Jakarta-Intainews.com:Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) berbicara mengenai pemimpin yang disukai rakyat dan akan dipilih. JK meminta untuk memilih pemimpin yang tidak otoriter serta tidak melakukan nepotisme (foto).

Hal tersebut disampaikan JK saat memberikan sambutan dalam pembukaan Silaturahmi Nasional (Silatnas) Institut Lembang Sembilan di Hotel Arya Duta, Gambir, Jakarta Pusat, Sabtu 23 Februari 2019. JK awalnya menjelaskan tahapan-tahapan sehingga seseorang dapat dipilih dalam pemilu.

“Pada dasarnya pemilu itu ada 3 tahapnya, dikenal, disukai, dan dipilih. Kalau kita tidak kenal, kita tidak mungkin disukai. Kalau tidak disukai, tidak mungkin dipilih. Karena itu kita harus menjelaskan sehingga orang mengetahui, dan orang juga menyukai dan kemudian memilih,” urai JK.

Pada kesempatan tersebut, JK menjelaskan dirinya tidak pernah mengusulkan diri untuk menjadi wakil presiden. Ia selalu diminta baik pada waktu mendampingi mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) maupun Presiden Joko Widodo (Jokowi).

“Saya dalam proses pemilu, itu tidak pernah mengusulkan. Selalu saya diminta. Saya tidak pernah meminta untuk jadi wapres. Saya selalu diminta untuk jadi wapres sejak zaman Pak SBY, Pak Jokowi. Waktu mau jadi presiden itu terpaksa,” ungkap JK. Kenapa terpaksa?

“Karena Golkar partai paling besar. Masa partai paling besar nggak punya calon. Maka tidak bergabung lagi dengan Pak SBY. Maka dibutuhkan harkat partai, karena saya bilang harkat partai perlu dijaga, partai besar harus juga mempunyai calon yang baik. Otomatis ketua umum menjadi calon yang baik. Semua orang mengusulkan ketua umum. Tapi seperti kita ketahui, tidak mudah melakukan itu,” jelasnya.

Terkait Pemilu 2019 ini, JK mengimbau untuk memilih pemimpin terbaik yang paling disukai. Namun, menurutnya, penting juga untuk belajar dari sejarah negara lain seperti Venezuela yang tengah bangkrut karena pemimpin yang otoriter.

“Hari ini kalau lihat di TV bagaimana Venezuela, negara yang paling tinggi cadangan minyak di dunia tapi dia jatuh termasuk negara termiskin di dunia. Artinya lebih banyak utang daripada harta, padahal negara kaya pada dasarnya. Ya karena otoriter dan nepotisme,” ucap JK.

Selanjutkan JK menegaskan, semua negara-negara yang otoriter, kita lihat semua negara Timur Tengah otoriter dan selalu bergabung dengan nepotisme. Suriah otoriter, Irak otoriter, Libia otoriter, kemudian banyak negara lain seperti itu, semuanya rusak.

Oleh karena itulah JK meminta Indonesia dijaga agar jangan sampai mengalami hal seperti Venezuela. JK meminta untuk memilih pemimpin yang tidak otoriter dan melalukan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).

“Maka itu lah kita harus menjaga bangsa ini untuk tidak mengalami seperti itu. Lepas daripada saya ada di situ dan tidak ada di situ, bukan persoalan. Karena itu saya harapkan kita menjaga kepentingan bangsa kita. Sehingga pemimpin yang kita pilih itu kemudian tidak menjadi otoriter dan KKN,” tutur JK. *dtc