Ilustrasi.Istimewa

OLEH ANISA MEDINA *

Intainews.com:DI TENGAH kondisi perekonomian global yang dilanda krisis, muncul anomali meskipun catatan pertumbuhan ekonomi Indonesia memperlihatkan hasil positif. Pada triwulan kedua tahun ini dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, ekonomi Indonesia tumbuh di atas 5 persen meskipun ada ketidakpastian global. Inflasi pun tetap terjaga dengan baik dengan kisaran hanya 3,5%. Dengan perkembangan positif tersebut dampak kedepan dapat menyerap angkatan kerja dan menekan pengangguran.

Anomali pertumbuhan ekonomi Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, perekonomian Indonesia banyak digerakkan oleh utang yang nilainya terus naik. Utang Indonesia mencapai Rp 2.865 triliun. Utang ini menjadi sumber penghasilan utama pemerintah untuk mendorong tumbuhnya ekonomi Indonesia dengan hal yang produktif seperti pembangunan infrastruktur dan lainnya. Kedua, peningkatan konsumsi masyarakat disinyalir ikut mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Konsumsi masyarakat yang meningkat bersumber dari harga sandang dan pangan yang mengalami kenaikan, serta ditopang oleh pertumbuhan kredit terutama kredit konsumsi.

Ketiga, ekonomi Indonesia pertumbuhannya didorong oleh ekspor bahan mentah, misalnya hasil perkebunan, hutan, migas dan bahan tambang, sehingga kurang menciptakan nilai tambah dan lapangan pekerjaan. Faktor terakhir, ekonomi Indonesia pertumbuhannya didorong oleh investasi. Seperti yang diketahui, munculnya anomali ekonomi di dunia ditengarai karena adanya perang dagang antara AS dengan China. Perang dagang AS-China dimulai setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan pada 22 Maret 2018 mengenakan tarif sebesar US$ 50 miliar pada barang impor dari Tiongkok di bawah Seksi 301 Undang-Undang Perdagangan 1974.

Sebagai balasannya, pemerintah Tiongkok menerapkan tarif bea masuk untuk lebih dari 128 produk AS, termasuk kedelai, ekspor utama AS ke Tiongkok. Akibat perang dagang itu, Indonesia punya potensi untuk mengekspor barang ke kedua negara itu. Tidak cuma itu, Indonesia juga bisa jadi negara ketiga yang “mengambil jatah” ekspor China dan Amerika. Dengan strategi ekonomi yang telah disusun oleh pemerintah Jokowi, kedepan perekonomian Indonesia tetap optimis stabil ketimbang negara lain meskipun ada gangguan perekonomian dunia.

Hal tersebut karena banyak kebijakan yang diambil tepat sasaran, seperti mendukung ekspor lebih banyak, menciptakan lingkungan investasi agar tetap terjaga, dan juga agar impor bisa dikelola sehingga tidak menimbulkan dinamika (risiko) yang terlalu besar. setiap negara harus mengikuti sekaligus memahami perang dagang untuk meminimalisir dampak perang dagang AS-China,
Pemerintah Indonesia saat ini telah meluncurkan 16 paket kebijakan ekonomi, termasuk penyederhanaan izin usaha melalui online single submission dan perluasan insentif fiskal melalui tax holiday dan tax allowances. Langkah ini untuk meningkatkan investasi.

Selain itu, pemerintah melakukan deregulasi aturan untuk mendorong pembangunan infrastruktur seperti penjaminan atas pinjaman kepada BUMN yang menangani proyek infrastruktur, akselerasi pengadaan tanah dan pembayaran untuk masyarakat yang terdampak. Pemerintah juga melakukan reformasi institusi untuk meningkatkan pembangunan infrastruktur, di antaranya dengan pembuatan Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP), penggabungan PT Sarana Multi Infrastruktur dan Pusat Investasi Pemerintah untuk memperkuat kemampuan pembiayaan, pendirian Lembaga Manajemen Aset Negara untuk menyediakan tanah pada proyek strategis nasional, dan pendirian Indonesia Infrastructure Guarantee Fund (IIGF) untuk menjamin proyek yang bukan dengan skema kerja sama pemerintah dan Badan Usaha (KPBU).

Lebih lanjut, untuk meningkatkan peran swasta, pemerintah telah menyusun beberapa insentif skema pembiayaan antara lain Viability Gap Funding (VGF), Availability Payment, Lan Revolving Funf, Risk Sharing Guideline, dan Tax Holiday. Dampak perang dagang antara AS-China nyatanya tidak hanya berdampak buruk, namun ada sisi positif yang dapat dimanfaatkan Indonesia. Salah satunya adalah menarik investasi sebesar besarnya. Terdapat tiga faktor penting untuk bisa menarik investasi jangka panjang. Pertama, kebijakan publik harus dirancang secara baik dan stabil agar terdapat kepastian hukum dan investasi. Kedua, pemerintah harus dapat menjadi institusi yang dipercaya dengan reputasi yang baik.

Ketiga, pemerintah harus bisa menguasai risiko politik yang sering terjadi di negara berkembang. Dengan melihat ketiga faktor tersebut, pemerintah Indonesia sendiri telah membuat inovasi berupa skema kerja sama antara pemerintah dengan badan usaha atau Public Private Partnership (PPP). Kerja sama ini untuk mendorong keterlibatan swasta dalam pembangunan infrastruktur. Manfaat investasi Ada beberapa anggapan mengenai manfaat investasi asing terhadap pertumbuhan ekonomi nasional yaitu:

1. Investasi asing akan menciptakan perusahaan-perusahaan baru, memperluas pasar atau merangsang penelitian dan pengembangan teknologi lokal yang baru.
2. Meningkatkan daya saing industri ekspor, dan merangsang ekonomi lokal melalui pasar kedua (sektor keuangan) dan ketiga (sektor jasa/pelayanan).
3. Investasi asing akan meningkatkan pajak pendapatan dan menambah pendapatan lokal/nasional, serta memperkuat nilai mata uang lokal untuk pembiayaan impor.
4. Menyerap angkatan kerja dan menekan pengangguran.

Perkembangan investasi di Indonesia menunjukkan keadaan yang menggembirakan. Hal tersebut karena kebijakan Presiden Jokowi yang melakukan penyederhanaan perizinan investasi penanaman modal asing sehingga banyak dana segar masuk ke Indonesia dan sangat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.

* Penulis adalah, pengamat sosial politik