Ilustrasi.Istimewa

OLEH RAMADHAN AZIZ*

Intainews.com:BERAS oh beras, betapa malang nasibmu dijadikan sarana penyebaran hoax. Beras yang seharusnya menjadi makanan pokok bagi mayoritas masyarakat Indonesia, namun diikutsertakan dalam perhelatan kontestasi politik. Belum lama ini tepatnya pada 3 Oktober 2018, tim Advokasi Masyarakat Pendukung Prabowo-Sandi (Tampung Padi) melapor kepada Bawaslu Banten terkait dugaan pelanggaran pemilu yang dilakukan oleh kubu Jokowi-Ma’ruf melalui pembagian beras 5 kg di Banten yang pada kemasannya memuat gambar pria mirip Jokowi.

Tampung Padi melaporkan Kementerian Pertanian (Kementan) dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Tri Mulya atas kasus ini. Kemasan beras 5 kg tersebut berwarna merah, bertuliskan “Beras Segar” dan memuat logo Kementan serta bergambar pria bercaping yang sedang mengangkat gabah. Tampung Padi menduga bahwa gambar pria tersebut adalah gambar petahana Calon Presiden Nomor Urut 01, Joko Widodo.

Perlu diketahui bahwa beras 5 kg ini dijual oleh Toko Tani Indonesia (TTI) yang berasal dari Gapoktan. TTI merupakan salah satu usaha pemerintah untuk memotong rantai pasok pangan dan memberikan harga yang baik untuk petani dan konsumen. Jika kita menelusuri Toko Tani Indonesia di mesin pencari gambar, maka akan muncul logo TTI yang juga dipakai sebagai siluet pada kemasan beras tersebut dan akan terlihat jelas bahwa gambar pria bercaping yang sedang mengangkat gabah itu bukanlah gambar Joko Widodo.

Sementara itu, pihak Kementan juga telah mengklarifikasi dan menegaskan bahwa sosok pria bercaping yang termuat dalam kemasan beras bukan Jokowi melainkan sopir Kepala Biro Umum dan Pengadaan Kementan yang bernama Agus Faizal. Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan, Kuntoro Boga Andri mengatakan, “Gambar atau foto yang tertera pada kemasan beras Toko Tani Indonesia adalah bukan foto Presiden RI Bapak Jokowi. Itu foto model staf Kementan di Biro Umum dan Pengadaan Kementan, Mas Agus Faizal.”

Kini sudah jelas gambar pria bercaping pada kemasan beras yang viral di media sosial dan yang dilaporkan oleh Tampung Padi ke Bawaslu itu bukan gambar Jokowi? Ini merupakan hoax semata. Melihat ke belakang, secara tidak langsung hal ini telah melanggar isi dari deklarasi kampanye damai yang dibacakan pada 23 September lalu. Dalam deklarasi tersebut telah disebutkan kampanye pemilu ini harus dilakukan dengan aman, tertib, damai, berintegritas, tanpa hoax, politisasi SARA, dan politik uang.

Namun jika begini keadaannya dengan munculnya berbagai isu hoax, sama saja para elite politik masih saja melanggar komitmen mereka dalam deklarasi kampanye damai. Isu hoax apa lagi yang akan diarahkan kepada kubu Jokowi-Ma’ruf?. Dimulai dari isu anti Islam, pro China, pro komunis, antek asing, utang negara membengkak, pemerintahan yang otoriter, dan lain sebagainya. Mungkin karena kehabisan isu, kini kemasan beraspun jadi sarana menciptakan hoax.

Di tengah masa kampanye pesta demokrasi ini, kemasan beras tak perlu menjadi polemik yang diributkan dan dianggap sebagai black campaign. Seyognyanya, semua pihak harus cermat dan bijak dalam menerima dan menyikapi suatu informasi yang beredar dengan mengecek kebenarannya terlebih dahulu. Waspadalah terhadap informasi yang memuat konten provokatif dan cobalah mencari sumber referensi dari media lain sebagai pembanding apakah informasi tersebut fakta atau hoax.

* Penulis, adalah pengamat politik