Dadang Darmawan Pasaribu. Foto Istimewa

OLEH DADANG DARMAWAN PASARIBU * 

“Kita tak percaya bahwa masyarakat/bangsa adalah sandaran kehidupan kita yang terkuat”

Intainews.com:TULISAN ini masih tentang Pidato Kemenangan Presiden Jokowi, di Sentul International Convention Center [SICC] Bogor yang diberi judul “Visi Indonesia”. Jokowi menyampaikan 5 visi pembangunan Indonesia ke depan, yaitu meneruskan pembangunan infrastruktur, SDM [kesehatan dan pendidikan], Investasi, Reformasi Birokrasi dan Alokasi APBN yang tepat sasaran. Sebagai penutup dikatakan, semua visi itu syaratnya adalah bangsa Indonesia mesti bersatu, optimis dan percaya diri.

Pada bahagian penutup inilah yang hendak di elaborasi lebih mendalam, dimana tanpa persatuan, sikap optimis dan percaya diri mustahil Visi Indonesia terwujud. Intinya, mesti ada kerelaan berkorban lebih dahulu [rela menekan ego, menekan kepentingan kelompok] untukmencapai “Visi Indonesia”. Satu ungkapan yang pantas untuk menggambarkan pentingnya pengorbanan itu didahulukan adalah “Jer Basuki Mawa Beya”.

Jer Basuki Mawa Beya, adalah suatu ungkapan [peribahasa Jawa] yang artinya “untuk menjadi bahagia dibutuhkan biaya”. Dalam makna yang lebih philosofis, dapat dimaknai bahwa untuk mewujudkan kebahagiaan yang telah kita cita-citakan, dibutuhkan pengorbanan yang setimpal. Jer Basuki Mawa Beya, mungkin sepadan dengan ungkapan Arab yang terkenal “Man Jadda Wa Jada” yang artinya “siapa bersungguh-sungguh pasti akan mendapat”.

Mungkin juga sepadan dengan pepatah “dimana ada kemauan, di situ ada jalan“. Intinya, semua ungkapan itu menegaskan bahwa jangan sekali-kali berharap sesuatu kalau kita hanya berdiam diri tanpa melakukan sesuatu. Mereka yang bekerja keras, cerdas lagi ikhlas pasti akan beda ganjarannya dengan mereka yang bekerja santai apalagi bekerja serabutan, terlebih pengangguran. Mungkin makna itu yang ingin disampaikan oleh Jokowi diakhir pidato penutupnya.

Jer Basuki Mawa Beya, dengan demikian adalah ungkapan yang luar biasa maknanya dalam mendorong setiap orang untuk bekerja keras, siap berkorban, demi menggapai cita-cita yang diimpikan. Wajarlah jika ungkapan bijak ini kemudian dijadikan motto resmi Jawa Timur (sejak Tahun 1974). Niatnya tentu sangat jelas, yaitu mendorong masyarakat Jawa Timur agar bekerja keras, cerdas dan ikhlas serta rela berkorban demi kebahagiaan yang hakiki di masa depan.

Jejak Rekam Pengorbanan

Adakah jejak Jer Basuki Mawa Beya hidup di tengah bangsa Indonesia? Setidaknya ada empat jejak rekam implementasi Jer Basuki Mawa Beya, yang dengan sukses sudah dicontohkan oleh para pendahulu bangsa kita.

Pertama, adalah kesungguhan untuk melawan penjajah dengan cara rela mengorbankan harta dan jiwa demi Indonesia merdeka dan terwujudnya kebahagiaan bagi anak cucu kita. Kalau kita hitung-hitung nilai pengorbanan yang telah diberikan para pejuang bangsa, maka jelas pengorbanan mereka tidak akan dapat kita hitung denga materi.

Sebab para pejuang bangsa tidak hanya mengorbankan materi melainkan juga mengorbankan jiwa dan masa depan mereka demi masa depan bangsa.Dari kerelaan berkorban itulah Indonesia merdeka. Dari pengorbanan harta dan jiwa mereka itulah Indonesia sukses mengusir penjajah dari tanah air Indonesia. Dari pengorbanan merekalah bangsa Indonesia lahir dan memiliki cita-cita yang setara dengan bangsa-bangsa lain di seluruh dunia.

Kedua, adalah pengorbanan untuk menempatkan nilai-nilai Pancasila sebagai nilai dasar [dasar falsafah], pedoman hidup dan sekaligus sebagai dasar Negara. Kita tahu di tengah-tengah bangsa Indonesia melekat sejumlah keragaman identitas yang senantiasa mengancam persatuan bangsa, yaitu mulai identitas keagamaan, identitas kesukuan, maupun identitas warna kulit maupun kelompok/kedaerahan.

Namun di tengah-tengah perbedaan identitas yang melekat itulah para pemuka agama, tokoh masyarakat, pemuka adat bermusyawarah untuk melahirkan satu kebulatan tekad melahirkan nilai bersama yang dijadikan sebagai pedoman, falsafah dan dasar Negara yang kemudian disebut dengan Pancasila. Sangatlah sulit membayangkan apa yang akan terjadi jika masing-masing identitas dengan kokoh mempertahankan identitasnya masing-masing.

Ketiga, adalah pengorbanan dalam melahirkan bahasa yang satu yaitu bahasa Indonesia. Kita paham betul bahwa bahasa-bahasa yang ada di Indonesia sangat banyak, setidaknya ada ratusan bahasa yang digunakan oleh ratusan suku bangsa di Indonesia.Lantas bahasa manakah yang mesti digunakan sebagai bahasa persatuan? Bagaimana seandainya jika semua suku menginginkan bahasa sukunya sendiri sebagai bahasa pergaulan atau bahasa nasional?

Keempat, adalah kerelaan untuk Gotong Royong dalam membangun bangsa. Satu harta yang mestinya sangat kita syukuri melekat dalam tubuh bangsa Indonesia yaitu budaya luhur Gotong Royong. Dengan Gotong Royong yang sudah merupakan budaya luhur itulah bangsa Indonesia melakukan pembangunan. Sudah kita yakini bahwa setiap pekerjaan yang kita lakukan sejak dahulu kala, semuanya bisa terlaksana dengan Gotong Royong. Dengan Gotong Royonglah kita membangun rumah, memberishkan ladang, menanam padi, rewangan saat mau pesta, membangun desa, membangun balai desa, memanen hasil-hasil bumi, menjaga keamanan kampong, dan saling melindungi satu dengan yang lain.

Realitas Pengorbanan Saat Ini?

Sudah menjadi ketentuan, jika hukum alam berlaku dalam kehidupan kita, utamanya “hukum waktu”. Semua kita akhirnya terikat “ waktu”. Lihat, tanaman yang kita tanampun punya umur waktu. Setelah puluhan hari kemudian bisa dipetik hasilnya. Waktu jualah yang membuat anak-anak kemudian menjadi dewasa dan beruban. Waktu juga yang membuat kayu-kayu lapuk dimakan usia. Waktu jugalah yang mebuat kita selama 9 bulan dikandungan Ibu, lahir dan akhirnya menemuai ajal. Dan tidak lupa, waktu jugalah yang membuat suatu bangsa punah.

Begitu juga perjalanan kebangsaan dan kenegaraan kita akhirnya mengalami perubahan yang signifikan dari waktu ke waktu. Dari yang awalnya sebagai bangsa kita belum terlahir, belum apa-apa, dan belum menjadi siapa, kemudian kita terlahir (merdeka), berjalan merangkak, dan berjuang menghadapi kehidupan dikolong jagad ini.Tak terasa, usia kemerdekaan kita sudah 74 tahun (1945-2019).

Namun apa hendak dikata,pengorbanan para pahlawan yang memerdekakan bangsa ini, yang semestinya menjadi spirit mengisi kemerdekaan, justru semakin jauh dari kenyataan. Spirit pengorbanan kita semakin lemah dan hilang.

Pertama, kini tak kita temui lagi anak-anak bangsa dengan spirit pengorbanan yang kuat, yang rela mengorbankan kepentingan pribadi dan keluarganya demi menjujung tinggi kepentingan bangsa dan negara. Yang ada adalah, kita mengorbankan negara ini demi memperoleh keuntungan untuk diri dan keluarga. Berapa banyak harta negara di kuras, hutan ditebang, masa depan ratusan juta orang dikorbankan ?

Kedua, yang hilang saat ini adalah spirit kebangsaan [consensus] dimana dulunya kita telah sukses megorbankan ego identitas kita demi melahirkan “Pancasila”. Bukan memperkuat ikatannya, malah sedikit demi sedikit kita mulai mengendurkan dan mengurainya. Kita bahkan hampir melepaskan ikatan bathin kita sebagai suatu bangsa yang Pancasilais. Wajar jika kita semakin curiga dan bermusuhan satu sama lain.

Ketiga, tanpa kita sadari kita juga mulai kehilangan semangat untuk memiliki “bahasa” yang sama dalam kehidupan kebangsaan. Meski bahasa Indonesia tetap kita gunakan bersama, namun bahasa “kesatuan pikiran dan tindakan” kita sudah jauh berbeda. Banyak kelompok justru mempertontonkan “bahasa” yang berbeda dalam menyikapi berbagai soal yang sedang kita hadapi. Kita tak lagi memiliki “bahasa” yang sama tentang Pancasila, tentang narkoba, tentang nilai-nilai Neo-Libealisme, tentang keluarga, dan tentang Indonesia itu sendiri. Kita kerap mengedepankan “bahasa” kita masing-masing menyikapi banyak soal sehingga yang terjadi justru benturan bahasa yang berujung benturan fisik.

Keempat, yang tak bisa kita pungkiri adalah menguatnya sikap-sikap indvidualisme dan melemahnya gotong royong. Kita sadar betul bahwa semangat dan spirit gotong royong untuk membangun bangsa kita sedang berada dalam titik nadir [terendah].Yang menguat justru sikap mementingkan diri pribadi. Baik masyarakat di Kota maupun di Desa kini kesulitan melakukan gotong royong dalam berbagai aspek kehidupan. Kini semua kita berubah menjadi “pemain bayaran”. Segala sesuatunya mesti ada bayarannya.

Akibatnya kini kita semua terjebak dalam pergaulan transaksionis, pergaulan yang pragmatis, pergaulan yang hanya menghitung untung dan ruginya belaka.Kita hanya mau bekerja jika dibayar, meski untuk kepentingan bersama.Kini kita sudah tak percaya adanya pertolongan dari teman, tetangga, ataupun negara. Kita semakin percaya bahwa nasib kita hanyalah ditentukan oleh diri kita sendiri, hingga akhirnya kita tak percaya bahwa masyarakat/bangsa adalah sandaran kehidupan kita yang terkuat.

* Penulis adalah, Pengamat Sosial, Dosen FISIP USU dan penulis buku ‘Kita Telah Mati’

  • Setiap karya tulis opini disiarkan di kolom Kontemplasi ini, menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini, maka sesuai aturan pers dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis opini. Dan Redaksi akan menyiarkan tulisan tersebut secara berimbang.