Lulusan SMK Dinilai Belum Siap Hadapi Revolusi Industri 4.0

Tahun 2017, psikolog industri dan organisasi, Ade bekerja sama dengan Jojoba mengadakan tes psikometrik untuk menakar kompetensi lulusan SMK. Hasilnya, ia menemukan rata-rata lulusan SMK lemah dalam 12 kompetensi soft skill.

Intainews.com:Pemerhati ketenagakerjaan Ade Hanie mengatakan, para lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) belum mampu bersaing dalam revolusi industri 4.0. Sebab dalam praktik belajarnya, siswa diukur melalui nilai akademis ketimbang keahliannya. Hal itulah yang membuat industri kesulitan untuk menyerap tenaga kerja dari SMK.

“Lulusan SMK usianya rata-rata 17-18 tahun sehingga menyulitkan perusahaan menghadapi mereka. Menghadapi yang lulusan perguruan tinggi saja susah apalagi yang usianya antara anak baru gede dan remaja,” ujarnya di Jakarta, Kamis 14 Maret 2019.

Pada tahun 2017, Ade yang juga psikolog industri dan organisasi itu, bekerja sama dengan Jojoba mengadakan tes psikometrik untuk menakar kompetensi lulusan SMK. Hasilnya, ia menemukan rata-rata lulusan SMK lemah dalam 12 kompetensi soft skill.

Terutama menyoal perencanaan, evaluasi, kemampuan kepemimpinan, komunikasi bersama, dan kemampuan memengaruhi orang lain. Ia juga menilai, lulusan SMK di Indonesia kurang percaya diri. “Mengapa? Karena sekolah jarang bereksplorasi. Sekolah masih berpikir industri akan menerima SDM dilihat dari nilai akademis, padahal kan enggak,” tuturnya.

Dari hasil tes tersebut, Ade juga mendapati para lulusan SMK lebih tertarik pada pekerjaan administrasi, office, sales. Meskipun ada juga yang tertarik dengan teknologi informasi. Ade menjelaskan, hasil tes psikometrik bisa jadikan semacam peta untuk pencari kerja. Dengan adanya peta, pencari kerja akan mengetahui posisi mereka saat ini. Peta itu bisa digunakan untuk pengembangan diri agar lebih mudah mendapat pekerjaan.

Selain itu, Kementerian Perindustrian mengklaim telah memfasilitasi sekitar 400 ribu peserta didik SMK untuk mengikuti program pendidikan vokasi dengan konsep link and match yang bertujuan meningkatkan kompetensi sumber daya manusia (SDM) lulusan SMK serta mengurangi angka pengangguran.

“Sebab, mereka mendapatkan pembelajaran yang porsinya 70 persen praktik dan 30 persen teori,” kata Koordinator Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin, Mujiyono di Jakarta, Sabtu (9/3/2019). *tid