No.52

Dokter Muslim merasa dirinya sudah punya tanggung jawab untuk menafkahi Tini yang sudah menjadi istrinya

Intainews.com:Muslim masuk ke rongga cinta bersama Tini yang sudah menjadi istrinya, tidak yang melarang tidak juga ada batas. Semuanya jadi bebas melayang-layang dalam dunia imajinasi. Keduanya bagai sedang berperahu di lautan luas. Dokter terus berkayuh tanpa peduli, dan Tini benar-benar terbawa dan tenggelam dalam cinta merasa berada di perahu bergelombang, sampai pada satu titik klimaks keduanya terkapar di pantai bahagia.

Dokter Muslim masih mengatur nafasnya dengan benar sambil memandangi istrinya yang juga terengah-engah. Tini mencubit pelan lengan suaminya sebagai tanda dia sudah diberi apa yang sebelumnya hanya mimpi dan bayang-bayang bercinta.

Sekarang, baru saja berlalu dirinya mendapat kenikmatan dan kelezatan bersuami istri. Dokter Muslim juga begitu, merasakan sesuatu yang berlebih tiada tara saat bersama menikmati bercinta. Di kecupnya kening Tini yang sudah memberi keindahan dan kenikmatan di atas peraduan.

“Haus, bang…”

“Oh ya, abang ambilkan,…” kata suaminya.

“Jangan,…biar Tin yang ambilkan untuk abang,..” ujar Tini sambil membalut badannya dengan selimut hotel. Oh, Dokter berkata dalam hati, apakah ini tandanya istri yang mengabdikan diri kepada suaminya. Tini datang membawakan air putih bening dan membantu suaminya meneguknya. Tidak usah pun dibantu, Dokter Muslim bisa melakukannya, tetapi harus dibantu istri yang mengerti sopan santun dan berakhlak baik.

“Nah,… kalau begitu,…Abang juga mengambilkan air minum kepada istriku sayang,….’’

“Jangan, tidak usah Bang, biar Tin yang mengambil sendiri untuk Tin,..” Lalu Tini mengambil air minum untuk dirinya sendiri. Seterusnya keduanya kembali merebahkan diri di peraduan, saling berpagut. Tini seperti anak burung yang dilindungi induknya dari rasa dingin. Dokter Muslim merasa dirinya sudah punya tanggung jawab untuk menafkahi Tini yang sudah menjadi istrinya. Memenuhi segala yang dibutuhkannya, memelihara cinta mereka berdua. Selanjutnya keduanya terlelap. Hilang segala sesuatu yang duniawi.

Di saat yang sama Haji Sardan sudah kali kedua dihubungi Ana, Istri Ustadz Daham yang menyampaikan keadaan suaminya semakin payah. Terus saja tidak sadarkan diri. Dan dokter belum juga memberitahu, apa gerangan penyakitnya. Ana mengelus kening dan kepala suaminya. Ingin sekali Ustadz Daham kembali seperti sedia kala. Kalau ada apa-apa, apakah harus anaknya tidak mengenal ayahnya? *Bersambung