Zanzibar-Intainews.com:Di sela-sela kegiatan Bupati Serdangbedagai [Sergai], Sumatera Utara, H Soekirman yang didaulat sebagai Pembicara dengan tajuk “How to strengthen potential of religious Actors in Promoting Peace ” di Zanzibar Tanzania [foto].

Sekitar dua jam menjelang keberangkatannya ke bandara untuk kembali ke Indonesia, Soekirman menyempatkan untuk melihat potensi khususnya dibidang pertanian yang ada di negara bebas sampah plastik tersebut. dibantu Guide bernama Juma, yang menawarkan wisata “Spices Tour Zanzibar“.

Dikatakan Soekirman, baru-baru ini, saat berbincang-bincang dengan Guide dalam bahasa Inggris, sebagai Ketua Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia [Perhiptani], “Saya sekalian ingin lihat lapangan. “Yes, you can also visit farmer who growing vegetable, banana, and most of them are spices growers,” jawab sang Guide.

Rupanya di hotel-hotel Zanzibar ada semua paket tour rempah-rempah. Baru saya ingat, bukankah Zanzibar sejak dulu terkenal sebagai pulau penghasil cengkeh? Setelah baca harga dan janji dua jam harus sampai di lobi hotel, tour dadakan itu dimulai. Sebuah mobil telah siap membawa kami ke desa wisata yang dikemudikan spir bernama Ali.

Kizimbani Space Tour

Seorang remaja telah siap membukakan pintu mobil. Bocah kampung hitam manis, langsung mengucap, “Assalamu alaikum, I am Syarif, and I will guide you to see this farm.” Bahasa inggris bocah ini lancar, sopan, pakaiannya rapi. Mulanya saya curiga, kog terlalu ramah dan baik ini bocah.

Saya tanya Ali, apakah memang dia guide resmi? Ali mengiyakan, karena dirinya hanya supir dan guide jalan, untuk di lokasi anak-anak desa yang akan handle tour. Akhirnya saya ikuti Syarif yang ramah. Banyak bocah sebaya yang duduk di sekitar parkiran.

Tidak ada pula petugas parkir, apalagi rebutan tamu. Masuk lokasi juga tidak ada gerbang, apalagi kutipan biaya. Pada umumnya karena agama Islam, siapapun yang datang selalu mereka sambut dengan ucapan “AssalamualaikumKaribu, asana. Saya jawab Assanti, karibu.

Bersama dengan saya ada beberapa grup tamu yang sedang dipandu oleh bocah lain. Itulah Desa Rempah bernama “Kizimbàni Spice Farm“ 12 km sebelah timur Stonetown Zanzibar, begitu cerita Bupati Sergai.

Di awali lipstik flower

Ini namanya pohon lipstik, apakah anda pernah melihatnya? Tanya Guide Juma, Saya jawab ya. Sebagai ketua penyuluh saya kenal, kalau di Indonesia namanya pohon “kutek” dan kita gunakan sebagai pewarna main-mainan. Syarif menjelaskan guna buah lipstik. Kemudian datang temannya dan demo penggunaan buah kutek sebagai gincu bibir, titik dikening.

Setelah selesai buah lipstik, kami dibawa keliling berturut-turut ke pohon belimbing, sereh wangi, belimbing wuluh, lengkuas, kulit manis, vanili, lada, buah pala, kapulaga, dan akhirnya istrahat di bawah pohon kenanga. Syarif [22] sangat menguasai cerita setiap tanaman, manfaat, sejarah, produksi, prosesing yang ditunjukkan pada kami.

Tak terasa sudah 1 jam berlalu. Saya khawatir terlambat tiba dihotel. Saya katakan tidak usah kita lanjutkan, cukup sampai di sini. Sepintas saya hanya melirik pohon jati, pisang, ketela, yang ditanam tidak beraturan dan kualitasnya juga tidak baik.

Barulah di bawah bunga kenanga ada yang membawa parfum buatan rakyat setempat. Mereka bilang bunga-bunga ini setelah dikeringkan diproses di ekspor ke Prancis. Kemudian di sana diolah jadi parfum terkenal dan sangat mahal harganya.

Namun di Zanzibar karena mayoritas Muslim tidak suka dengan parfum beralkohol. Silakan pilih yang mana, vanila, kenanga, rose, dan lainnya. Akhirnya karena tidak banyak waktu saya ambil 3 botol kecil, seharga TS 30.000,- Tanzania Shiling [TS], sekitar Rp 180.000,- [ 1 TS = Rp 6,-]. Ada juga minyak cengkeh, sabun dan lainnya buatan masyarakat setempat yang ditawarkan untuk oleh-oleh.

Atraksi Kelapa

Sebelum meninggalkan lokasi, Syarif minta waktu sejenak karena ada temannya yang ingin memberi kenang-kenangan. Apa itu? This is to memorize you to our village, you will wearing tie, crown which hand made from coconut leaf. Saya dan istri kemudian dipakaikan dasi, topi, dan mahkota yang mereka anyam sendiri dari bahan daun kelapa, foto untuk kenangan.

Sambil dipasangkan dasi, teman Syarif tadi demo kelincahan memanjat pohon kelapa dengan cepat sambil bernyanyi lagu-lagu daerah. Layaknya senandung di desa kita di Indonesia. Turun dari pohon kelapa, sebuah kelapa muda mereka kupas dengan cepat. Akhirnya, minum air kelapa muda yang segar, dan memakan daging buahnya sekalian.

Ketika saya tanya Syarif, berapa tarif jasa sebagai pemandu untuknya dan teman-temannya? Dia jawab, up to you sir, we just want to make you happy visit our place. So, we don’t have any rate for visitor. Bah, sulit juga ini pikir saya. Sistemnya hanya tip saja. Anda puas, kami bangga.

Akhirnya untuk mereka bertiga saya beri ST 10.000 per orang, atau sekitar Rp 60.000 per-orang. Dari mulai masuk pekarangan, parkir mobil, dan guide sampai suguhan air kelapa muda, tidak ada tarifnya. Syarif antarkan kami ke mobil, hingga kami masuk ke mobil dan dia tutupkan pintu dengan sopan,

Assalamualaikum, assanti, katanya. Saya jawab Karibu, Asana. Kamipun meninggalkan Kizimbani Spice Farm yang mengesankan itu. Indonesia Mega Rempah, kurang Kemasan dan Promosi. Melihat realita di Kota Zanzibar, tentu menjadi tantangan buat Indonesia terutama para penyuluh pertanian didesa.

Potensi kita luar biasa dalam segala hal dibanding Zanzibar. Jenis tanaman, pola dan produktivitas. Tata guna dan olah lahan dan keunggulan lainnya. “Sayangnya belum dikemas dan kurang dipromosikan dengan optimal,” ujar H Soekirman.

Dengan sedikit rasa heran, Bupati mengatakan, bayangkan saja Desa Kizimbani, dibanding desa yang ada di Indonesia seperti di Sergai jangankan 1 atau 2 jam, untuk wisata 1 hari disebuah desa tidak akan kekurangan atraksi.

Di desa Melati II Perbaungan sebagai contoh, selain melihat tanaman padi dengan segala proses, ada sayur-mayur, ada ternak unggas atau ruminansia, bahkan berbagai jenis ikan untuk dipancing, taman hewan, kesenian rakyat, kerajinan desa, proses susu kambing, telur asin, bibit durian musangking, pabrik mesin pertanian, dan panorama desa panting kleset dan lainnya.

Belum lagi dikaitkan dengan desa sebelah Pegajahan ada salak, aneka makanan kripik dan opak, desa budaya Bali, buah-buahan di Sukasari rambutan, durian dan pisang. Desa wisata lain Buluh Duri di Sipispis, terkenal sebagai arena Arung Jeram, ada pula heritage perkebunan N3 Pamela peninggalan Belanda dengan produksi karet, dan berdekatan dengan sentra buah duku dan pisang barangan di Simalas Kecamatan Sipispis.

Ikan air tawar selalu tersedia sepanjang waktu. Apa yang kurang dibanding Zanzibar? “Dalam hal ini Perhiptani harus siap lakukan reformasi penanganan ekonomi kreatif desa dengan mengelola potensi wisata tani.

English farming harus diadakan agar semua penyuluh bisa menjelaskan dalam bahasa Inggris yang baik. Koordinasi dengan organisasi profesi lain seperti HPI, ASITA, FAJI, ALGOA, harus dilakukan,” tutur Bupati Soekirman penuh semangat.

Kalau Desa Kizimbani Zanzibar dalam waktu 1 jam bisa hasilkan TS 60.000 atau Rp 360.000,- tentu desa wisata Sergai bisa seperti itu. Tinggal ide dan inisiatif yang perlu dikembangkan. Apalagi Desa Melati II sudah disentuh oleh Kemendes RI melalui PIID-PEL [Program Inkubasi Innovasi Desa-Penguatan Ekonomi Lokal].

Demikian juga Buluh Duri yang telah berhasil menyabet juara II desa Innovasi TTG tingkat Provinsi Sumut 2019 pasti lebih mudah berkembang. “Ayo Perhiptani, singsingkan lengan baju, buka mata dan telinga, ciptakan ekonomi kreatif,” ajaknya.

Dikemukakannya, bersama masyarakat desa jangan hanya banyak pendapat, tetapi juga banyak “pendapatan”. Tiba kembali di loby hotel Zanzibar Beach Resort persis pukul 13.30 p.m. Total biaya yang saya keluarkan untuk sewa mobil, tip supir, dan atraksi di desa TS 200.000 atau setara Rp 1.200.000,- dengan rincian sewa mobil TS 120.000 plus atraksi didesa TS 60.000 dan tip supir dan beli makan minum dijalan TS 20.000,-

Untuk kunjungan pendek tentu biaya tersebut terbilang mahal, karena saya dua orang bersama istri berarti Rp 600.000,-/orang. Untuk sebuah observasi pendek, tentu hal ini tidak mahal, plus kepuasan atas ramah tamah dan rasa simpati yang diperankan Syarif dan teman-temannya di Desa Kizimbani Spice Farm. Mari kita coba di Indonesia, kita belum terlambat, demikian dijabarkan Bupati Soekirman. *Inc-14