Ketua PWI Sumatera Utara, Herman Shah

Medan-Intainews.com:Belakangan ini banyak yang aneh dalam mengelola negara ini. Selain Polri yang secara kasat mata sudah menjadi alat kekuasaan, tapi mengapa DPR tak bereaksi dan pers bungkam atas kenyataan yang kita saksikan hari ini. Pers yang didaulat netral dan independen bagai tak berdaya.

Demikian diungkapkan tertulis Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumatera Utara (Sumut), Herman Shah, Rabu 26 Desember 2018. Dalam ungkapan akhir tahunnya, Herman juga menyebut Indonesia yang dibangun dalam bingkai negara demokrasi kenyataannya sedikit demi sedikit sudah mulai terbelenggu dalam tirani penguasa yang zhalim.

“Kalau negara ini ibarat kursi berkaki empat. Satu kaki adalah Pemerintahan serta kaki lainnya adalah hukum dan DPR, serta TNI-Polri dan pers juga kaki lainnya. Sekarang negara ini cuma disokong oleh satu kaki lagi yang masih tegak berdiri, itupun terseok akibat hantaman kiri kanan di persekusi yakni para alim ulama yang membuktikan jati dirinya melalui aksi 212,” ungkapnya.

Menurut pandangannya di akhir tahun 2018, sekarang ini yang masih ditunggu rakyat, mampukah pers kembali bersuara lantang sebagai perisai negara demokrasi. Hal ini mengingatkan sejarah NKRI yang lepas dari belenggu penjajah sejak 1945, yang dikawal oleh pers dan para pejuang di belakangnya.

Sehingga enam bulan setelah kemerdekaan pada 9 Februari 1946 melahirkan organisasi pers yang diberi nama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) tetap setia mengawal NKRI dalam tiap pergantian rezim, mulai dari Orde Lama ke Orde Baru berlanjut ke Orde Reformasi saat ini.

“Beranikah kita bereaksi atas situasi hari ini yang menjauh dari cita-cita sebagai negara demokrasi, atau bagaimana agar pers kita tidak diam membisu terbius fatamorgana dan ilusi. Untuk kemudian dianggap hilang tak berbekas karena tak punya gigi, apalagi taring untuk bisa bersuara lantang seperti saat kita meneriakkan kata “Merdeka” ke seantero negeri dan jagad raya alam semesta.

Herman dengan tulus meminta, ayo bangunlah pers Indonesia untuk kembali bersuara lantang menegakkan demokrasi. Menyadarkan para penguasa agar tak terlalu jauh melenceng dari arah cita cita sebagai negara demokrasi. “Bravo demokrasi, NKRI harga mati, Bangkitlah Pers Indonesia,” tegasnya. *Inc-03