Dadang Darmawan Pasaribu

Amatlah malangJ ajaran PLN, karena mereka benar-benar tidak pernah paham apa itu makna “terhormat”, “bijak”, “teladan” dan “tanggungjawab”.

Intainews.com:PADA hari Minggu, tangga l4, pukul 11.48 WIB terjadi pemadaman listrik di beberapa daerah di PulauJawa utamanya Ibu Kota Jakarta, Bogor, Bekasi, Tangerang hingga Jawa Bara tyang lamanya lebih dari 10 jam. Kerugiannya jelas bukan main, baik kerugian material maupun non material terlebih kerugian namabaik Presiden yang baru saja mendeklarasikan “Visi Indonesia” ke depan, dimana Visi itu fokusnya pada “investasi” dengan konsekuensi bagi siapapun yang menghambat “ikliminvestsasi” akan disikat Presiden.

Dengan kejadian “Kematian PLN” ini bisa saja diduga sebagai sebuah “sabotase” atasVisi Indonesia tersebut. Masyarakat dan berbagai kalangan sebagai pihak yang terdampak, jelas bak air bah datang tak terbendung melampiaskan keheranan, kekesalan, dan kemarahannya. Media social kembali dibanjiri komentar “ratapan” yang tak berkesudahan mengupat dan mencaci-maki Jajaran PLN. Segalanya tampak menjadi klopter saji menghiasi laman-laman media social, ucapan yang muncul bernada “kegelapan” menemani “kematian” PLN hari itu.

Semua “KleakuandanDosa PLN” telah menjadi monumen yang tecatat dengan baik di dinding media social. Tidak mau ketinggalan dengan netizen, atau entah juga karena sudah tersudut opini netizen, pada pagi harinya Presiden Jokowipun langsung merespon dengan mendatangi Kantor Pusat PLN di KebayoranBaru Jakarta, pada hari Senin, tanggal 5, pukul 09.00. Tujuannya adalah untuk meminta penjelasan langsung dari Plt DirekturUtama PT PLN Sripeni Inten Cahyani dan jajarannya.

Untuk memperoleh penjelasan, Presiden melempar pertanyaan normal, “mengapa semua ini terjadi tanpa antisipasi, padahal Plt Dirut dan jajarannya para ahli listrik semua?” suatupertanyaan yang langsung membalut ketegangan. Meski pertanyaan itu tampak normal, namun jelas tak ada jawabannya saat itu. Benar saja, jawaban Plt Dirut pun bertele-tele, terbang ke sana kemari, berlayar dihempaskan anginke timur hingga ke barat.

Jokowi jelas tak puas. Jawaban itu jelas-jelas memuakkan dan tentu saja sangat takmemuaskan.Namun apalacur, pertemuani tu mesti juga selesai, meski tanpa ada kata “pemecatan” dari Presiden dan juga tanpa ada kata “mundur” dari Plt Dirut PLN yang baru dilantik Sripeni Inten Cahyani dan jajarannya. Untuk kasus sebesar “kematian PLN” secara serentak dijantung Ibu Kota Negara dan daerah sekitarnya rasanya cukup pantas disebut sebagai “bencana” itu, adalah aneh jika tidak ada pihak yang bertangungjawab dan menanggung konsekuensi atas bencana itu. Bahkan karena besarnya masalah “kematian PLN” itu tidaksedikit yang mengkaitkannya dengan sabotase, yang semakin menambah rumit masalah ini.

Karenanya, dalam pertemuan itu sudah cukup arif jika Presiden langsung mencopot Dirut dan jajaran PLN, dimana tindakan itu bukan karena tuntutan netizen[masyarakat] semata, namun karena janji Presiden sendiri yang akan “menyikat habis” mereka yang tidak becus bekerja untuk menopang iklim investasi di Indonesia.

Namun apa mau dikata. Cerita dan fakta tentang “tanggungjawab”, dan “kerelaan menanggung beban tugas” sebagai suatu “kehormatan” memang tak ada pelajarannya di Negeri ini. Hampir tak ada “guru bijak” yang menanamkan benih “tanggungjawab dan kehormatan”. Karena itu wajar saja jika untuk menutupi kekecewaan masyarakat itu, jajaran PLN cukup dengan mengucapkan “pernyataan maaf” dan “berjanji” akans egera mem perbaiki kerusakan PLN dengan cepat dan dengan serius serta dengan kerja keras dandenganbla, bla, bla, bla…

Takada pernyataan sikap untuk mundur, apalagi “bunuhdiri” sebagaimana yang diharapkan dan diinginkan olehnetizen. Apa yang selalu terjadiJ epang dimana para pejabat dengan enteng untuk bersikap mundur dan bahkan “bunuhdiri” sebagai bentuk “kehormatan” karena gagal menjalan kan tugas negara dengan baik, jelas pernah berharap terjadi di sini.

Sebagaimanusia mungkin para pejabat kita lebih panta suntuk dikenang dalam hidupnya sebagai “TimunBongkok” dari padadi kenang sebagai orang yang terhormat yang bertanggungjawab lahir dan bathin.Sudah benarlah, nasib pejabat kita yang sungguhs angat malang, yang justru lebih memilih dan “gembira” dicaci orang, dicibir, dan disumpah serapahi seluruh alam ketimbang mempertahankan kehormatan. Adalah tepat yang ditulis olehYahya AB dari Jambi, dalamsyairlagu “TimunBongkok”, bahwa nasib si “ketimunbungkuk” amatlah tragis ebabd alamhidupnyaia tidak masuk dalam timbangan, tidak juga dalamhitungan, tidak laku di pasaran, dan yang pasti tidak tersaji dalam hidangan.

Amatlah malangJ ajaran PLN, karena mereka benar-benar tidak pernah paham apa itu makna “terhormat”, “bijak”, “teladan” dan “tanggungjawab”. Adalah aneh lebih menjadikan jabatan mereka di PLN sebagai “berhala”, lebih menjadikan kedudukan sebagai “junjungan” ketimbang “kehormatan” dan harga diri keluarga dan bangsa. Namun meski aneh, semuaitu nyata mereka praktikkandan pertontonkand i Indonesia. Sungguh Terlalu!

* Setiap karya tulis opini disiarkan di kolom Kontemplasi ini, menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini, maka sesuai aturan pers dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis opini. Dan Redaksi akan menyiarkan tulisan tersebut secara berimbang.