Ilustrasi. Istimewa

Afganistan-Intainews.com:Diberitakan media massa, Taliban menculik enam wartawan Afghanistan yang bekerja untuk organisasi media swasta dan pemerintah di Provinsi Paktia Timur, kata pejabat pemerintah dan Taliban, Sabtu 7 September 2019.

Terkait tindak kekerasan terhadap wartawan, dalam bentuk penculikan tersebut, Ketua Dewan Etik Ikatatan Wartawan Online [IWO] Medan, Sumatera Utara, Indonesia As Atmadi SP menyebut, tindakan penculikan sebagai reaksi dari pemberitaan, perbuatan tidak dibenarkan dan melanggar HAM.

Menurut wartawan senior dan Dosen Universitas Sumatera Utara [USU] ini, freedom of the press hak konstitusional negara melindungi aktivitas wartawan. Maka wartawan senantiasa mengawal demokrasi yang beradab.

Diketahui Para wartawan, yang bekerja untuk perusahaan berita radio dan TV yang menyiarkan berita dalam bahasa Pashto dan Dari, mereka diculik saat bepergian bersama dari provinsi tetangga Paktika ke Paktia untuk menghadiri lokakarya media pada hari Jumat [6/9/2019].

“Kami berusaha untuk merundingkan pembebasan mereka dengan Taliban,” kata Abdullah Hasrat, juru bicara gubernur Paktia. Seorang juru bicara Taliban mengonfirmasi penculikan enam wartawan oleh pejuang mereka, namun mengatakan mereka akan segera dibebaskan.

“Ya, mujahidin kita [pejuang] telah secara keliru menculik mereka,” kata Zabihullah Mujahid, juru bicara kelompok gerilyawan garis keras. Informasi diterima Intainews.com, Minggu 6 September 2019, saat ini layanan seluler tidak berfungsi.

“Tetapi mereka akan segera dibebaskan setelah kami melakukan kontak dengan komandan setempat,” ucap Zabihullah. Afghanistan adalah negara paling mematikan di dunia bagi mereka yang menjadi jurnalis pada 2018, dengan 13 kematian menurut Komite untuk Melindungi Jurnalis [CPJ].

Federasi Jurnalis Internasional mengatakan 16 wartawan tewas tahun lalu. Pada Juni, Taliban mengeluarkan ancaman terhadap media Afghanistan, dengan mengatakan bahwa para wartawan akan menjadi sasaran kecuali jika saluran berita berhenti menyiarkan apa yang mereka sebut sebagai propaganda pemerintah terhadap para pemberontak.

Kala itu, organisasi media diberi waktu satu minggu untuk menghentikan penyiaran “iklan anti-Taliban” oleh komisi militer kelompok itu, sebuah peringatan yang dikecam oleh pemerintah Afghanistan dan para diplomat Barat.

Pada 2016, seorang pembom bunuh diri Taliban menabrakkan mobilnya ke dalam bus yang membawa karyawan Tolo TV, penyiaran swasta terbesar di negara itu, menewaskan tujuh wartawan.

Taliban mengatakan mereka membunuh para karyawan karena Tolo memproduksi propaganda yang mendukung pendudukan Afghanistan oleh Amerika Serikat dan sekutunya dalam perang mereka melawan para pemberontak. *Inc-22

  • Bagikan berita ini