Prabowo sama sekali tak masalah dengan semua itu. Yang terpenting baginya adalah mendengarkan suara rakyat. Eks Danjen Kopassus itu lalu menceritakan dirinya yang sebetulnya tak ingin menghadiri acara ini. "Maksud saya tadi saya tak mau datang. Saya suruh cek Pak Jokowi datang apa nggak. Belum ada konfirmasi. Datang nggak ya, aku? Nggak enak eh ada Pak Din Syamsuddin," jelasnya. Sebelum menutup pidatonya, Prabowo menyebut pilihan politik boleh berbeda dengan syarat kepentingan bangsa benar-benar dipikirkan. Prabowo tak mengajak hadirin untuk memilihnya pada pilpres mendatang. "Saya kira demikian. Saya tidak minta Saudara pilih saya, itu hak Saudara semua, silakan dipikirkan. Mudah-mudahan Saudara akan pilih yang terbaik," ucapnya. *Dtc Prabowo sama sekali tak masalah dengan semua itu. Yang terpenting baginya adalah mendengarkan suara rakyat. Eks Danjen Kopassus itu lalu menceritakan dirinya yang sebetulnya tak ingin menghadiri acara ini. "Maksud saya tadi saya tak mau datang. Saya suruh cek Pak Jokowi datang apa nggak. Belum ada konfirmasi. Datang nggak ya, aku? Nggak enak eh ada Pak Din Syamsuddin," jelasnya. Sebelum menutup pidatonya, Prabowo menyebut pilihan politik boleh berbeda dengan syarat kepentingan bangsa benar-benar dipikirkan. Prabowo tak mengajak hadirin untuk memilihnya pada pilpres mendatang. "Saya kira demikian. Saya tidak minta Saudara pilih saya, itu hak Saudara semua, silakan dipikirkan. Mudah-mudahan Saudara akan pilih yang terbaik," ucapnya. *Dtc Din Syamsuddin dan Prabowo Subianto. Foto Istimewa

Jakarta-Intainews.com:Ketum Partai Gerindra sekaligus capres nomor urut 02 Prabowo Subianto memberi pidato di acara Pergerakan Indonesia Maju (PIM) yang juga dihadiri Ketua Dewan Nasional PIM Din Syamsuddin.

Prabowo menceritakan betapa berbahayanya kalau dirinya telah memegang mikrofon (mik). “Karena ini gerakan budaya, saya tidak mau lama-lama. Sebetulnya Prabowo ini berbahaya kalau dikasih mik,” ujar Prabowo di Grand Sahid, Jakarta Pusat, Jumat 12 Okteber 2018.

Prabowo lalu membahas pikiran PIM yang sejatinya hendak disampaikan ke dua pasangan capres-cawapres. Namun, pasangan Jokowi-Ma’ruf tak hadir karena ada agenda yang sebelumnya telah terjadwal.

Pikiran PIM yang dibacakan Din Syamsuddin di antaranya soal visi kebangsaan Indonesia yang disebut telah termaktub jelas pada pembukaan UUD ’45, yaitu membentuk negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Ada lagi soal kemajemukan yang harus dijaga serta masalah tantangan dan peluang bangsa. Bagi Prabowo, visi PIM hampir sama dengan yang pihaknya tawarkan untuk perubahan Indonesia. “Bisa dikatakan sepintas 99,99% cocok dengan saya, begitu,” ucap Prabowo.

Prabowo lantas berbicara soal risiko yang dihadapinya saat kampanye ini. Dia menyebut flu merupakan penyakit yang kerap menghampirinya di periode kampanye. “Saya sebetulnya sedang flu, rupanya politik ini risikonya banyak, maksud saya risiko kena flu.

Risiko lain banyak juga gitu. Kalau kita keliling, rakyat kita ingin selalu bersentuhan, cium tangan, ada yang mau cipika-cipiki, terutama ortu ada yang membawa bayi. Saya sudah lihat pasti mintanya untuk digendong dan dicium,” katanya.

Prabowo sama sekali tak masalah dengan semua itu. Yang terpenting baginya adalah mendengarkan suara rakyat. Eks Danjen Kopassus itu lalu menceritakan dirinya yang sebetulnya tak ingin menghadiri acara ini.

“Maksud saya tadi saya tak mau datang. Saya suruh cek Pak Jokowi datang apa nggak. Belum ada konfirmasi. Datang nggak ya, aku? Nggak enak eh ada Pak Din Syamsuddin,” jelasnya.

Sebelum menutup pidatonya, Prabowo menyebut pilihan politik boleh berbeda dengan syarat kepentingan bangsa benar-benar dipikirkan. Prabowo tak mengajak hadirin untuk memilihnya pada pilpres mendatang.

“Saya kira demikian. Saya tidak minta Saudara pilih saya, itu hak Saudara semua, silakan dipikirkan. Mudah-mudahan Saudara akan pilih yang terbaik,” ucapnya. *Dtc