Jokowi-Ma'ruf Amin. Foto Istimewa

OLEH SHENNA FARADILLA *

Intainews.com:Menjelang Pemilihan Presiden April 2019 mendatang, segala persiapan dan usaha dari kedua Paslon sudah gencar dilakukan sejak keduanya resmi mengumumkan deklarasi Capres-Cawapres. Jokowi dan Ma’ruf Amin dengan Prabowo dan Sandiaga Uno telah resmi mendaftarkan diri pada KPU pada 10 Agustus 2018. Jika kita sedikit menilik ke belakang, seakan perang tidak ada hentinya, dimulai dari tahun 2014, yang mana kala itu Indonesia juga menyelenggarakan Pemilu untuk Pemilihan Presiden dengan pertarungan calon yang sama, yakni Jokowi vs Prabowo.

Tentunya, efek yang ditimbulkan pada tahun 2014 tersebut masih sangat jelas terasa bahkan sampai pemilihan tahun ini. Seakan masyarakat Indonesia memang belum “move-on” dan sudah terbagi pada kedua kubu yang berbeda sejak tahun 2014 dulu, yakni Kubu Jokowi dan Kubu Prabowo. Persaingan sengit yang memang sudah berlangsung sejak dulu itu tentu kini semakin kuat dan besar. Kedua Paslon bersama Timses masing-masing terus melakukan upaya untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat Indonesia.

Berdasarkan Survei yang dilakukan LSI baru-baru ini, Pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) Joko Widodo (Jokowi) – Ma’ruf Amin dinilai yang paling berpeluang memperoleh kemenangan telak pada Pilpres 2019 dengan hasil survey sebanyak 58.6%, bahkan hampir mendekati 60%. Tentu, itu merupakan angka yang besar dan memang bisa dikatakan menang telak jika benar-benar terjadi.

Dukungan untuk Jokowi dan Ma’ruf Amin mengalir dari berbagai pihak, setelah dukungan dari 10 Kepala Daerah di Sumatera Barat, dukungan untuk Jokowi-Ma’ruf Amin pun datang dari kalangan muslim. Seperti kita ketahui, Ma’ruf Amin merupakan seorang ulama besar sekaligus ketua MUI Indonesia yang memiliki basis suara dari kalangan muslim yang besar. Banjir dukungan dari kalangan muslim pada paslon nomor 1 ini ditunjukkan dengan banyaknya deklarasi dari pondok pesantren yang ada di Indonesia, salah satunya adalah adalah dari Banten, yaitu Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Fataniyah.

Untuk diketahui, Ma’ruf Amin merupakan putra asli dari Bumi Seribu Kiai Sejuta Santri itu yang juga merupakan cicit dari Syaikh Nawawi al-Bantani yang merupakan seorang ulama Indonesia bertaraf Internasional yang menjadi Imam Masjidil Haram. Tentunya nama besar dikalangan muslim tersebut mampu menyedot suara yang banyak. Ketua Umum Muslimat Nahdlatul Ulama yang sekaligus Gubernur terpilih Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa kembali menegaskan dukungannya untuk pasangan Jokowi-Ma`ruf Amin pada Pemilihan Presiden 2019.

Selain itu, beliau juga tak menampik dalam waktu dekat kemungkinan akan mengomunikasikan dukungannya di Pilpres 2019 ini kepada para relawan dan pendukung yang telah memenangkannya di Pilkada Jawa Timur 2018 untuk mendapat suara yang lebih banyak. Ketua Tim Kampanye Daerah Jokowi-Ma’ruf Amin untuk Sumatera Utara, Ivan Iskandar Batubara mengatakan proses dirinya terpilih menjadi Ketua, tak lekas membuat hubungannya dengan sang sahabat, Sandiaga Uno retak. Menurut Ivan, apa yang dilakukannya ini merupakan hasil ijtihad politiknya, dan ia berharap keputusannya ini membawa kebaikan bagi agama, bangsa dan negara.

Bagi Ivan, sifat Jokowi dan KH Ma’ruf Amin yang sabar dan berpengalaman dalam pemerintahan dan organisasi besar merupakan syarat penting untuk mengelola sebuah pemerintahan. Kedekatan Ivan dengan Sandiaga Uno, tidak menghalangi keputusan politiknya dalam memilih Jokowi-Ma’ruf dan menjadi Ketua Tim Kampanye Daerah Sumatera Utara. Dukungan lain juga datang dari 1.500 Kiai di Jawa Barat yang siap mendukung pasangan calon presiden dan calon wakil presiden Jokowi-Ma’ruf Amin.

Menurut Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Majelis Dzikir Hubbul Wathon (PB MDHW) yang dilansir dari Kompas, Hery Haryanto mengatakan, 1.500 Kiai itu berkumpul di Pesantren Al Muhajirin, Purwakarta, Jawa Barat pada hari Rabu (3/10/2018). Dukungan dari para Kiai ini tentu berperan strategis kepada Jokowi-Ma’ruf. Sebab, para Kiai memiliki pengaruh yang kuat di kalangan masyarakat karna memiliki jamaah yang tidak sedikit dan langsung bersentuhan dengan ummat. dalam tradisi Nahdliyin, kiai tidak sekadar tokoh panutan dalam urusan agama, tetapi juga sebagai rujukan dalam beragam hal kehidupan, termasuk dalam urusan pilihan politik.

*Penulis, adalah mahasiswi Universitas Islam Malang