Intainews.com:Di debat Pilpres kedua membahas isu yang menyangkut hajat hidup orang banyak yaitu energi, pangan, lingkungan hidup, sumber daya alam, dan infrastruktur, yang sebelumnya kedua Capres meowo nyatakan siap.

Paling tidak menyiapkan diri agar tidak seperti debat pertama yang dingin dan ‘anyep’.
Masyarakan Indonesia dapat menyaksikan sendiri, penampilan Prabowo sebagaimana dilansir Tirto, dia bicara tanpa angka yang penting adalah retorika angka dan data saat mendebat lawan bicaranya, Capres 01 Jokowi.

Prabowo sebagai capres dua kali dan cawapres sekali yang sering gembor-gembor soal isu ekonomi, ia malah jarang sekali memberi konteks dalam debat kedua melawan Presiden Jokowi. Dari 2.789 kata yang keluar dari Prabowo, ia hanya menyebut angka dalam 20 kali. Jumlah ini amat timpang dibandingkan Jokowi yang menyebut angka sebanyak 98 kali.

Disingsetkan lagi, angka-angka yang disebut Prabowo hanya sampiran, bukan inti dari yang ia sampaikan. Sementara Jokowi bicara “perlunya petani dikenalkan pada yang namanya marketplace […] membangun ekosistem offline dan ekosistem online“, untuk menjawab sesi pertanyaan mengenai problem skala kecil perikanan dan peternakan menghadapi revolusi industri 4.0; Prabowo menanggapinya dengan bicara seperti ini:

“… dahsyatnya perkembangan 4.0 … akan berdampak suatu yang punya biasanya pabrik mobil di Jerman yang punya 15.000 pekerja bisa diganti sekarang dengan robot-robot yang hanya membutuhkan kurang dari 50 orang bekerja, … tapi inti yang saya ingin sampaikan adalah kita bicara industri 4.0 sekarang masih belum bisa membela petani kita sendiri.”

Aksi Prabowo di debat capres ke-2

Atau, ia bicara apa yang disebut “disparitas”–alias kesenjangan ekonomi–dengan menggambarkan “segelintir orang, kurang dari 1 persen, menguasai lebih dari setengah kekayaan kita. Jadi kalau ada unicorn-unicorn, ada teknologi hebat, saya khawatir ini nanti lebih mempercepat nilai tambah dan uang-uang kita lari ke luar negeri. … Silakan Anda tertawa, tapi ini masalah bangsa.”

Lalu ia melanjutkan: “Kekayaan Indonesia tidak tinggal di Indonesia, menteri bapak sendiri mengatakan ada 11.400 triliun uang Indonesia di luar negeri. Di seluruh bank di Indonesia, uangnya hanya 5.465 triliun.”

Berbeda dengan Prabowo, status petahana memudahkan Jokowi menyampaikan gagasan disertai statistik, data, dan angka yang konkret. Misalnya, saat menyebut gelontoran bantuan untuk desa, Jokowi menyebut “187 triliun dana desa” yang berkaitan dengan bidang infrastruktur dalam tiga tahun, pembangunan “191 ribu kilometer jalan” produksi yang disebutnya “sangat bermanfaat bagi para petani”, “58 ribu unit irigasi” dari dana desa, produksi “3,3 juta ton jagung”, serta pembangunan “49 waduk”.

Paradoks Prabowo Dipukul Balik oleh Jokowi

Ada satu pesan yang selalu diulangi Prabowo saat tampil dalam debat. Pesan itu: “Kekayaan yang dilarikan ke luar negeri”. Ia mengangkut pesan ini dalam tiga kali pada segmen terpisah: pembacaan visi misi, segmen debat, dan pidato penutupan.

Pesan serupa ia ucapkan juga pada debat perdana, serta pada “pidato kebangsaan” di Jakarta dan Semarang jelang debat pertama dan kedua. Dalam debat kemarin, narasi ketakutan ini ia paparkan lebih panjang saat segmen debat terbuka dengan Jokowi.

Kata Prabowo: “Kekayaan Indonesia tidak tinggal di Indonesia, menteri bapak sendiri mengatakan ada 11.400 triliun uang Indonesia di luar negeri. Di seluruh bank di Indonesia, uangnya hanya 5.465 triliun. Berarti lebih banyak uang kita di luar daripada di Indonesia.”

Jokowi dan Prabowo Subianto sesaat usai debat capres ke-2. Foto Istimewa

Pesan itu ibarat menepuk air di dulang memercik muka sendiri. Seperti diketahui nama Prabowo pernah muncul dalam dokumen Paradise Papers, bocoran data berisi 13,4 juta dokumen dari hasil investigasi International Consortium of Investigative Journalist (ICIJ).

Basis data ini memuat rincian keuangan orang-orang kaya di seluruh dunia yang memarkir investasi di luar negeri untuk mendapatkan pajak rendah atau bahkan tanpa pajak sama sekali. Dokumen ini menunjukkan timbunan aset luar negeri dari para politisi dan perusahaan terkemuka serta sejumlah individu dan selebritas terkaya di dunia.

Nama Prabowo muncul dalam dokumen itu. Ia disebut pernah menjadi direktur dan wakil ketua Nusantara Energy Resources, sebuah perusahaan cangkang yang terdaftar di Bermuda, salah satu suaka pajak di dunia. Ia mengindikasikan Prabowo sempat melarikan uangnya ke luar negeri.

Dalam debat kemarin, kontradiksi lain dibongkar secara menohok oleh Jokowi sendiri. Semua itu bermula ketika Jokowi menanggapi Prabowo terkait programnya bagi-bagi sertifikat tanah. Kata Prabowo, program Jokowi itu memang “menarik dan populer” tapi hanya bisa dirasakan untuk “satu atau dua generasi.”

“Jadi, kalau bapak bangga dengan bagi-bagi 12 juta (sertifikat), 20 juta (sertifikat), pada saatnya kita tidak punya lagi lahan untuk kita bagi … bagaimana nanti masa depan anak-cucu kita?” tanya Prabowo.

Alih-alih memberi saran konkret, Prabowo memberi masukan: “Jadi kami strateginya berbeda, kami strateginya adalah Undang-undang Dasar 1945 pasal 33, ‘Bumi dan air dan semua kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara.'”

Jokowi menimpali dengan nada meninggi: “Saya tahu Pak Prabowo memiliki lahan yang sangat luas di Kalimantan Timur 220 ribu hektare, juga di Aceh Tengah 120 ribu hektare. Saya hanya ingin menyampaikan … pembagian-pembagian seperti ini tidak dilakukan masa pemerintahan saya.”