Ilustrasi. Istimewa

OLEH RIZAL ARIFIN *

Intainews.com:PRABOWO yang mencalonkan diri kembali pada Pilpres 2019 adalah mengingatkan rekam jejak yang bersangkutan pada Pilpres sebelumnya. Belum hilang dalam ingatan saat Prabowo memimpin ribuan massa menggeruduk kantor Mahkamah Konstitusi berkali-kali pada sidang gugatan hasil Pemilu 2014.

Perlu untuk diingat kembali, pada pemilu 2014 koalisi pendukung Prabowo-Hatta yang tergabung dalam Koalisi Merah Putih memiliki keterwakilan di parlemen lebih banyak dari partai pendukung Joko Widodo-Jusuf Kalla sehingga ini dijadikan kroni Prabowo untuk mensabotase berjalannya pemerintahan saat itu.
Sebagai contoh, UU MD3 dipaksakan demi kepentingan politik jangka pendek mereka, bukan seharusnya memperbaiki kinerja dan reputasi DPR. Tidakdapat dipungkiri, di awal pemerintahan Jokowi-JK hanya menghabiskan waktu untuk menghadapi move politik dari Koalisi Merah Putih yang kecewa dengan hasil Pilpres 2014.

Tidak hanya sampai di situ, polarisasi politik di setiap lapisan masyarakat pun semakin meruncing. Pemilu sudah jauh meninggalkan kita, tetapi aroma perpecahan dan terbentuknya kelas sosial semakin terlihat. Hakikat kebenaran pun sepertinya hanya sebuah narasi politik, mendukung kebijakan pemerintah diartikan pendukung Jokowi dan berlaku sebaliknya.

Ini tidak dapat dibenarkan dengan argumentasi apapun, bahkan kebijakan pembangunan infrastruktur pun bisa didesain sedemikian rupa menjadikan sebuah cibiran. Tanpa memandang preferensi politik, semua warga negara membutuhkan infrastruktur yang layak dan handal untuk kemajuan kehidupan. Hampir di ujung pemerintahan Jokowi-JK pun, perpecahan di masyarakat akibat beda pandangan politik tahun 2014 masih dirasakan. Tidak dapat dikatakan bahwa ini adalah sebuah kebetulan.

Menuju Pemilu 2019, aroma perpecahan di tengah masyarakat kembali dihembuskan. Saat isu komunisme yang begitu kejam ditujukan kepada Presiden Joko Widodo tidak mendapatkan simpati di masyarakat dan isu anti Islam pun terbantahkan. Prabowo cs membangun opini bahwa Presiden Joko Widodo telah melakukan pengkondisian untuk melanggengkan kekuasaannya.

Ini dijadikan sebagai alasan kuat kelak nanti jika hasil pemilu 2019 kembali menetapkan kekalahan sebagai Capres. Sehingga membuat chaos adalah alasan logis untuk merespon hasil pemilu yang menurut mereka idak kredibel. Ini bukanlah sebuah imajinasi kosong tanpa pemikiran mendalam.

Beberapa waktu silam Prabowo Subianto meramalkan Indonesia akan punah jika Prabowo-Sandi kalah pada pemilihan presiden 2019. Jika sebagian orang menganggap itu sebagai guyonan, rasanya tak elok dan tidak mungkin seorang Capres mengeluarkan pendapat kontroversi di muka umum. Ini adalah sebuah keceplosan Prabowo atas apa yang ia pikirkan selama ini.

Presidium Indonesian Police Watch (IPW) Neta S Pane, mengatakan pihaknya menduga Prabowo sedang mempersiapkan provokasi agar masyarakat melakukan kerusuhan dan terjadi kekacauan dalam Pemilu 2019 terkait dengan pernyataan Prabowo bahwa Indonesia akan punah jika dirinya kalah.

“Patut dicurigai jangan-jangan Prabowo ini sudah mempersiapkan kalau dia (Prabowo) kalah di Pilpres 2019 akan terjadi kekacauan, yang ujung-unjungnya saudara terjadi perang,” ujar Neta dalam acara diskusi Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) bertajuk “Indonesia Pasca Pemilu, Prabowo Kalah, Indonesia Punah“, pada 21 Desember 2018.

Salah satu penyebab kegagalan sebuah negara adalah terjadinya perang saudara. Akibat dari pernyataan Prabowo adalah memantik kemarahan kelompok kontra pemerintah untuk melancarkan serangan kepada pemerintahan yang sah. Bahkan tidak dapat disalahkan jika banyak pihak yang berpendapat Prabowo memang sengaja memprovokasi masyarakat dengan pernyataan itu.

Menurut Neta, pernyataan Prabowo mengenai Indonesia yang akan punah tersebut bukan sekadar analisa kosong yang beliau sampaikan begitusaja, namun juga harus patut dicurigai beliau diduga telah menyiasati bilamana dirinya kalah dalam Pilpres, akan terjadi kerusuhan, apa yang disampaikan Prabowo perlu dicermati sebab bagi IPW pernyataan Prabowo mengandung hal serius antara Prabowo memprovokasi atau menciptakan sebuah konflik.

“Jadi ini perlu dicermati, makanya IPW melihat pernyataan Prabowo Subianto itu bukan sekadar pernyataan kosong dan sekadar menakut-nakuti. Ini sesuatu sangat serius yang harus diwaspadai, apakah Prabowo Subianto memprovokasi atau mau menciptakan sebuahkonfilk?” papar Neta.

Kita semuanya tentu berharap keutuhan bangsa ini adalah harga mati. Seyogyanya kita tidak mudah terpengaruh dengan provokasi oleh kelompok yang menginginkan terjadinya konflik horizontal di tengah masyarakat. Yakinlah bahwa kita ditakdirkan menjadi Indonesia adalah anugerah yang harus selalu disyukuri dan TNI/Polri akan selalu menjadi garda terdepan menjaga keutuhan bangsa ini.

*Penulis adalah,pengamat masalah sosial politik

  • Setiap karya tulis opini disiarkan di kolom Kontemplasi ini, menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini, maka sesuai aturan pers dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis opini, dan Redaksi akan menyiarkan tulisan tersebut secara berimbang.