H Ma'ruf Amin. Foto istimewa

OLEH AHMAD HARRIS *

Intainews.com:MESKI sudah mendekati kontestasi politik Pilpres 2019, sejumlah pihak masih meragukan kredibilitas Kyai Ma’ruf Amin sebagai pendamping Presiden Jokowi. Mulai dari permasalahan umur Kyai Ma’ruf hingga kesehatan pun diangkat sebagai hambatan dari cawapres 01 tersebut. Padahal, secara fisik, beliau masih sehat walafiat dan kuat dalam beraktivitas. Di samping santernya isu kesehatan, Kyai Ma’ruf Amin juga sering dibandingkan dengan tokoh NU yang pernah terlibat dalam Pilpres 2004 yaitu Salahudin Wahid dan Hasyim Muzadi.

Menurut sejumlah pihak, Kyai Ma’ruf Amin hanya akan mengulang kekalahan Salahudin Wahid dan Hasyim Muzadi dalam Pilpres 2019. Pada Pilpres 2004 lalu, memang terdapat tiga tokoh NU yang terlibat dalam bursa capres ataupun cawapres diantaranya, Salahudin Wahid sebagai cawapres Wiranto, Hasyim Muzadi sebagai cawapres Megawati serta Hamzah Haz sebagai calon Presiden. Sayangnya, dalam kontestasi politik tersebut, ketiga tokoh terpandang NU kalah dari pasangan SBY-Jusuf Kalla. Hasil Pilpres 2004 itu kemudian menjadi acuan sejumlah pihak untuk memprediksi kekalahan Ma’ruf Amin.

Namun demikian, prediksi tersebut agaknya sedikit keliru. Kekalahan ketiga tokoh NU dalam Pilpres 2004 disebabkan pecahnya suara NU sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia. Adapun suara NU terbagi ke tiga pasangan capres-cawapres yang diisi oleh tokoh NU. Sementara, dalam Pilpres 2019, Kyai Ma’ruf Amin adalah satu-satunya tokoh NU yang terlibat dalam bursa capres-cawapres. Kondisi ini tentu akan menyebabkan mayoritas suara NU akan mengalir kepada pasangan Jokowi dan Kyai Ma’ruf Amin.

Belum lagi, sebagai Ketua MUI, Kyai Ma’ruf Amin dianggap sebagai tokoh yang sangat religius dari kalangan masyarakat di luar NU. Bukan tidak mungkin, dukungan terhadap Ma’ruf Amin akan sangat besar dalam Pilpres 2019. Di samping posisinya sebagai Rais Aam PBNU dan Ketua MUI, Kyai Ma’ruf Amin juga memiliki pengalaman sebagai anggota DPR RI, MPR RI dan Wantimpres. Dalam kaitan kebhinekaan, Kyai Ma’ruf Amin juga menjabat sebagai Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila. Perpaduan pengalaman sebagai tokoh agama dan negarawan menjadikan Kyai Ma’ruf Amin sebagai sosok yang mampu menjaga prinsip Pancasila untuk berjalan beriringan dengan konsep keagamaan.

Kelebihan Kyai Ma’ruf Amin inilah yang menjadi pembeda dari ketiga tokoh NU sebelumnya. Sosok Kyai Ma’ruf Amin dalam Pilpres 2019 justru menjadi penyejuk dalam ketegangan politik identitas yang dimainkan oleh pihak lawan politiknya. Sebagaimana diketahui, pasangan calon nomor urut 2 kerap mengklaim dirinya sebagai pilihan para tokoh agama dan ulama. Pada dasarnya, hal tersebut sah-sah saja dan tidak perlu dipersoalkan. Sayangnya, terdapat sejumlah aktor yang memanfaatkan politik identitas tersebut dan mengelolanya sebagai gaung kebencian terhadap sosok Jokowi yang dianggap tidak pro terhadap Islam.

Dengan didampingi Ma’ruf Amin, Jokowi tentu dapat meredam gaung kebencian atas dasar politik identitas tersebut. Bukan hanya meredam gaung politik identitas, kehadiran Kyai Ma’ruf Amin ternyata membawa kesejukan dalam Pilpres 2019.
Politik identitas yang dibungkus dengan gaung kebencian kian berkurang mendekati Pilpres 2019. Oleh karenanya, sangat tepat bagi Presiden Jokowi untuk mengangkat Ma’ruf Amin sebagai wakilnya.

Dapat dikatakan, Kyai Ma’ruf Amin menjadi kunci penting Presiden Jokowi dalam Pilpres 2019. Bukan hanya sekedar menyelamatkan posisinya dalam Pilpres tetapi juga menyelamatkan Indonesia dari eksploitasi politik identitas yang dapat berujung pada perpecahan. Mengutip pernyataan Mahfud MD sebagai tokoh yang juga pernah disandingkan sebagai calon wakil Presiden, bahwa politik adalah sebuah dinamika, tetapi di atas itu semua, mengutamakan keselamatan dan masa depan negara jauh lebih penting dari sekadar memperdebatkan sosok calon wakil Presiden.

* Penulis adalah, mahasiswa FISIP Universitas Dharma Agung

  • Setiap karya tulis opini disiarkan di kolom Kontemplasi ini, menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini, maka sesuai aturan pers dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis opini, dan Redaksi akan menyiarkan tulisan tersebut secara berimbang.