OLEH RONI NELIATI TANJUNG *

Intainews.com:MAJUmundurnya kemajuan sebuah negara, dinilai dari berhasilnya pendidikan, akhlak bangsa, budi pekerti generasi penerus, tidak dapat dinapikan sangat bergantung dari kesuksesan ibu dalam rumahtangga. Itulah yang akrab disebut al ummu madrasatun. Keluarga adalah tempat pendidikan, hitam maupun putih genenerasi.

Sosok ibu sangat berperan sejak bayi dengan telapak kaki seukuran dua jari hingga ukuran sepatu nomor empatpuluh satu dan meraih gelar sarjana. Selalu dijadikan cermin kebehasilan seorang ibu terhdap anaknya. Hari ini ibu tidak lagi hanya mengurus keluarga di era global. Aktivitas ibu semakin mekar. Hampir di seluruh profesi yang sebelumnya di kuasai kaum adam, kini sudah bisa dilakukan oleh perempuan.

Sehingga kaum ibu yang semakin cerdas di era komunikasi global, tidak patut untuk menjadi obyek kekerasan dan diskriminasi. Di segala bidang kaum ibu tampil di permukaan, tanpa meninggalkan kodratnya sebagai ibu anak-anaknya dan istri seorang lelaki yang mencintai sesungguh hati.

Bersamaan dengan negara-negara di dunia senantiasa menyiapkan aturan dan undang-undang, bahkan melalui ratifikasi hak azazi manusia (HAM) persatuan bangsa-bangsa (PBB) menyiapkan perlindungan esensial terhadap kehidupan dan kemerdekaan perempuan di muka bumi.

Walaupun untuk negeri ini, di balik keterbukaan untuk bakat dan profesi kaum perempuan (ibu), dalam kancah politik masih harus berjuang lebih keras. Faktanya, kendati dalam UU No.10 Tahun 2008 ditegaskan bahwa partai politik baru dapat mengikuti Pemilu setelah memenuhi persyaratan menyertakan sekurang-kurangnya 30% keterwakilan perempuan pada kepengurusan partai politik tingkat pusat.

Di lapangan, setelah beberapa kali Pemilu pasca UU No.10 diluncurkan, keterwakilan minimal 30 persen perempuan di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tingkat pusat maupun daerah, belum bisa terpenuhi sebagaimana yang telah ditetapkan dalam perundang-undangan. Ini artinya para perempuan (ibu) di dalam momen Hari Ibu pantas kita melakukan kontemplasi (merenung) dalam-dalam, apa langkah ke depan.

Mengapa begitu banyak sayap organisasi yang ada perempuan di dalamnya masih belum mampu menyumbangkan keterwakilan perempuan. Berdasarkan konstitusi 30 % keterwakilan kaum ibu di parlemen (legislatif), di Pemilu 2004, 2009 dan 2014. Sedangkan di Pemilu 2019, kita masih menunggu benarkah terwujud setelah April 2019, masyarakat memilih dan menempatkan 30 % tokoh poltitik perempuan di DPR RI, DPD dan DPRD.

Apakah bisa disebut, persoalan ketimpangan gender tercermin dengan rendahnya keterwakilan perempuan di struktur lembaga perwakilan Indonesia? Dari total 261,9 juta penduduk Indonesia pada 2017, penduduk perempuannya berjumlah 130,3 juta jiwa atau sekitar 49,75 persen dari populasi. Sayangnya, besarnya populasi perempuan tersebut tidak terepresentasi dalam parlemen, sedikit bila dibandingkan dengan proporsi laki-laki.

* Penulis adalah, Pemimpi Redaksi Intainews.com

  • Setiap karya tulis opini disiarkan di kolom Kontemplasi ini, menjadi tanggung jawab penulis