Duduk dibaris depan (No.2 dari kiri) Ida Tumengkol, J Anto, Lia Anggi Nasution. Baris belakang (No.2.dari kiri) As Atmadi, disebelahnya Ketua PWI Sumut Hermanshah

Medan-Intainews.com:Koran Perempoean Bergerak yang terbit di Medan tahun 1919 merupakan bukti tumbuhnya kesadaran kaum perempuan untuk meraih haknya sebagai manusia seutuhnya. Sedangkan, media massa dalam hal ini surat kabar menjadi wadah bagi perempuan untuk menyebarluaskan gagasan mengenai kesataraan gender, menggugat sistem sosial yang berlaku.

Demikian kesimpulan hasil penelitian Lia Anggia Nasution selaku penerima hibah Cipta Media Ekspresi yang dipersentasikan dalam acara diskusi ulasan penelitian “Sejarah Pers Perempuan di Sumut” (Studi Analisis Wacana Kritis Perspektif Feminis dalam Konten Koran Perempoean Bergerak di Sumut Periode 1919-1920) di resto Mie Ayam Mahmud, Medan, Rabu 6/Maret 2019.

Diskusi ini dihadiri Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumatera Utara (Sumut) Hermanshah, Redaktur harian Medan Bisnis Nurhalim Tanjung, Putri wartawan dan sejarawan H Muhammad Said, Ida Tumengkol, wartawan senior As Atmadi yang juga Redaktur senior dan penanggunjawab media online Intainews.com.

Koran Perempoean Bergerak terbit pertama sekali pada 15 mei 1919 di Wilhelminastraat no. 44, Telp. 562, Deli, Sumatera Timur. Koran ini dicetak oleh NV Drukkerij ‘Setia Bangsa’ dan ditujukan sebagai ‘Penjokong Pergerakan Kaoem Perempuan’. Sedangkan jargon Surat kabar ini adalah ‘De Beste Stuurlui Staan aan wal’ atau ‘ sahabat terbaik mampu melindungi’- sesama perempuan harus mampu saling mendukung, saling melindungi.

Koran Perempoean Bergerak ini digawangi oleh redaksi perempuan yakni Boetet Satidjah, sebagai redactrice. Anong S Hamidah, Ch Baridjah, Indra Boengsoe dan Siti Sahara, Onderwijszeres Matang Gloempang Doea. Ketiganya didaulat menjadi Medwerksters (staf redaksi).

Sementara nama TA Sabarijah memangku jabatan sebagai Direktur Perempoean Bergerak. Parada Harahap sebagai Pemred, Belakangan tercatat juga nama Rabiatoel Adwie sebagai Matoer dan K Wondokoesoemo sebagai redaksi yang menerima karang-karangan dari djawa
Dalam acara diskusi tersebut, Anggia menuturkan, berdirinya koran ini tidak terlepas dari sokongan kaum laki-laki. Meskipun, banyak ditemui terjadi relasi yang timpang, namun diyakini pergerakan kemajuan yang ingin dicapai bersama dapat terwujud jika perempuan dan laki-laki berada pada percaturan yang sama.

Disebutkan Anggia yang juga Ketua Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) Sumatera Utara ini, penelitianini dilakukan mulai Desember tahun 2018 hingga Februari 2019 dengan menggunakan metode analisis wacana kritis dengan perspektif feminis.

Adapun model yang digunakan adalahanalisis tiga dimensi Norman Fairlough yang menggambarkan, setiap peristiwa penggunaan bahasa merupakan peristiwa komunikatif yang terdiri dari tiga dimensi yakni, teks, discourse practice dan sociocultural practice.
“Subjektivitas tidak dapat dihindarkan dalam penelitian ini, karena realitas ditemukan dalam teks merupakan hasil dari penafsiran peneliti. Tujuan penelitian yang saya lakukan ini bagaimana konsep feminisme yang digaungkan jurnalis dalam koran Perempoean Bergerak,” katanya.

Pengulas penelitian, J Anto mengatakan, alasan pemilihan Perempoean Bergerak dipilih sebagai objek penelitian sangat tepat, karena koran ini merupakan koran pertama di Sumut yang digawangi oleh perempuan di Sumatera Utara. Surat kabar ini juga menjadi bukti kemajuan besar bagi perempuan di Sumatera Utara, terutama karena ia dipimpin oleh perempuan.

“Perempoean Bergerak juga memiliki penyunting tulisan yang juga seorang perempuan. Hal ini menjadi istimewa, mengingat pada masa itu masih banyak masyarakat yang buta huruf. Nama koran ini juga terkesan lebih revolusioner jika dibandingkan dengan surat kabar perempuan yang pernah terbit di Padang, Soenting Melayu (1912),” jelasnya.

J Anto menilai, banyak ‘harta karun’ literasi di Sumut yang memerlihatkan ‘pergulatan intelektual’ kaum terpelajar zamannya, namun belum banyak yang digali. Salah satu sumber harta karun itu adalah surat kabar yang kali ini digali oleh Lia Anggia Nasution.

“Sebelumnya untuk kajian sastra (puisi) sudah dilakukan oleh Sartika Sari, komik oleh Koko Hendri Lubis. Masih banyak yang perlu digali mengenali sejarah diri. Menurut saya, sebaiknya ada tabel yang berisi tentang judul tulisan, nama penulis, status penulis (redaksi dan non redaksi), laki-laki dan perempuan, siapa mereka, tanggal dan tahun pemuatan. Tabel seperti ini berguna untuk memberikan gambaran tentang produktivitas penulis isu feminisme pada zamannya, termasuk darimana posisi sosial seperti apa mereka (jika ada),” tukas J Anto. *Inc-03