Milisi Iran, siap menghadapi AS. Foto Istimewa

Intainewa.com:Hubungan Iran dan Amerika Serikat (AS) makin panas, seperti sedang di ambang peperangan. Kondisi itu dipucu pesawat pengintai tanpa awak Global Hawk milik AS seharga 176 juta dolar ditembak jatuh di selat Hormuz yang memisahkan daratan Iran dan jazirah Arab pada 20 Juni 2019.

Itu adalah serangan langsung pertama sejak 2016 saat kedua negara ini mulai bersitegang. “Iran membuat kesalahan besar!” Donald Trump berseru di akun Twitternya di hari penembakan Global Hawk. Baik Washington dan Teheran sama-sama ngotot menyalahkan dan membenarkan. Iran menyebut Global Hawk sudah masuk ke wilayah Iran dan sah untuk dijatuhkan, sedangkan AS bersikukuh pesawatnya masih berada di zona internasional.

Hajizadeh mengatakan pihaknya sebenarnya bisa saja menembak pesawat pengintai P8 berawak yang mengawal Global Hawk dan diidentifikasi berisi sekitar 35 kru. Namun, mereka sengaja tidak melakukannya. “Kami menembak pesawat tanpa awak,” ujar Hajizadeh.

Hari-hari selanjutnya, Iran dan AS terus terlibat adu mulut saling mengancam. Mike Pompeo, Menteri Luar Negeri AS, telah menggalang kekuatan membentuk koalisi. Di pihak Iran, mereka berkali-kali menegaskan bahwa kekuatan tempur mereka siap sedia jika diajak duel Paman Sam.

Kini, keputusan AS untuk menyerang Iran diyakini tinggal menunggu telunjuk persetujuan dari Trump saja. Suasana seperti mendidih sejak Trump Jadi Presiden Dalam kurun waktu enam dekade terakhir, Teheran dan Washington mengalami pasang surut hubungan.