Ilustrasi.Istimewa

OLEH RIDA FATMAWATI *

Intainews.com:DARI awal kemenangannya dalam Pilpres 2014, Presiden Joko Widodo dicap sebagai pemerintah yang anti ulama. Ternyata kabar itu tidak putus sampai saat itu saja. Hingga masa jabatannya sebagai presiden ini hampir habis, dirinya masih dituding dengan anggapan pemerintahan yang anti ulama. Bahkan, di periode tahun ini saat beliau kembali mencalonkan diri sebagai Capres, anggapan itu masih dilekatkan pada dirinya. Sejumlah masyarakat masih terus menganggap Jokowi anti ulama.

Kabar beritanyapun simpang siur mengarah pada tuduhan tersebut. Bahkan pernah ada rumor Jokowi ini penganut non Islam. Hal ini dituduhkan atas dasar yang tidak jelas. Padahal, jauh sebelum Jokowi menjadi presiden dan masih menggeluti usaha meubel, dirinya sudah terlihat aktif beribadah di masjid terdekat di Solo, di mana Solo merupakan tempat tinggal sekaligus tanah berdikarinya.

Jokowi juga aktif melakukan silaturahmi dengan para pengasuh pondok pesantren. Di mana sowannya ini bertujuan untuk memberikan support terhadap santriwan dan santriwati agar tekun menimba ilmu agama. Sowannya ini ia lakukan pada pondok pesantren yang ada di tanah air tanpa pilih kasih. Bagaimana mungkin hal ini dikaitkan dengan Jokowi yang dicap dengan anti ulama? Buktinya, dia selalu bersilaturahmi dari pondok pesantren satu ke pondok pesantren yang lain.

Ternyata hobi menyambangi pesantren ini tidak hanya dilakukannya dahulu saja. Setelah menjadi orang nomor satu di Solo dan Indonesia pun, dirinya justru semakin aktif bersilaturahmi ke sejumlah pesantren yang ada di Indonesia. Hal ini ia lakukan untuk memberi dukungan, baik moril maupun materiil berupa pesan yang baik kepada santri dan berupa sokongan materiil pembangunan fasilitas pesantren. Kunjungan-kunjungan ini tidak hanya ia lakukan di daerah tertentu saja. Sampai ke pelosok negeripun ia sambangi.

Contohnya adalah kedatangannya di Pondok Pesantren Darussalam Purwokerto, yang mana letak pesantren ini berada di kota yang termasuk kota kecil. Namun, semangatnya untuk bersilaturahmi dan memberikan bantuan berupa boarding school khusus anak yatim tidak memutuskan niatnya. Dirinya tetap menyambangi pesantren ini, bahkan secara Cuma-cuma memberikan berbagai door prise kepada para santri.

Hal inilah yang membuat sosoknya dikenal oleh kalangan santri. Sebab dirinya sangat dekat dengan para santri. Seperti tidak ada jarak. Bukti lain Jokowi bukanlah pemerintah yang anti ulama ataupun lebih gencar disebut pemerintah yang sudah mengkriminalisasi ulama adalah pencalonannya sebagai presiden di periode 2019 – 2024 ini. Di ajang Pilpres tahun ini, capres nomor urut 1 ini memilih menggandeng KH Ma’ruf Amin yang merupakan ulama besar Indonesia sekaligus mantan Ketua MUI yang dikenal sebagai tokoh mumpuni dalam Islam.

Lantas, di mana letak kebenaran atas tuduhan Jokowi anti ulama? Sedangkan jelas-jelas pada pencalonannya di Pilpres periode mendatang dia menggandeng ulama besar untuk turut memimpin negara agar kondisinya lebih baik lagi. Jadi, inilah jawaban dan bukti dari Jokowi kepada rakyat dan segenap orang yang telah melabelinya sebagai pemerintah yang mengkriminalisasi ulama. Hal itu sangatlah tidak benar. Jika benar apa yang dilontarkan sekelompok orang mengenai pemerintahannya anti ulama, tentu saja pada periode ini Jokowi tidak menggandeng Cawapres dari kalangan ulama. Justru karena Jokowi dekat dengan ulama sehingga beliau meminta bantuan ulama-ulama ini untuk turut menyukseskan kepemimpinannya.

Disadari atau tidak, langkah Jokowi menggandeng ulama besar KH Ma’ruf Amin ini adalah cara tepat untuk membungkam tuduhan miring atas dirinya. Maka dari itu, masyarakat selalu dihimbau untuk dapat menyaring opini-opini yang terkadang tidak berdasarkan fakta. Sebagai pembaca dan juga pengamat yang baik, seharusnya masyarakat ini mampu membedakan mana berita yang sungguhan dan mana berita hoax, sehingga masyarakat tidak menyesal akan pilihannya kelak.

Kabar inipun direspon oleh pihak KH Ma’ruf Amin yang membenarkan Jokowi sangat dekat dengan ulama. Terlebih blusukan Jokowi yang sering menyambangi beberapa pesantren di tanah air dilakukannya cukup sering. Hal ini bukti bahwa Jokowi memang dekat dengan kalangan ulama sejak dahulu. Bukan musiman saja saat dirinya akan mencalonkan diri kembali menjadi presiden. Itulah mengapa kemudian Capres Jokowi mendapatkan penganugerahan gelar sebagai Bapak Santri Indonesia. Sebab, selain keakrabannya dengan para ulama dan santri, dirinya juga berhasil menetapkan Hari Santri Nasional.

Inilah yang kemudian menjadikan dirinya lebih dekat lagi dengan santri. Sosoknya yang ramah dan tak canggung saat berbaur dengan kaum alit, juga turut menjadikan dirinya mendapatkan apresiasi yang cukup baik di kalangan ulama. Itulah mengapa banyak ulama yang mendukungnya dan mendampinginya. Hal ini adalah bukti terakhir bahwa Jokowi bukanlah pemerintah yang mengkriminalisasi ulama.

* Penulis adalah, Mahasiswi IAIN Jakarta

  • Setiap karya tulis opini disiarkan di kolom Kontemplasi ini, menjadi tanggung jawab penulis