Foto Istimewa

OLEH ARIF PURBANINGRAT *

Intainews.com:SAAT ini, di media sosial seperti Youtube banyak beredar ceramah-ceramah agama yang bernuansa provokatif dan menakutkan, kita juga banyak disuguhi aksi-aksi kekerasan yang mengatasnamakan agama banyak terjadi di masyarakat. Tindak kekerasan membabi buta, seperti menjadikan aparat keamanan yang tidak bersalah menjadi sasaran, menyerang pihak lain yang berbeda paham dan keyakinan merupakan ciri-ciri tindakan terorisme yang wajib kita lawan. Salah satu bentuk perlawanan yang dapat kita lakukan adalah, tetap waspada namun jangan pernah takut dengan aksi teror.

Ketakutan dan kekalutan justru akan menjadikan misi teror mereka berhasil.
Sekalipun pelaku tindak kejahatan terorisme dan para pengusung faham terorisme seringkali mengatasnamakan Islam. Bisa dipastikan faham keislaman mereka puritan dalam derajat yang sangat radikal dan menjadikan jalan kekerasan sebagai jalan dakwah mereka. Sejarah perkembangan Islam di Indonesia, menunjukkan keberhasilan dakwah tergantung pada cara yang digunakan. Pendekatan konfrontatif yang mengedepankan kekerasan terbukti gagal dan justru membuahkan penolakan.

Islam di Indonesia memang pernah disampaikan dengan cara keras, seperti yang dilakukan ulama Syekh Subakir. Dengan pasukan 400 orang, ia menyerang Ki Darmawangsa di Dhoho, Kediri, yakni pedepokan Hindu. Akibat penyerangan ini, Ki Darmawangsa terpaksa memanggil bantuan dari Prabu Airlangga. Syekh Subakir dan pengikutnya dapat ditumpas pasukan Airlangga. Kurun berikutnya datang lima ulama, di antaranya Syekh Ibrahim as-Samarkandi dan Syekh Jumadil Kubra.

Mereka mendekati para petani miskin dan mengajak bersama-sama menyerbu Majapahit. Usaha ini pun berakhir dengan kekalahan. Ratusan tahun Islam datang ke Indonesia tak pernah maju. Islam bisa maju ternyata hanya perlu 50 tahun, yaitu di masa Wali Songo. Kejayaan ini diraih para wali karena kecerdikan dan kebijaksanaan mereka dalam hal strategi berdakwah. Melalui jalur kebudayaan dan jaringan perkawinan, Wali Songo sukses merebut hati penduduk pribumi secara masif hanya dalam kurun separuh abad. Ini bukti kita harus terus mengobarkan sikap dan tindakan kedamaian dan kesantunan demi melawan kekerasan.

Keberhasilan Wali Songo menyebarkan ajaran Islam di bumi Nusantara dalam kurun waktu yang relatif singkat merupakan wujud kecerdikan dan kebijaksanaan mereka dalam hal strategi berdakwah. Sekali lagi hal ini menunjukan bahwa sikap cinta damai dan kesantunan perlu dikedepankan dalam menegakan kalimatullah. Disamping wajib melakukan introspeksi dan meningkatkan profesionalisme dalam menegakan hukum dengan adil, pihak keamanan, terutama aparat kepolisan Republik Indonesia diharapkan juga dapat mengungkap dan mencegah berbagai aksi kekerasan yang selama ini terjadi di Indonesia.

* Penulis adalah, mahasiswa Univesitas Islam Negeri

Setiap karya tulis opini disiarkan di kolom Kontemplasi ini, menjadi tanggung jawab penulis