ruang gerak untuk ganti pakaian. Faktanya keterbatasan ruangan dihuni lebih kapasitas,” ujarnya

Atas nama Komnas Perlindungan Anak, ungkap Sirait, jika memang harus direkomendasikan kepada pemerintah atau para pengambil keputusan tidak ada salahnya kita rekomendasi. Tidak boleh lagi ada peristiwa itu di sini. Karena hak anak atas pendidikan harus berlanjut dan tidak boleh dirusak dengan kekerasan seksual.

Sementara pengasuh ponpes Muhammad Irwansyah menyatakan kondisi anak yang menjadi korban sudah kembali ke kondisi semula, aktif belajar setelah melakukan perubahan khususnya peningkatan keamanan pondok.

Alhamdulillah, kalau kita lihat anak-anak belajar seperti biasa, sebahagian masih aktif dan ada juga yang mengambil surat pindah. Setelah peristiwa itu, pondok pesantren juga menambah kewaspadaan, yaitu penambahan 12 titik CCTV kemudian sekuriti kita diperbanyak,” tutur pengasuh pondok pesantren tersebut.

Kepala Dinas PPKB dan PPA,cPurnama Dewi Tarigan didampingi Enis Safrin Koordinator P2TP2A menyatakan pihaknya telah menyediakan psikolog untuk memperbaiki kondisi anak agar mampu kembali seperti semula tetap bersemangat untuk belajar. Begitu juga dengan para orang tuanya sudah diberikan arahan agar dapat membantu memulihkan kondisi psikologi anaknya.

Setelah mengali informasi dan berdiskusi dengan para pengasuh pondok pesantren, serta diizinkan pengasuh pondok, Arist Merdeka Sirait bersama timnya meninjau langsung kamar yang ditempati santri-santri yang mondok.

Selanjutnya Arist Merdeka Sirait berkunjung ke Polres Langkat untuk berkoordinasi dengan Polres Langkat terkait penegakan hukum terhadap DI yang disangkakan melakukan kejahatan seksual terhadap anak didiknyasa. *Inc-03-Inc-21