Ilustrasi. Istimewa

OLEH RAHMAT WIBOWO *

Akan terbangun sentimen irasional yang mudah disulut untuk diarahkan pada sebuah tujuan bernuansa politis.

Intainews.com:DEKLARASI kemenangan maupun sujud syukur yang dilakukan oleh Prabowo dinilai berkaitan dengan strategi firehouse of falsehood. Menurut Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf Amin, strategi tersebut membuat para pendukung Prabowo seperti tersihir untuk percaya pada satu sumber yaitu sumber internal survei. Strategi ini mempunyai 2 karakteristik. Yaitu adanya tingkat pesan atau informasi dalam jumlah yang sangat tinggi dan persebaran informasi yang salah atau hanya sebagian benar, atau bahkan berupa fiksi.

“Modus pertama dalam menjalankan strategi tersebut adalah menanamkan keyakinan pada pengikutnya bahwa kubu 02 sudah menang. Dengan strategi deklarasi berulang-ulang itu, pendukung disajikan realitas semu bahwa kubu 02 sudah menang dan informasi di luar itu adalah sesat dan direkayasa. Termasuk dilarang nonton TV yang menayangkan hasil quick count,” tutur Ace Hasan Syadzily selaku Juru Bicara TKN. Tujuan dari strategi yang pernah dilakukan oleh Donald Trump tersebut adalah menggalang sentimen pendukungnya agar dapat disiapkan untuk aksi berikutnya.

Tentu tidak menutup kemungkinan rangkaian yang disusun oleh kubu 02 yang selama ini berbicara soal people power, hal ini tentu sebuah manuver politik yang berbahaya. Klaim kemenangan Paslon nomor 02 tersebut juga merupakan upaya delegitimasi KPU dan hasil pemilu. Ace mengatakan, dengan menyebutkan angka kemenangan sebesar 62 persen, maka kubu Prabowo akan cepat membangun framing hasil penghitungan KPU berbeda dengan hasil real count internal. Dengan hasil tersebut, maka kubu Prabowo akan menyerang KPU dengan tuduhan Pemilu curang dan hasilnya dapat direkayasa. “Modus semacam ini sudah diperkirakan sejak awal ketika kubu 02 membangun narasi kalah karena dicurangi. Narasi ini dirangkai dari soal hoax kontainer, pemilih siluman dalam DPT, mobilisasi aparat, sampai terakhir kertas suara dicoblos.

Modus ini disiapkan jauh hari sebelum pemungutan suara dan sekarang mulai pelan-pelan terbukti. Dan tujuan akhirnya adalah delegitimasi KPU dan juga delegitimasi Pemilu,” ungkap Ace. Sampai di sini kita masih ingat akan hoaks Ratna Sarumpaet, ketika wajah lebamnya tersebar di dunia maya, akhirnya masyarakat tahu bahwa wajah lebam itu bukanlah akibat dari pengeroyokan, namun karena Ratna baru saja menjalani operasi plastik. Ace juga berpendapat bahwa kubu Prabowo-Sandiaga tengah melakukan rangkaian manuver politis, karena ada upaya delegitimasi pemilu yang diikuti saran people power, dimana hal tersebut berisiko pada timbulnya perpecahan.

Menurut Ace bahwa kubu Paslon nomor urut 02 tersebut tidak memperdulikan kegembiraan rakyat dalam menyambut pesta demokrasi. Dalam kesempatan berbeda, Mahfud MD pernah mengatakan pemilu itu merupakan people poweryang sesungguhnya. Rakyat sudah bersuara. Kita sudah lihat hasilnya di Quick Count. Tapi kita tunggu hasil perhitungan suara dari KPU yang dilakukan secara berjenjang dan melibatkan secara terbuka saksi dari masing – masing kontestan dan juga pengamat.

“Jika ketidakpuasan juga sudah disediakan salurannya. Tiga puluh tahun proses pemilu di negara kita berlangsung dengan damai. Jangan karena ambisi segelintir elite politik untuk berkuasa, maka rumah keindonesiaan dibakar oleh syahwat politik mereka,” pungkas Mahfud. Pengamat Politik Indonesian Public Institute, Karyono Wibowo, membenarkan akan adanya strategi politik ala Rusia tersebut, kini sedang berlangsung di Indonesia. Karyono juga menambahkan, bahwasanya sangat terasa sekali propaganda itu hadir, parameter dan indikatornya sangat terlihat. Isu-isu yang merekayasa fakta makin marak untuk menciptakan ketakutan masyarakat. Sehingga sampai muncul tagar yang tak sedap dibaca.

Dirinya menilai, kubu penantanglah yang sedang memainkan propaganda tersebut. Sebab indikator dapat dilihat dari isu yang berkembang di masyarakat. Firehouse of Falsehood ini sudah jelas menciptakan ketakutan, kebingungan dan kepercayaan awam yang terbiasa mengonsumsi informasi / isu yang tidak substansial. Akan terbangun sentimen irasional yang mudah disulut untuk diarahkan pada sebuah tujuan bernuansa politis. Tujuan dari adanya strategi tersebut adalah menciptakan kegaduhan hingga kemudian memproduksi berbagai isu yang tidak substansial. Jika strategi ini terus menerus digembar-gemborkan, maka tidak menutup kemungkinan kubu Prabowo-Sandi diduga tidak siap kalah dalam Pilpres 2019.

* Penulis adalah, pengamat Komunikasi
* Setiap karya tulis opini disiarkan di kolom Kontemplasi ini, menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini, maka sesuai aturan pers dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis opini, dan Redaksi akan menyiarkan tulisan tersebut secara berimbang.