Tapsel-Intainews.com:Tiba-tiba 8 Januari 2019 lalu terpasang spanduk di bagian atas jembatan yang bertuliskan “Hentikan pembuangan Limbah PT AR karena air adalah sumber kehidupan kami. Kembalikan baku mutu air sungai kami.” Demikan cara masyarakat Desa Sumuran Kecamatan Batangtoru, Tapanuli Selatan (Tapsel) Sumatera Utara protes (foto).

Informasi dihimpun Intainews.com hingga Minggu 27 Januari 2019, dalam spanduk yang terbentang memanjang dan jadi perhatian pengendara, juga dituliskan, “sesuai UU Nomor 32 tahun 2009 pasal 98 ayat 1 setiap orang dengan sengaja melakukan baku mutu udara, dan baku mutu air sungai dan laut, dijatuhi hukuman pidana paling singkat tiga tahun dan paling lama 10 tahun, atau denda paling sedikit 3 miliar sampai dengan 18 miliar.”

Tak jelas tangan siapa yang memasang spanduk hingga terikat di besi jembatan selama dua hari baru dicopot. Diketahui sebelumnya, masyarakat Kabupaten Tapanuli Selatan, mengeluhkan air sungai yang digunakan untuk aktivitas kehidupan masyarakat Desa Sumuran Kecamatan Batangtoru diduga tercemar, akibat limbah tambang emas PT AR.

Menurut salah seorang warga Desa Sumuran yang tidak mau ditulis namanya, baru-baru ini mengaku belakangan kualitas air diduga tercemar. “Pemasangan spanduk protes itu merupakan bentuk spontan warga, karena sungai diduga sudah terjadi pencemaran limbah PT AR, dan perlu dilakukan penelitian,” tuturnya.

Saat wartawan melakukan konfirmasi terkait keluhan warga soal air Sungai di Desa Sumuran diduga masyarakat telah tercemar. Humas PT AR Febriany Dian Aritya Putri menyebut dirinya tidak bisa ditemui karena sedang rapat. Lalu dia memberikan kartu namanya kepada wartawan.

Ketua PWI Tapsel,Khairul Iman Hasibuan (baju putih)

Wartawan ke Polsek Batangtoru soal pengakuan Febriany tentang adanya sosialisasi limbah domestik yang dihadiri oleh unsur Muspika. Kapolsek Batangroru AKP DM Zein Harahap, mengatakan tidak tahu. “Kalau Sosialisasi di Desa Sumuran saya tidak tau, tapi sosialisasi 8 Januari 2019 di tambang saya hadir bersama pak camat,” kata Kapolsek.

Camat Batangtoru ketika dihubungi oleh Kapolsek, mengatakan dirinya sedang sibuk. Lalu saat Febriany Dian Aritya Putri dihubungi kembali menjelaskan, spanduk keberatan warga yang dipasang di jembatan sudah dicabut 10 Januari 2019.

Sebelumnya, ungkap Febriany saat dihubungi melalui telepon selulernya, pada 8 Januari 2019 pihaknya sudah melakukan sosialisasi izin limbah domestik kepada perwakilan tokoh masyarakat dari Desa Aek Pining, Sumuran, dan Batuhula. Sosialisasi ini dihadiri oleh Muspika Kecamatan Batangtoru dan Wakil Bupati Tapanuli Selatan.

“Saat ini perusahaan (PT AR) telah mengantongi izin melalui surat Keputusan Bupati Tapanuli Selatan Nomor: 503/ 09/ LB/ DPMPPTSP/2018 tentang Izin Pembuangan Limbah Cair Domestik PT AR yang dikeluarkan pada 20 Desember 2018 oleh Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu Daerah Pemkab Tapanuli Selatan,” ungkapnya.

Saat itu pula, Febriany mengatakan untuk masalah yang bersangkutan dengan media, sudah dipercayakan kepada Ketua PWI Tapanuli Selatan. “Sebagai perusahaan publik PT AR Selalu mematuhi segala regulasi yang ditetapkan,” tegas Febriany Dian Aritya Putri.

Ketika Ketua PWI Tapsel yang disebut-sebut oleh Febriany dikonfirmasi wartawan, membantah keras. “Saya tidak pernah tau kalau PT AR menitipkan Febriany ke teman teman media kepada saya. Hoax itu, saya tak pernah mencampuri urusan rekan-rekan wartawan,” tegas Khairul Iman Hasibuan, Ketua PWI Tapsel 24 Januari 2019, di Padangsidimpuan. *Inc-16-Inc-19