No.84

Intainews.com:TANGISNYA di dada Mama adalah tangis penyesalan, tangis ketakutan, setelah akhirnya Mama dan Bunde tahu apa yang dilakukannya. Dalam waktu tidak lama lagi menyusul suaminya akan tahu juga. Ana percaya Sepandai-pandai menyimpan bangkai busuk, kelak akan ketahuan juga.

“Lebih baik Ana bunuh diri saja. Ana tidak takut mati. Kematian bagi Ana ialah ketenangan.” Begitu kata Ana, yang mengejutkan Mamanya.

“Jangan menjadi sesat begitu Na. Kalau kamu mati, urusan dunia selesai untukmu. Tetapi di akhirat kamu akan menerima balasan dari dosa besar yang kamu buat.”

“Tapi hanya itu jalan terbaik. Makanya biar Ana datangi dia, biar dia tembak saja Ana sekalian.”

“Tidak, tidak begitu nak, itu perbuatan paling dungu. Berdoalah, minta ampuni perbuatanmu kepada Allah dan
jalan keluarnya…,”

Saat itu muncul dua pesan dari orang yang mengaku teman dekat Pak Bon. SMS itu mengatakan Pak Bon mentransfer uang ke rekening Ana jumlahnya sangat besar, lima miliar. Dan SMS satu lagi, mengatakan Pak Bon telah meninggal dunia. Oh, apakah ini
beberita yang popular disebut hoaks?

Ana membalas SMS itu dengan mengatakan, jangan main-main dengan kematian. Apakah berita ini benar? Tak lama dijawab oleh teman Pak Bon. Ya, kalau tak percaya datanglah ke rumahnya. Anda tahu kan rumahnya,…silakan datang. Dengan jawaban itu, Ana langsung menghubungi melalui handphonenya. Teman Pak Bon untuk menjelaskan semuanya. Jenazahnya dibawa ke kota, dikebumikan di sana.
Orang itu juga menyinggung uang yang ditransper terakhir sebelum meninggal.
Ada rasa terbebas dari teror, tetapi ada juga rasa sedih pernah hidup bersama walaupun tidak menikah. Dalam keadaan galau ia menemui suaminya yang asyik menulis. Melihat Ana datang kepadanya dengan berurai air mata suaminya bertanya.

“Ada apa Na? Mengapa menangis?”

“Atasan Ana meninggal Bang.”

“Innalillahi wainailaihi rajiun. Ayo kita melayat. Di mana rumahnya.”

“Jenazahnya sudah dibawa ke kota dan dikebumikan di sana,”
Lalu suaminya menunjuk televisi di kamar mereka.

“Apakah ini orangnya Na, ini beritanya.”

Ana menyaksikan di televisi saat jenazah dilepas dari rumahnya untuk dikebumikan. Ana juga memberi tahu Mama. Mereka menyaksikan berita itu. Ana kelihatan sedih, suaminya mengingatkan tak perlu menangis berlebihan kita semua akan kembali kepada-Nya. Ana menghapus air matanya dan menemui Mama di ruang tamu. Berita sudah berganti konten yang lain.

“Gagah juga orangnya,…” kata Mama melihat gambarnya yang ditayang di televisi. Ana menyambut dan mengomentari.

“Orangnya sebenarnya baik Ma,…” Langsung di sela Mama.

“Tapi tidak bertanggungjawab,” kata Mama sambil meninggalkan Ana. *Bersambung