Dadang Darmawan Pasaribu. Foto Istimewa

OLEH DADANG DARMAWAN PASARIBU *

Di berbagai sudut kota penggsururan kaum marjinal terus terjadi. Untuk kesekian kalinya rakyat percaya dan kembali menunggu-nunggu sembari berharap esok lusa “fajarkebahagiaan” benar-benar akan datang

Intainews.com:MESKI terkadang tidak tersuarakan ke tengah-tengah masyarakat, secara umum masyarakat suatu bangsa, dimanapun berada akan selalu menunggu datangnya suatu hari dimana mereka benar-benar memperoleh kebahagiaan lahir dan bathin.

Terlebih bagi masyarakat marjinal/ pinggiran yang nyaris tak beranjak didekap kemiskinan, keterbatasan, kekumuhan, dan ketertindasan datangnya era kebahagiaan adalah seperti memperoleh air di padang gurun, bak mentari pagi yang menerangi bumi memberi kesegaran. Nyaris tidak ada masyarakat yang tidak percaya bahwa kebahagiaan sebagaimana yang telah “dijanjikan” oleh siapapun akan tiba suatu hari kelak.

Adalah Bung Karno yang meyakinkan bahwa rakyat Nusantara adalah contoh rakyat yang senantiasa menunggu-nunggu akan datangnya Ratu Adil, yang akan membawa kebahagiaan bagi bangsa Indonesia. Saat ditangkap karena tuduhan makar pada Pemerintah Hindia Belanda, Bung Karno justru menggunakan ruang pengadilan untuk menyampaikan pidatonya yang berjudul “Indonesia Menggugat”.

Dengan berapi-api di Bandung, 2 Desember 1930 di gedungDen Landraad Te Bandoeng atau Pengadilan Negeri tingkat pertama di wilayah Hindia-Belanda di Bandung Bung Karno menjelaskan kenapa dia atas nama rakyat Indonesia mesti bertindak.

Bung Karno menyampaikan bahwa harapan dan keyakinan akan datangnya Ratu Adil itulah yang telah mendorong bangsa Indonesia berjuang merebut kemerdekaannya. “Silakan pertimbangkan tuan hakim, kenapa orang orang hindiabelanda [Indonesia] masih menunggu ratuadil?”. “Kenapa hingga saat ini Jayabaya membangkitkan harapan rakyat? Tidak ada alas an lain selain karena rakyat menangis menunggu dengan yakin demi keselamatan mereka.

Seperti seseorang hidup di kegelapan yang tak pernah menyerah untuk menunggu dan berharap, setiap jam, setiap menit, setiap detik. Kapan matahari akan terbit?” lanjut Bung Karno. Teks tentang “menunggu” juga akrab dengan kaum agama. Umumnya para penganut setiap agama meyakini akan datangnya seorang pemimpin [Imam Mahdi] yang dipercaya akan membebaskan manusia dari berbagai masalah [dosa].

Menurut Ensiklopedi Islam, Imam Mahdi adalah seorang juru selamat akhir zaman. Imam Mahdi diyakini sebagai seorang Muslim pilihan Allah Swt yang datang bertugas menghancurkan kezaliman dan menegakkan keadilan di muka bumi sebelum kiamat tiba [John L Esposito dalam Ensiklopedi Oxford].

Pendeknya, semangat manusia untuk terus hidup di kolong jagad yang tak bersahabat ini, adalah karena didorong atas keyakinan “menunggu” akan terbitnya fajar kebahagiaan pada mereka atau anak cucu mereka.

Adakah Bangsa Indonesia Menunggu Godot?

Mirip juga dengan kisah sebagaimana yang ditulis oleh Samuel Beckett [1906-1989] seorang pengarang Irlandia yang menulis dalambahasa Perancis dalam bukunya “En Attendant Godot” atau dalam bahasa Inggris disebut “Waiting for Godot” atau dalam bahasa Indonesia berarti “Menunggu Godot”. Cerita ini ditulis pada tanggal 9 Oktober 1948 dan selesai padatanggal 29 Januari 1949 yang diterbitkan oleh penerbit Gove Press tahun 1952, yang akhirnya terjual sebanyak 2 juta eksemplar.

Suatu kisah yang menggambarkan sangat setia menunggu kedatangan Godot di tengah-tengah kehidupan mereka penuh dengan kegetiran, kesengasaran, terik menyengat dan tandus. Hidup dengan beratap langit, makan tak makan, di gurun tandus. Namundi tengah kesengsaraan itu, Godot terus menerus mereka yakini suatu hari akan dating memberikan kebahagiaan, memberikan rumah, dan memberikan banyak makanan lezat kepadamereka.

Di sela-sela “menunggu” itulah kerap datang seorang anak lelaki pengembala [Boy] yang mengaku sebagai suruhan Godot [Tuannya], yang selalu meyakinkan bahwa esok Tuannya akandatang memberi kebahagiaan. Dalam masa “menunggu” itu datanglah seorang tuan tanah [Pozo] yang kejam dengan budaknya Lucky yang diikat lehernya seperti binatang. Mereka mengira si Tuan Tanah itulah Godot, namun Pozo meyakinkan mereka bahwa dia bukan Godot tapi Tuan Tanah. Pozo hanya tahu bekerja dan memperbudak Lucky demi kebahagiaan dirinya.

Dalam masa “menunggu” itu, bahkan seandainyapun Godot benar-benar tak akan datang, namun “menunggu” itu kini telah menjelma menjadi suatu “keyakinan”, “keimanan” atau “berhala” tersendiri bagi Vladimir dan Estragon. Tidak “menunggu”, justru adalah“dosa” dan “bencana”. Bahkan sangkin lelahnya menunggu Vladimir dan Estragon sempat mencoba bunuh diri, hingga timbul keputusasaan, “benarkah Godot akan datang”?

Namun seiring dengan munculnya keputusasaan, muncul pula seorang bocah angon [boy] yang selalu mengangon kambingnya sambil terus meyakinkan Vladimir dan Estragon bahwa Godot Tuannya pemilik kambing itu pasti akan datang. Sebagai bangsa Indonesia, kita juga jelas-jelas sedang menunggu-nunggu, tahun demi tahun, hari demi hari, akan muncul nyafajar kebahagiaan.

Sudah 74 tahun [1945-2019] tahun kita menunggu-nunggu namun fajar kebahagiaan belum juga muncul. Bagi masyarakat jelata [buruh, petani, nelayan, kaum miskin dan penganggur] pahit, getir kehidupan adalah kenyataan sehari-hari yang melekat dalam kehidupan mereka.

Hari demi hari, pekerjaan semakin sulit, daya beli semakin menurun, harga-harga kebutuhan pokok semakin meningkat, masih ditambah dengan berbagai beban kehidupan yang mesti ditanggung. Di tengah hamparan pertanian, kaum tani justru menjadi buruh tani, sementara di tengah berdirinya pabrik di kawasan industry, para buruh hanyalah menjadi budak upah. Di berbagai sudut kota penggusuran kaum marjinal terus terjadi, sementara di sudut-sudut desa angkuhnya para pemilik modal juga terus menerus menggusur penduduk desa.

Namun di sebalik penderitaan dan kegetiran hidup itu, rakyat jelata, petani gurem masih terus bertahan sambil terus-menerus berharap-harap dan menunggu-nunggu akan datangnya “fajar kebahagiaan” yang terus dijanjikan. Meski tidak dapat dipungkiri ada sebagian masyarakat yang sudah bosan menunggu dan bahkan sudah tak lagi percaya dengan janji-janji muluk para pemimpin yang selalu meminta mereka sabar menunggu, bahwa esok-esok “fajar kebahagiaan” akan datang.

Rona keputusasaan jelas tak dapat disembunyikan di balik wajah-wajah kelelahan kaum miskin papa. Namun sebagaimana yang dilakukan Vladimir, sebagaian rakyat jelata yang lain tetap mengingatkan dan menenangkan bahwa hanya “menunggu” yang bisa dilakukan.

Tidak jarang disaat kesedihan yang terus menerus melanda itu, muncul kaum pemodal, kaum teknokratik, muncul para pemimpin di tengah-tengah rakyat membawa berbagai program. Banyak lapangan pekerjaan dibuka, banyak beasiswa diberikan, harga-harga pertanian menjanjikan, tak lupa banyak janji-janji politik disampaikan. Sampai-sampai kaum jelata pada bertanya-tanya, inikah “fajar kebahagiaan” yang mereka tunggu-tunggu selama ini kini sudah tiba di hadapan mereka?

Namun, apalacur, kaum pemilik modal, kaum teknokrat juga para politisi sudah berterus terang kepada mereka bahwa mereka adalah pemilik modal, politisi, teknokratik yang sedang bekerja demi memperoleh keuntungan, tidak lebih!. Mereka berterus terang tak ada kebaikan di hati mereka, dan merekapun tak perduli akan nasib kaum jelata. Mereka berterus terang, bahwa mereka bukan “fajar kebahagiaan” melainkan “mesin kegelapan”.

Hingga akhirnya, rakyat pun percaya bahwa “fajar kebahagiaan” itu memang tidaka kan pernah datang pada kehidupan mereka betapa pun mereka sudah menungu-nunggu selama ini. Hingga tak sedikit hari ini rakyat dipenuhi rasa keputusasaan yang akut. Sebagian bahkan memilih “kematian yang lebih cepat”, “memilih bunuh diri”, atau “memilih bungkam”.

Namun di tengah-tengah keputus-asaan tersebut, tetap saja para penguasa maupun pemuka agama dengan segenap pengikutnya, selalu saja meyakini rakyat, bahwa “fajar kebahagiaan” pasti akan datang. Dan untuk kesekian kalinya rakyat percaya dan kembali menunggu-nunggu sembari berharap esok lusa “fajarke bahagiaan” benar-benar akan datang.

DAFTAR PUSTAKA:Beckett, Samuel. Waiting for Godot, tragicomedy in two acts.New York:Grove Press, inc. 1954.

* Penulis adalah, Pengamat Sosial, Dosen FISIP USU dan penulis buku ‘ Kita Telah Mati’

  • Setiap karya tulis opini disiarkan di kolom Kontemplasi ini, menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini, maka sesuai aturan pers dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis opini. Dan Redaksi akan menyiarkan tulisan tersebut secara berimbang.