Kampoeng Pelangi. Foto Istimewa

Semarang-Intainews.com:Kampung Pelangi di Semarang, Jawa Tengah itu sebelumnya dikenal sangat kumuh dan perekonomian warganya memprihatinkan. Rumah-rumah warga reot menimbulkan pemandangan yang tidak mengenakkan mata dan hati.

Lalu oleh ide kreatif Walikota Semarang Hendrar perumahan warga yang kumuh dicat warna-warni, sehingga bagai ‘bim salabim’ kampung kumuh sontak berubah jadi indah. Kini dikenal dengan Kampoeng Pelangi.

Menanggapi hal itu, Kabag Humas Pemko Medan Ridho Nasution yang diwakili Kasubbag Humas Pemko Medan, Hendra Tarigan S.Sos saat mengunjungi Kampoeng Pelangi bersama rombongan Wartawan Unit Pemko Medan mengatakan, apa yang dilakukan Pemko Semarang dapat menjadi inspirasi dan diadopsi Pemko Medan untuk diterapkan.

“Seperti Kampoeng Pelangi, awalnya daerah kumuh di pinggiran sungai yang kotor dan rawan tindak kriminal, berhasil diubah menjadi kawasan sangat menarik dan menjadi salah satu ikon kebanggaan Kota Semarang. Jadi yang baik-baik ini bisa ditiru untuk kebaikan Kota Medan,” kata Hendra.

Awalnya, tahun 2017, ungkap Edo seorang pemandu wisata untuk rombongan wartawan unit Pemko Medan, waktu itu Pak Hendrar masih Wakil Walikota Semarang. Digelontorkan Rp 9 miliar bersumber dari APBD Kota Semarang, mengecat rumah-rumah kumuh.

Hendrar Prihadi & Kampoeng Pelangi. Foto Istimewa

“Tidak ada retribusi ataupun donasi wisatawan yang masuk ke kampung ini. Namun, dengan banyaknya wisatawan datang mampu meningkatkan penjualan para pedagang di sini,” ujar Edo, Rabu 28 November 2018.

Perkampungan kumuh yang berada di Jalan DR Sutomo Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah menjadi penarik minat wisatawan lokal maupun mancanegara, setelah disulap alias dibenahi tangan dingin Walikota Semarang Hendrar Prihadi.

Tak hanya sampai di pengecatan saja, Pemko Semarang melakukan pembinaan para pedagang kaki lima yang berada di pinggir jalan Kampoeng Pelangi. Tanpa penggusuran pedagang kaki lima dan masyarakat, kecuali dilakukan pembinaan dengan cara persuasif membenahi.

“Selanjutnya warga sendiri yang melakukan pengecatan rumah mereka masing-masing,” ungkap Edo sembari menambahkan ada lebih dari 300 Kepala Keluarga (KK) berdiam di Kampoeng Pelangi saat ini yang dulunya bekerja sebagai buruh dan pedagang kecil. *Inc-03